Kamis, 01 Desember 2011

Isu di November 2011

Aku mungkin jadi orang paling terakhir yang memiliki kepedulian atas yang terjadi di dunia Indonesia. Ada tiga isu yang terasa seru dan menantang untuk dibahas. Pembunuhan satwa yang dilindungi, pernikahan anak Presiden dan Menteri, dan runtuhnya jembatan.

Aku mencoba membahas dengan kata yang positif. Bagi orang lain, mungkin akan memilih kata yang bermakna negatif. Menjadi perhatian juga mengenai kebiasaan kita membicarakan suatu hal dengan makna yang positif, ini juga suatu latihan bagiku. Lalu bagimana dengan kritik? Ah! Belum apa-apa sudah mau mengkritik, dimana niat baik manusia?

Hal satu berkaitan dengan lingkungan hidup. Hal kedua terkait hubungan sosial masyarakat. Hal ketiga berhubungan dengan keilmuan teknik sipil. Kesamaan dari semua itu adalah semua terkait kehidupan manusia. Manusia sebagai pelaku kejahatan, manusia sebagai makhluk sosial, juga tentang manusia dan keilmuannya. Semuanya terjadi di Indonesia.

Minggu lalu, banyak pemberitaan tentang perusahaan minyak milik Malaysia di Kalimantan melakukan pembantaian orang utan. Hewan yang dilindungi oleh Republik Indonesia itu dianggap sebagai hama karena mempengaruhi hasil panen. Perburuan ini seperti perburuan harta. Di media elektronik, dinyatakan bahwa bagi mereka yang membunuh dan membawa bangkainya akan diberikan imbalan Rp. 200.000 - Rp. 1.000.000. Perkara serius!

Ditemukan lebih dari 80 potongan tulang rangka orang utan, monyet, dan bekantan. Ada pula bukti foto peristiwa pembantaian atau pembunuhan satwa-satwa tersebut dan juga catatan pembayaran imbalan untuk bangkai satwa-satwa itu. Apa yang hendak ia nyatakan melalui pembunuhan itu? Bahwa kekuatan ekonomi memiliki kekuatan tiada batas?

Kelalaian atas pengawasan perburuan menjadi perhatian. Kepentingan akan keberadaan species dan populasi dipertanyakan. Apa manusia memang ingin hidup sendiri di dunia ini? Kalau memang ingin egois, itu lain hal. Kalau memang seegois itu berarti tidak percaya Tuhan. Kalaupun tidak percaya Tuhan mungkin masalah pribadi tapi kalau tidak percaya juga dengan keseimbangan alam semesta. Jadi? Apa yang dia (pemburu) percayai benar-benar menimbulkan pertanyaan. Bahkan hukum yang disepakati oleh para manusia pun diabaikan. Entahlah.

Manusia sesungguhnya saling membutuhkan. Sesederhana itu. Anaknya presiden, aja, butuh istri, kok. Kenapa anak Presiden menikah banyak heboh, ya? Mungkin baiknya aku tidak menggunakan kata banyak, toh, heboh juga sudah mengisyaratkan sesuatu yang banyak. Ada yang protes kalau perayaan pernikahan itu menghabiskan banyak uang. Ada yang senang melihat kemegahan perayaan. Ada juga yang tidak peduli. Sudah lewat. Terserah anda, kamu, dan kalian semua.

Menarik untuk dilihat adalah kain tradisional yang semua orang pakai di acara itu. Kain songket yang mereka gunakan ketika acara akad nikahnya, luar biasa menggoda. Andaikan aku bisa memiliki kain seperti itu, serasa orang kaya. Songket yang dibuat dengan kerapian dan waktu yang lama. Penghargaan terhadap proses. Ke-Indonesia-an yang cukup. Sekarang orang bisa melihat perayaan itu sebagai salah satu contoh menggunakan tradisi adat, walau sebagian, bisa memberikan sentuhan yang menarik dalam acara.

Selesai mengomentari jumlah dana yang dihabiskan dalam acara penyatuan keluatga dan dua insan, sebuah jembatan runtuh. Korban jiwa, korban mobil, dan korban keserakahan. Mungkin karena terlalu serakah, ketika membangun tidak begitu banyak pertimbangan mengenai skenario terburuk, jembatannya runtuh. Teringat kembali ketika menonton acara di saluran yang ada di saluran berbayar, pembangunan jembatan dianggap suatu hal yang super serius. Didokumentasikan dengan baik dan kemudian disebarluaskan sampai berulang kali diputar secara internasional. Kalau pembangunan tiap jembatan besar di Indonesia dibayangkan atau dibuat dokumentasi yang akan disebar secara internasional, mungkin perhatian para stakeholder lebih waspada. Pembangunan yang menjadi kebanggaan nasional. Semoga kalau Jembatan Selat Sunda berhasil dibangun, itu benar akan menjadi kebanggaan nasional.

Sekiranya itu yang bisa aku tuangkan. Lebih kurang silakan dicari kebenarannya melalui berita terkait lainnya di media massa atau media yang anda, kamu, dan kalian percaya. Tulisan ini sekedar celotehan pikiran tanpa belenggu.

Buat bangsamu bangga!
MERDEKA

Kamis, 24 November 2011

Bandung: Riau-Cihampelas

Aku dan sahabat baikku sedang menikmati kota Bandung. Malam itu, kami berencana untuk menuju Cihampelas Walk, menikmati kota secara kapitalis hedonis tapi kere. Kami berangkat dari tempat kami menginap, di Jl. R.E. Martadinata (yang lebih dikenal dengan Jl. Riau). Dikarenakan bulan sudah menunjukkan dirinya di waktu malam, kendaraan umum agak sulit untuk didapat. Tak lama dari perbincangan rencana keberangkatan, kami pun mendapatkan taksi.

Ini kebiasaan yang saya lakukan ketika masuk dalam taksi, mengucapkan salam dan memulai percakapan. Kenapa? Supaya tetap waspada. Dengan perbincangan, kita bisa melihat kemampuan dia memilih kata dan kesantunan dia dalam berinteraksi. Sederhananya, hanya untuk menghargai hidup. Sebuah cerita harus diucap agar menjadi kisah hidup.

Diawali dengan armada taksi yang dia bawa, tampak baru bagi saya. Maklum, sudah lama tidak bertegur sapa dengan bandung. Armada taksi itu belum genap setahun. Kemudian, dengan rasa penasaran saya mengenai sistem perekrutan di perusahaan jasa taksi, saya pun menanyakan sejarah pekerjaannya.

Ternyata, sebelumya dia bekerja sebagai supir. Beberapa kota besar dia sebutkan sebagai kota tempat dia bekerja. Sampai pada kisah mengenai satu waktu, kerusuhan Mei 1998. Pada waktu itu dia bekerja sebagai supir yang juga bisa dibilang sebagai orang kepercayaan, bosnya keturunan Tionghoa. Dia juga keturunan Tionghoa. Seperti yang banyak dikisahkan, situasi ketika itu begitu menegangkan. Ancaman berkali lipat bagi para keturunana Tionghoa, sampai sekarang pun luka itu masih ada.

Dia menceritakan kejadian yang dia alami ketika itu. Sehari sebelum bentrok terjadi, seorang temannya dari Bandung mendatangi kostannya, temannya membawa mobil. Kalau tidak salah ingat, ia tinggal di daerah Tanah Abang. Di pagi hari, temannya sedang pergi meminjam motornya. Ketika itu suasana mulai tegang. Dia buru-buru memindahkan mobil temannya. Dia mengenakan pakaian seadanya, kaos dalam, jaket, dan celana pendek. Untungnya, ketika dia keluar, temannya datang. Motornya dia masukkan ke dalam kamar, dan mereka pun bergegas meninggalkan tempat.

Ketegangan begitu terasa dalam kisahnya ketika dia memilih rute yang akan dia pilih. Berusaha menghindari keramaian dan kerusuhan yang terjadi. Ketika dia masuk tol, mobil militer datang menghampiri dan menanyakan tujuannya. Kemudian dia pun dipandu oleh petugas militer tersebut untuk memastikan keamanannya. Perjalananpun ia lanjutkan. Satu waktu, dia hendak membuang air kecil, karena suasana yang begitu tegang, dia lakukan itu dari atas atap mobilnya dengan pemandangan kerusuhan luar biasa. Dari jalan tol itu dia bisa melihat kebakaran dan penjarahan lainnya.

Malamnya dia sudah berada di Bandung. Hari kedua dia ditelepon oleh bosnya untuk kembali ke Jakarta. Keadaan mulai terkendali. Dia diminta untuk menjaga rumah kediaman bosnya karena bosnya melindungi diri dan keluarganya menginap di hotel dekat bandara. Dia banyak beraktivitas di halaman rumah, tidak tinggal di dalam rumahnya.

Kesan yang kudapatkan begitu luar biasa. Siapa yang mengira akan mendapatkan cerita begitu hebat pada malam itu? Supir ini adalah orang yang berloyalitas tinggi, kesimpulan diambil atas ceritanya ketika menunggu kediaman bosnya. Dia juga bukan orang yang mudah takut, toh, dengan pergejolakan ketika itu dia masih mampu menguatkan hatinya untuk terus melanjutkan perjalanan ke bandung, bukan juga menjarah atau membuat keadaan lebih buruk.

Kita tidak akan pernah tahu kalau kita tidak bertanya. Kita mungkin tak akan tersadar kalau kita tak mendengar. Maka bertanyalah, dengarkanlah kisahnya. Agar nanti kita makin tahu dan kita makin bijak.

Ini bukan kali pertama saya mendengar cerita tentang Mei 1998. Bagi pribadi yang memiliki kenangan istimewa di waktu itu, entah mengapa tampak itu membentuk suatu kepribadian dalam diri mereka. Ini seperti penggalan sejarah di dalam tiap pribadi manusia Indonesia. Subjektivitas begitu kental di tiap cerita dan itu yang membuatnya lebih hidup. Malam itu, ceritanya bertambah satu.

Bapak Chandra telah menambah perjalanan saya dan teman saya lebih berarti. Terima kasih atas ceritanya. Semoga kebaikan terus menyertai Bapak.

Jumat, 04 November 2011

Cerita Perempuan

Minggu lalu aku membaca buku. Penulisnya adalah Pramoedya Ananta Toer, judul bukunya Catatan Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer. Buku ini dipilih karena saya membutuhkan inspirasi tambahan dan stimulasi yang tepat bagi perkembangan otak.


Penggalan cerita, yang ditulis di belakang buku, mengetuk hatiku dan menarik perhatian dompetku untuk membelinya. Dia bilang,
"...kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang biasa menimpa para gadis seumur kalian tahu tentang nasib buruk yang biasa menimpa para gadis seumur kalian, juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu.... Surat kepada kalian ini juga semacam pernyataan protes, sekalipun kejadiannya telah puluhan tahun lewat..."


Membiarkan juga bisa menjadi tindak kriminal. Jika aku berdiam diri dan mengabaikan adanya buku ini, berarti aku mengabaikan adanya kemalangan yang dulu pernah terjadi. Ini adalah surat peringatan. Seperti kepanikan seketika akan melanda. Sesuatu menjadi perhatian, perempuan harus lebih peka terhadap diri dan kaumnya.

Hal yang paling menjadi perhatianku adalah bahwa generasi terbaik Indonesia dihilangkan oleh Jepang. Putri-putri petinggi, putri-putri terbaik yang bercita-cita untuk menjadi pemimpin dikarenakan kebohongan, mereka menderita kemalangan. Gen-gen terbaik yang dulu pernah ada, tidak dapat dilanjutkan karena mereka menghilang. Mereka menghilang bukan atas kemauan tapi karena kebohongan dan kekejaman. Mereka adalah gadis-gadis yang hendak menjadi pemimpin bangsa tidak mampu kembali dan menjadi yang seharusnya. Mereka yang berasal dari kalangan berada, bisa saja menjadi nenek buyut kita. Mereka bisa saja yang menjadi inspirasi dalam keluarga dengan mengajarkan ilmu yang mereka miliki. Sebelum mereka membuahkan karya, mereka digagalkan oleh janji palsu.

Kita kehilangan (calon) pemimpin perempuan yang cemerlang. Kalau kita andaikan para generasi ketika itu benar bersekolah, mereka pastinya akan kembali demi kebaikan. Kalau memang kebaikan ditegakkan, semoga kita lebih mudah untuk menjadi bangsa yang maju. Keterlibatan perempuan dalam perkembangan bangsa dan negara dapat lebih signifikan. Kita bisa saja memiliki teladan terbaik di dalam lingkungan keluarga terdekat. Aku bisa saja memiliki nenek buyut yang bersekolah kebidanan di masa Jepang. Kamu juga bisa saja memiliki nenek buyut terpintar di kampung halaman. Namun itu semua pengandaian, kenyataan berbeda.

Dalam buku itu, Pram juga menyatakan bahwa berikutnya adalah tugas bagi kita semua melanjutkan apa yang telah dia mulai. Kita patut juga mencari para putri yang hilang dan menegakkan keadilan atas hak asasi yang tertindas oleh tentara Jepang. Ini masalah bangsa, kita sebagai generasi bangsa harus berjuang.

Menuliskannya ke dalam blog ini adalah salah satu perjuangan yang dapat kulakukan. Menyatakan hal yang dapat dibagikan kepada publik bahwa bangsa Indonesia seringkali mengabaikan sejarah. Sejarah bukan hanya cerita heroik tapi juga cerita kepedihan yang membisik.

Namun, apalah arti tulisan ini kalau yang membaca tidak kembali memaknai tentang ini dan meneruskannya kepada yang lain. Kepatutan kita sebagai manusia membela yang baik bagi manusia lainnya. Menjalani hidup dengan kebaikan. Memilih jalan yang baik bagi kita dan semoga baik juga bagi orang yang ada di sekeliling kita. Kearifan dalam mengambil hikmah dalam tiap torehan interaksi dan renungan peristiwa.

Ini bukan sekedar cerita lalu, ini tentang bagaimana di masa datang. Akankah kita selalu membiarkan keburukan terjadi di sekitar kita? Akankah kita menjadi pribadi terbaik yang kita mampu capai? Mampukah kita menjamin kebaikan bagi generasi penerus?

Semoga yang pernah terjadi hanya menjadi rekaman sejarah. Kejadian buruk berhenti. Kebaikan akan terus diputar dari waktu ke waktu. Ini bukan sekedar tentang perempuan,  ini tentang manusia, manusia Indonesia.

Kamis, 27 Oktober 2011

Kami (Aku) Kehilangan

Hari Minggu, 23 Oktober 2011 adalah hari Minggu yang sulit untuk dilupakan. Rentetan waktu yang teracakkan oleh emosi yang bergejolak di hari itu. Pagi itu, sekitar jam 09.10 WIB, Sidahku meninggal dunia.


Ketika aku memasuki ruang tidurnya, aku hanya bisa menitikkan airmataku. Badannya sudah tidak melakukan apapun. Tanteku memegangi tangannya, Wak Ibu memegangi mulutnya. Dia telah pergi. Jiwa dan raganya telah berpisah.

Dia yang bernama Hj. Aliyah binti Muhammad Hasan meninggal di usia 88 tahun. Ia dan suaminya, Amir Hamzah Djauhari bin Saleh memiliki 6 orang anak, 5 orang menantu, 17 cucu, 6 cucu menantu dan 12 cicit. Cucu laki-laki pertamanya bernamakan Amir, dan cucu perempuan pertamanya bernama Alia (kakakku yang tertua).


Sebagai cucunya, sosok yang kudapatkan dari seorang Sidah adalah dia orang yang selalu tertawa dan tersenyum. Seumumnya seorang nenek, memiliki kehangatan yang lebih untuk cucunya. Sering melihat sepupuku bercanda ria dengannya, diapun membalas dengan tertawa ringan.

Belakangan dia menggunakan kursi roda karena tulangnya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Awalmya, dia sering menolak atas alat bantu itu, kelamaan dia juga memahami tubuhnya yang melemah seiring bertambahnya usia. Kalau dia sedang duduk di kursi, salah satu cucunya terkadang bermain dengan kursi rodanya.

Hari ketiga setelah dia pergi, papaku masuk ke kamar yang biasa Sidah tempati. Dia keluar dan berkata, "Eh, Ummi udah ga ada.". Cicit-cicitnya yang rajin mengunjunginya juga memiliki kebiasaan, "Uyut mana?". Hanya satu kalimat tanya sederhana. Menjadi pengingat yang tadi ada, sudah pergi. Dimas, keponakanku itu, belum pula genap berumur 3 tahun. Dia kehilangan satu kebiasaan yang dia lakukan ketika mampir ke rumah Atu-nya, mencium tangan Uyut.

Aku merasa iri dengan sepupuku yang lain. Mereka tampak memiliki kedekatan yang lebih dibandingku. Mereka memiliki cerita yang aku tidak miliki. Aku hanya memiliki kurma, pisang, pepaya, sawo, atau buah lainnya yang kadang kuantarkan untuknya. Entah benar atau tidak, kurasa buah yang paling dia suka adalah pepaya dan sawo. Sayang yang penuh cinta kan kukirim untuk Sidah dan Sidi, semoga mereka terus memberikan kekuatan dan inspirasi dalam hidup.

Kami semua mengecup keningnya untuk terakhir kalinya. Semuga Allah SWT memberikan keringanan bagi Sidahku. Beliau dimakamkan di pemakaman keluarga, Kotabumi, Lampung Utara.

Hj. Aliyah binti Muhammad Hasan
Sidah dan Sidi bersatu kembali, setelah 11 tahun terpisah.

Kamis, 20 Oktober 2011

Gemar Makan

Ternyata aku sangat gemar makan. Bukan sekedar untuk kebutuhan biologis tubuh sebagai sumber tenaga. Menikmati makanan itu memiliki kebahagiaannya. Memakan makanan enak membuatku menjadi lebih menghargai hidup.

Ini juga yang mungkin menjadi pembenaran jika berat badanku naik. Tidak masalah. Selama hati senang, dunia kan terasa damai. Paling seru kalau punya teman makan yang juga suka makan, makin rusuh, deh, makannya.

small cupcakes
Minggu lalu aku pergi ke Jakarta. Alasan utamanya adalah untuk menghadiri pernikahan sepupuku. Aku memiliki kebiasaan untuk memiliki beberapa tujuan dalam satu perjalanan. Sudah sekian lama penasaran dengan cupcake-nya Jollyroo. Mungkin gara-gara nonton DC Cupcakes, membuat rasa penasaran semakin tinggi akan cupcakes. Ketika masih di Lampung, aku memesannya. Dengan bantuan teman yang baik hati, aku bisa mengambil pesananku, 25 buah cupcake dengan 9 rasa. Seru yah? Ada yang rasa green tea, red velvet, blueberry, strawberry, carrot, dan masih banyak lagi (berasa bahasa iklan). Karena kecil, dua kali gigit sudah habis dan beralih ke rasa yang lain. Untung sempat difoto, hampir khilaf melahap semuanya.

Ramen at Senpachi 38 - Plaza Pondok Indah
Rasanya lapar kalau belum memakan porsi makanan yang tepat. Titik pemberhentian berikutnya adalah Senpachi 38. Restoran itu selalu memiliki kenangan karena pertama kali makan (di gerai yang berbeda) bersama sahabatku dan dia menceritakan tentang restoran ini dengan mata berbinar-binar. Sayangnya, kemarin aku lupa menu apa yang aku pesan. Rasanya istimewa, walau agak janggal bagi lidahku tapi bagiku tetap menyenangkan.

Di hari terakhir, aku jalan-jalan sendirian. Kalau siang patutlah kita mencari makan siang. Teman baikku bilang, "Katanya Mr. Curry enak tuh!". Berdasarkan rekomendasi itu, ketika aku melihat ada Mr. Curry, aku langsung menghampiri. Ternyata mereka mempunyai paket makan siang. Hore! Walau tidak pernah terasa menyenangkan makan sendirian tapi semua itu enak!

Fish Katsu Curry Rice - Mr. Curry
Terakhir, sebelum menuju bandara, aku mampir sekejap di Tea Party Cupcakes. Aku membeli 3 buah cupcakes dengan 3 rasa (Red velvet, hazelnut, dan green tea) sebagai oleh-oleh untuk adikku.
Green Tea flavor - Tea Party, Jakarta Selatan

Kalau mau hidup enak, makan enak, dong!

Rabu, 19 Oktober 2011

Sesuatu Menggelitik


Ketika kita melintas di jalan yang melewati desa atau perkampungan, sering membuat merindu. Suasana itu mampu menggiring kita dalam keterasingan. Apa yang membuat mereka menjadi asing? Karena mereka memiliki bangunan rumah yang berbeda, cara berpakaian yang berbeda. Membuat kita merindu akan kenangan.

Kota yang kita tinggali seperti mengalami perubahan sebagaimana mestinya. Tidak pernah terlibat khusus dalam perbincangan atau perdebatan terkait sejarah perkembangan perkotaan. Yang terasa sekarang, perubahan terjadi karena pergantian pemimpin, entah dalam aspek atau wilayah manapun.

Secara global, banyak orang memberi pandangan bagaimana suatu perkembangan di negara akan mempengaruhi negara yang lainnya. Dalam teknologi, hal itu yang mempermudah kita untuk mengakses informasi, apapun informasi yang kita butuhkan. Dengan begitu, sudah sepatutnya kita lebih pandai dari generasi kita sebelumnya.

Masihkah kita hendak bertanya pada yang tua?

Perjalanan bulan ini, mendorongku untuk memiliki perbincangan dengan orang yang hidup di bukan daerah perkotaan besar. Sekedar menanyakan kabar, berbasa-basi. Kesederhanaan yang mereka miliki menjadi ketertarikan tersendiri. Kalaupun tidak sederhana, selalu menyenangkan mendengarkan cerita yang berbeda dengan pengalaman kita.

Seorang bapak tinggal di tepian danau, ia tinggal bersama keluarganya. Mereka tinggal di rumah kayu. Tanamnya ditata dengan rajin, penuh dengan bunga. Tidak berlebihan. Secukupnya saja. Ketika aku hendak ke kamar mandi, aku melintasi ruang keluarganya. Beberapa anggota keluarganya sedang menonton televisi dan televisinya layar datar yang berukuran besar! Luar biasa.

Aku pun kemudian bertanya tentang aktivitas yang dia kerjakan. Dia menceritakan dengan kerendahan hatinya tentang keramba ikan yang dia miliki. Tempatnya dulu bukan rumah yang sekarang dia tempat. Dia bilang, "Makanya saya bilang rumah ini rumah ikan karena hasil dari ikan itulah saya bisa bikin rumah ini.". Hasil panen ikannya berton-ton, satu kilogram ikan nila itu memiliki harga jual sekitar Rp. 25.000, tergantung harga di pasar. Ketika ramadhan tiba, panen terkadang tidak sesuai dengan berat ikan ideal. Itu berarti dengan kehidupan yang seperti dia jalani mampu menghidupi keluarganya.

Kalau aku tidak bertanya? Tahukah aku tentang kisah itu?

Kadang membuat terpikir, mungkin itu salah satu peluang yang patut dicoba, berternak ikan. Kalaupun memang iya hendak dilakukan, sepertinya saya harus belajar banyak. Tiap dari kita memiliki kisahnya sendiri. Mungkin kalau kita mendengar lebih banyak, kita bisa belajar lebih banyak.

Rabu, 14 September 2011

Lost My Mind

I lost.

Back then, I was planning on dreaming my wedding will be. Typically theme of thoughts that are sounding around the people, wedding. This month, my best friend will celebrate her wedding. After long road of negotiation and planning, the time is ripe for her.

How about me? Earlier in this year, my parents said, "It would be nice if you get married this year." I was hoping somebody will soon propose me to be his wife. The reality -as usual, keeps ruining my dreams-, was not happening. Maybe there are wrongs in me. Whatever. Maybe God just want to say, "Just relax, Gita. Time will come". Until last week, I still believe that somehow, I might achieve it. Why? Because some people said about The Secret, the power of minds, when we are thinking about something it means we are sending energy to others in this entire world. As consequences, the energy will come back to us. Or I was not giving big and large enough of praying and wishing. If I think about why there are no single man would be happy to be my husband, then I could kill myself. It is unnecessary thoughts, though it scrams into my mind.

Suddenly this blog having too much drama.

Yes. I hate being alone. I love to have my friends being around me. Even only going to ATM, I want a friend  to be with me. Simple solution: get a personal assistance but it would be very costly. When I am alone, it is hard for me choosing what I should do.


In the middle of nowhere, which actually in my car, my mum said, "Your father said, take your time.". And the confusion starts to follow.

The urgency come when we decided it. It is still and always be an ordinary thing when we think that is an unnecessary. So, what will I do? I'm just hoping for the best. I want to be the best of me. Hope God will lead the way.

It takes two to tango.

Minggu, 04 September 2011

Lebaran Kali Ini

Lebaran kali ini berbeda seperti biasanya. Esensi yang sama, hanya saja rekaman-rekaman peristiwa yang berbeda. Waktu terasa perlahan berlalu.

Sebelum terjabar begitu luas, aku hanya ingin menceritakan hidup manusia. Sekelompok manusia di bawah atap yang sama, memiliki hubungan darah. Sekelompok orang yang memiliki interaksi unik diantaranya.

Biasanya, ada satu waktu ketika kita semua heboh membereskan barang. Menyingkirkan yang sudah diluapak sejak lama, memilih kertas-kertas ataupun barang yang mungkin dirasa akan ada gunanya. Jatah aku hanya membuat sofa yang sudah bertahun umurnya tampak lebih indah di mata. Hanya menggunakan kain panjang yang diselipkan diantara sela. Memberikan warna yang berbeda di ruang tamu.

Papaku, yang biasanya bersantai, tahun ini dia dengan giatnya merapikan segala yang bisa dia rapikan. Sampai pada saat dia mengganti meja televisi yang sudah melengkung dan menambah lemari untuk penyimpanan. Itu juga ditambah dengan pengganti kipas angin yang sudah berbau gosong dengan kipas angin yang menempel dinding.

Rumahku selalu membuat kue kering. Kalau tidak dibikin, abangku bisa protes dan membuat mamaku kembali membuat adonan mentega, gula, dan telur itu dikocok oleh mesin pengocok. Kuenya tidak pernah susah, hanya nastar, kue keju, dan putri salju. Tahun ini, bertambah satu jenis: sagon bakar. Biasanya, aku juga ikut membantu tapi sekarang tidak begitu. Biasanya selalu tergoda ketika itu baru dipanggang. Entah mengapa, aku kehilangan masa-masa menghirup kue yang baru selesai dipanggang.

Aku dan adikku, tahun ini diberi berlimpah rejeki oleh Allah SWT. Senangnya. Hari menjelang lebaran disibuki oleh pemenuhan pemesanan cupcakes dan cookies. Menyenangkan.

Tamu papa juga tidak sebanyak dulu sebagai gantinya, tamu yang datang adalah tamu anak-anaknya. Saat berkumpul dengan teman-teman, banyak dari mereka sudah berkeluarga dan datang bersama anak mereka. Lucunya anak-anak kecil itu. Topik-topik pembicaraan juga sudah bergeser. Masih untung topik tidak membicarakan pekerjaan dan solusinya.

Yang paling menyenangkan adalah foto keluarga. Foto keluarga tahun ini, anggota keluarga besar Anshori Djausal lengkap, sampai dengan empat orang cucunya. Untuk menjadikan foto keluarga ini juga diperlukan bangku yang baru saja diselesaikan oleh kakak iparku. Diperlukan waktu sampai dengan menjelang tengah hari untuk menyelesaikan sesi foto bersama. Tambahan untuk tahun depan adalah memilih pose dan posisi yang lebih baik agar proporsi semakin baik.

Tetap saja, lebaran selalu melekat di hati. Selalu dirindukan kehadirannya di setiap tahun. Semoga amal ibadah terus bertambah dan terimaNya. Amin.

Minggu, 14 Agustus 2011

Sakit itu Kekal

Pernah sakit hati? Pernah menyakiti perasaan seseorang atau banyak orang? Tentu tahu kalau sakit itu tidak pernah menyenangkan. Jangankan sakit hati, sakit gigi juga bisa membuat orang mau jungkir balik buat menghilangkan sakitnya.

Kalau memang pernah sakit, sudah lupakah pada sakitnya?

Banyak orang bilang kalau sakit itu harus diobati supaya sembuh. Benar. Lukanya sembuh; tidak ada lagi darah mengalir, tidak lagi terasa sakit di bagian luka. Saya cuma mau bilang kalau terkadang kita masih mengingat rasa sakit itu, selalu.

Dulu, saya pernah tersengat ubur-ubur api. Ketika itu rasanya ingin membuang rasa sakit itu jauh-jauh. Sampai saya ingin pergi ke rumah sakit terdekat agar bisa dilakukan sesuatu sehingga rasa sakit itu hilang. Pada akhirnya, obatnya hanyalah minyak goreng panas yang menjadi media kompres pada bengkak di kaki saya. Sekarang, saya masih ingat rasanya seperti apa. Rasa gatal yang menggila, panas yang membakar, mengganggu titik nyaman hingga sulit tersenyum.

Sepintas seperti orang yang putus dari pacarnya, sakit hati. Kemudian dia tidak ingin merasakan sakit hati karena pacar. Gara-gara itu dia tidak mau lagi menjalin percintaan, menghindari masalah. Walau ada juga yang memilih untuk mengurangi rasa sakit tiap jalinan yang dia bentuk, dia berusaha memperbaiki keadaan.

Saat kita berinteraksi dengan orang-orang yang kita kenal baik dan memiliki kecenderungan untuk berinteraksi sangat lama dengan orang tersebut, hindarilah konflik. Ini satu cerita yang sulit untuk dibagi, namun ini juga merupakan proses pembelajaran bagi saya dalam menghargai manusia.

Ketika berkonflik, terlibat dua atau lebih pihak. Konflik ini terjadi bisa karena pendapat atau prinsip yang berbeda. Misalnya, Ayam dan Bebek* berniat untuk bertemu di suatu tempat pada jam tertentu. Si Ayam, datang lebih dulu 30 menit dari waktu yang disepakati. Lalu, si Bebek datang satu jam setelah waktu kesepakatan. Ketika bertemu, mereka berkelahi. Mempermasalahkan kedatangan yang telat dan lebih awal, waktu yang ditentukan, kekesalan ketika menunggu dan juga kekhawatiran ketika menuju tempat. Akhirnya, mereka kelelahan berdebat dan bersitegang. Mereka meninggalkan tempat itu.

Secara sederhana, konflik itu bisa terjadi ketika kita melemahkan kemampuan kita untuk mengerti. Harusnya Ayam ingat bahwa Bebek memiliki kesulitan untuk muncul tepat waktu. Bisa saja diingatkan lebih dulu atau dibanding bertemu di tempat lain, lebih baik menjemputnya di tempat Bebek berada. Kalau Ayam tidak melakukan pencegahan, Bebek juga bisa memberi pilihan untuk Ayam agar tidak mudah bosan ketika menunggu, dipilihkan tempat yang menarik atau tempat yang juga dikunjungi oleh teman Ayam. Di saat Bebek kelelahan mengejar waktu agar tiba di saat yang tepat, Ayam juga kelelahan menunggu di tempat yang sama. Mereka berdua kelelahan dan mereka menyerah untuk mengerti.

Seperti orang pada umumnya, Ayam dan Bebek hanya menjadi mereka. Hal yang terjadi pula pada diri kita, kita ingin dihargai sebagi diri kita sendiri. Ayam memiliki alasannya sendiri, Bebek juga. Tidak ada yang salah, yang menilai hal itu benar atau tidak, kalau mau adil, biarkan Allah yang menilai. Kalau tidak mau sampai seberat itu, kecuali ujian, ulangan, atau keuntungan perusahaan, yang namanya salah itu relatif.

Di suatu kondisi, saya mengenal baik dua individu. Kedua dari mereka tersakiti hatinya. Entah mengapa Satu begitu kukuh dengan pendiriannya dan menunjukkan kesalahan yang menurutnya dilakukan Dua. Satu membuat perbuatannya terekam di dalam memori berjejak dan teringat. Dua, hanya berusaha menjadi orang yang manusia. Menghargai adanya orang lain, siapapun itu. Tindakan itu yang tidak disukai oleh satu. Baginya, hal itu menyalahi prinsipnya.

Siapa yang memaksakan apa atas hal yang ada? Satu harusnya bisa mendengar dan berusaha memahami apa yang dia lakukan, dan sebaliknya juga Dua. Dengan harapan, Satu dan Dua mampu menghargai keputusan yang masing-masing ambil, bukan bermusuhan. Seperti hal yang terjadi pada Ayam dan Bebek. Satu membuat luka pada hati Dua mengekal, ketika ada rekaman tidak sekedar memori, sesuatu untuk disentuh. Rekaman itu yang mampu membangkitkan memori sakitnya ketika itu pertama kali terjadi.

Sedih rasanya. Sakit pertama sudah mengajarkan bahwa hidup itu penuh rasa. Ditambah, ada sesuatu yang dapat dengan mudah mengangkat ingatan akan sakit yang kemudian itu terasa begitu nyata. Sakit kesekian tentang sakit pertama. Sakit terepetisi.

Mungkin saya pernah menyakiti seseorang begitu dalam sehingga diapun sulit untuk menyimpan ingatan itu di tempat yang terlupakan. Saya minta maaf jika itu terjadi padanya, sungguh. Kisah-kisah yang diceritakan oleh orang-orang terdekat mengajarkanku bahwa rasa sakit itu kekal, terekam dengan baik dalam ingatan.

Catatan kali ini: hargai manusia.


* Ayam dan Bebek bukan dimaksudkan hewan, sekedar penamaan belaka.

Kamis, 04 Agustus 2011

Selingkuh

Kamus Umum Bahasa Indonesia (Cetakan 17) menyatakan kalau selingkuh itu artinya curang; tidak jujur. Aku bukan mencurangi suatu hubungan, semoga memang tidak. Aku hanya tidak jujur, tidak jujur pada diri saya sendiri. Memungkiri apa yang harusnya dituang dalam blog ini. Aku mengesampingkannya, meniadakannya dalam hidup sementara.

Yang paling dirugikan adalah diri sendiri. Seperti melakukan kebodohan terhadap sendiri dan menjauhkan diri dari diri. Mengapa aku sampai tega melakukan itu, ya? Entahlah. Terbawa arus yang menenggelamkan diri ke dalam entah apa yang dapat diselami. Perlahan, berusaha untuk mengambil nafas dan menikmati panas matahari di permukaan air.

Kuakui kalau saat ini aku berada di titik yang melemahkan aku. Kalau dibilang menikmati waktu yang ada, aku menikmatinya terlalu lama. Mungkin butuh loncatan. Kalau tidak mau diakui sebagai kelinci, berarti aku butuh motivasi tambahan.

Biasanya, aku memilih pola tertentu dan mengambil jarum dan benang, dilanjutkan dengan merenda dan mempublikasikannya ke dalam blog. Atau berada dalam perbincangan dengan teman, menggelitik suatu buah pemikiran dan aku tuangkan pikiranku ke dalam blog. Karena kehampaan atas rutinitas atau kebiasaan yang coba aku bangun beberapa waktu itu, membuatku berpikir mungkin saja waktu belakangan ini aku tidak melakukan potensi terbaik dari diriku.

Terserah yang lain. Harusnya aku tetap menuangkan tulisan. Sekedar selentingan, menuangkan itu menggunakan majas. Hal yang dituangkan biasanya adalah cairan, seperti menuangkan air ke dalam gelas. Maka, kata yang tepat adalah membuat, menyusun, dan menciptakan. Namun, dikarenakan eksplorasi bahasa dan demikian seterusnya, aku mungkin tetap menggunakan tuang.

Minggu lalu, adikku menghadiahkanku sebuah telepon pintar. Mana ada telepon yang pintar, kalau kita masih harus menekan tombol dan telepon memberikan reaksi. Telepon itu tidak pintar, hanya canggih. Lebih canggih dari telepon genggam yang saya beli tahun lalu.

Telepon genggam yang dulu itu kubeli karena telepon genggam yang biasa aku gunakan sudah tidak mampu berfungsi dengan baik. Aku beli yang murah. Seadanya uang waktu itu, asal ada alat komunikasi. Sekitar di awal tahun, kacanya retak. Tidak tahu kenapa. Biasa saja aku simpan di saku celana, celana yang aku pakai juga cukup longgar.

Telepon yang baru ini harusnya mempermudahku dalam perkembangan dunia maya. Belum berpengaruh banyak. Hanya lebih berisik di media sosial - microblogging, si burung twitter. Satu perangkat yang mudah kuoperasikan dan aku tidak perlu berpikir panjang, namanya juga mikro.

Atas kesadaran yang aku raih malam ini, aku akan mulai lagi bersahabat dengan Acer, Olympus, dan buku-bukuku. Mengembalikan rasa betah duduk di kursi dan menghadap Acer untuk melakukan suatu hal. Sembari menikmati kegiatan yang beberapa bulan ini menarik perhatianku, bisa dilihati di blog-ku yang lain. Semoga masih ada crochet dan foto yang akan tampil. Aku rinduku, sangat. Tidak ada selingkuh, bakar itu semua.

Sabtu, 23 Juli 2011

Kata Orang

Seorang teman berkata, "Kamu harusnya jadi wartawan. Menjadi wartawan di media massa nasional pasti pilihan karir yang menarik buat kamu. Daftarlah di media massa lokal.". Karena entah apa, aku merasa itu bukan hal yang benar ataupun salah. Salah orang? Atau aku tidak menginginkan kritik?

Mungkinnya dia panik karena aktivitas aku tidak senyata orang kebanyakan. Sangat tersinggung ketika dia katakan bahwa jurusan kuliah yang aku ambil tidaklah tepat. Harusnya aku mengambil jurusan yang dapat mengasah kemampuan analitisku. Buatku sama saja. Apapun ilmunya, memiliki daya tarik dan keunikannya. Tersinggung karena seakan-akan memilih sekolah tidak dengan pertimbangan yang baik.

Siapa orang itu? Entah. Orang itu aku kenal sudah lama, hampir 3 tahun. Sebaik itukah dia mengenalku? Tampak tidak. Kalau memang iya, dia memiliki perspektif yang jauh berbeda dengan kebanyakan teman.

Biasanya kalau orang yang dikritik, akan segera mencari pembenaran atau pengalihan topik. Seperti yang aku lakukan sekarang. Atas pembenaran untuk kesalahan apa? Toh, wajar bagi seorang teman memberi saran dan kritik secara bersamaan.

Berarti aku yang salah. Kalau aku salah, lalu respon bagaimana yang baik? Aku memiliki kesulitan untuk menerima pernyataan. Ini bisa saja pelajaran buatku atau pelajaran buat temanku. Ada baiknya dia juga belajar menyampaikan pendapat.

Entahlah.

Jumat, 15 Juli 2011

Lu(n)ar Biasa

Biasanya, saya tidak akan memilih topik pembicaraan seperti ini, yang akan saya jabarkan di bawah ini. Saya senang memiliki harapan. Seringkali dalam pemilihan kalimat atau kata, sebisa mungkin dibuat dalam kalimat positif (tidak menggunakan 'tidak') dan bermakna positif. Saya tidak suka dirajai oleh pikiran yang tidak baik, terasa digerogoti. Itu tidak baik bagi perkembangan jiwa.

Tampak semakin kecil kemungkinan saya menikah tahun ini. Tuh, kalimat itu terdengar begitu pesimistis, tidak baik. Kenapa terpikirkan demikian? Karena semua butuh waktu yang tepat dan baik, jangan juga terlupa: pria yang tepat dan baik. Belum bertemukah? Mungkin sudah bertemu dan berkenalan tapi belum sepakat atas hal itu.

Terlalu seperti dongeng? Bahagia tercipta ketika sang putri bertemu pangeran dan menikah demi kedamaian negeri. Too cheesy, terlalu keju. Itu artinya terlalu asin. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Semua baiknya seimbang. Dongeng kebahagiaan itu sering pula didengar ketika kecil.

Haruskah tahun ini, Gita?
Tidak ada keharusan. Hanya keinginan.
Atas dasar apa keinginan itu kau bentuk?
Tidak mendasar. Bukan kolam.

Patah hati. Sepertinya tidak lagi tahu cara mencinta. Tidak ada yang benar dilakukan. Teman berkata, 'Lain orang, lain cara'.


Pipi bersemu. Tertawa ringan. Senyum berkembang. Hanya memori yang melekat.

Bulan bersinar dengan indahnya. Sampaikan salamku.
Sampai jumpa di waktunya.

Rabu, 22 Juni 2011

Entahlah

Aku menyerah. Terbingungkan oleh orang kalau mereka mulai berkomentar tentang seseorang yang belum juga menjadi orang terdekat. Kenal pun belum. Kenapa, ya?

Paling takut kalau itu terjadi sebaliknya pada diriku. Coba bayangkan, kalau suatu hari aku sudah memilih pakaian yang baik untuk keluar dari rumah. Ketika di suatu keramaian, seseorang melihatku, dia berpendapat, "Pasti dia orangnya bawel deh." Memang tidak perlu tersinggung dengan pernyataan itu, sudah benar adanya. Yang menjadi menakutkan adalah pernyataan itu keluar sebelum dia mengenalku. Belum ada interaksi signifikan.

Bahkan sudah sekian lama kenal dengan orang, rasanya masih saja tidak cukup baik mengenalnya. Ada teman yang dikenal semenjak Sekolah Dasar tapi tidak menjamin persahabatan. Hanya mengingat orang yang hendak diingat saja. Ketika di SMA, hanya satu tahun sekelas dengan temanku tapi ternyata beberapa waktu belakangan, dia menjadi partner in crime. Menjadi tamu perkawinan teman sekolah bersama-sama. Kalau diingat-ingat, dulu hanya sesekali aku berbincang panjang lebar dengannya. Entah apa yang membuat menjadi akrab kembali.

Ngomong-ngomong, paling sebal kalau dengar, "Kenapa lo ga sama si -entahsiapa- itu aja?". Kalau memang berjodoh, siapa yang menolaknya. Kalau tidak, jangan pernah ungkit itu lagi. Dengan menganggap, semua itu mungkin dan kepastian hanya terjadi pada waktunya. Yang lampau menjadi fakta. Semua orang memiliki kemungkinan untuk berjodoh. Makanya, sulit untuk bilang, "Ah, itu ga mungkin.". Kalau itu hal itu benar terjadi, berarti mengingkari perkataan sendiri. Pengingkaran berarti pembohongan. Dan aku juga tidak pernah terlalu suka dengan si bohong.

Anggapan itu juga yang membuatku tidak bisa menjawab, "Maunya gimana?". Siapa yang bisa tahu kalau yang kita mau itu benar terhadap yang kita juga butuhkan. Apalagi kalau, "Maunya siapa?", itu lebih tidak akan terjawab sama sekali. Mulut bisa terkunci. Setiap orang istimewa, kedekatan yang dimiliki memiliki keunikan yang khas. Teman saya bilang, "Harus tahu dong yang kamu mau.". Kalau itu yang harus, aku menyerah saja. Aku tidak bisa menentukan.

Mungkin ini buruknya jadi Sagitarius si jiwa bebas. Keinginan untuk bermain terlalu tinggi. Ada juga berasumsi, sulit untuk berkomitmen.

Kalau tiap kalimat yang terucap akan mengirimkan gelombang kepada dunia, itu artinya kalau ada yang menyatakan sesuatu, hal itu mungkin terjadi. Kalau lebih sering terucap dan diucap, kemungkinan terwujud semakin besar.

Entahlah. Bingung.

Pikiranku meracau.

Senin, 13 Juni 2011

Orang Baik

Saya kangen menulis. Beberapa waktu lalu, sempat pengen nulis tentang Negara. Topik yang jarang sekali saya bahas di blog ini, bukan berarti tidak mungkin. Sayangnya, kalau mau membicarakan negara, tidak sembarangan. Saya harus menelaah beberapa, memiliki contoh satu-dua. Saya juga patut mengetahui apakah contoh itu tepat atau tidak. Untuk saat ini, itu bukan topik yang mudah buat saya bahas.

Tapi saya merindu. Kalau orang bilang -tentu saja orang yang bilang karena saya belum bisa bahasa makhluk hidup lain-, menulis itu jangan dipaksakan. Itu pun ada benarnya karena blog ini saya buat untuk berbagi kesenangan dan kebencian saya terhadap hidup. Kalau tidak ada waktu senggang, tidak perlu susah mencari. Kalau tidak ada yang mau dibagi, jangan pula menjadi pembohong.

Salah satu teman saya juga melabelkan blog saya yang ini sebagai blog curhat, curahan hati. Untuk mendukung pernyataan, marilah kita mencelotehkan apapun yang saya punya. Kadang saya merasa tidak adil kalau meracau tentang hal-hal personal di kala orang juga ingin membahas atau membutuhkan stimulan bagi ide pikiran yang lain. Sudahlah. Apapun yang membuat saya senang.

Tadi sore ada teman ketika saya SMP menegur via online. Sebenarnya saya juga satu SD dengannya. Diawali dengan menanyakan kabar. Kemudian dia berbasa-basi juga. Ada yang membuat saya tertegun. Ketika dia bertanya tentang rumah saya, apakah masih di lokasi yang sama. Dia juga menanyakan kabar abang saya.

Apa yang aneh? Kok jadi tertegun? Karena saya tidak tahu berapa saudara kandung yang dia miliki, bahkan alamat rumah dia, sekarang ataupun dulu. Dia lebih peduli dari saya. Saya jadi malu. Saya cuma ingat nama lengkapnya dan hari dia ulang tahun karena sama dengan hari ulang tahun papa saya.

Kalau mau diingat orang harusnya kita juga belajar mengingat orang. Tadi di acara keramaian, ada dua orang menegur, "Inget aku ga mbak?". Saya cuma bisa senyum dan menggali ingatan sebentar yang tetap saja kosong. Berpikir, harusnya sih ingat tapi kenyataannya tidak. Ingin bilang, "Maaf, loh, aku ga inget". Kesannya, kok, tega.

Terasa seperti kita mengingat orang yang tidak mengingat kita dan kita tidak mengingat orang sebaik orang lain mengingat diri kita. Tidak adil, ya? Padahal kan harusnya kita berusaha dengan baik untuk menjadi baik. Sepertinya usaha saya tidak cukup baik atau belum cukup baik.

Pelajaran saya hari ini adalah kenali musuhmu, lebih baik dari temanmu. Eh, salah. Jadilah orang baik, dengan cara mengenal orang lebih banyak. Cheers!

Kamis, 26 Mei 2011

Maukah Kamu?

Would you like to spend a day with me?


Itu seperti kata yang tersirat ketika nonton Before Sunrise dan Before Sunset. Ketika nonton kedua atau salah satu film itu rasanya ingin sekali merasakan hal seperti itu. Berjalan terus sekeliling kota dan berbincang atas semua hal. Tampak menggiurkan dan sangat menggoda. Menghabiskan waktu bersama.

Kemarin memang sempat nonton Before Sunset. Dulu juga sempat melihat film making-nya. Film lanjutan ini skenarionya dibuat dalam diskusi yang panjang. Si pemeran perempuan itu berperan pula pada penulisan dialog. Itu yang menarik. Dia menumpahkan segala impian yang begitu menggoda.

Yang membuat film ini berbeda dari yang lain adalah disebutkan 16 Desember. Terdengar sebagai pujian bagi saya walau itu tidak ada ucapan selamat ulang tahun di dalamnya. Dan karakter perempuan itu berzodiak sagitarius. Saya lupa zodiak si laki-laki.

Sejenak merasa saya seperti apa yang terjadi di dalam film itu. Sebenarnya itu hal yang wajar, biasanya orang yang menikmati suatu karya (entah itu karya sastra atau hal lain yang mengundang interpretasi karya) memilih sudut pandang yang sangat familiar dengan mereka. Dalam kasus saya, saya melihatnya dari diri saya sebagai kacamata utama. Tokoh perempuan tampak sangat memonopoli pembicaraan. Caranya memonopoli begitu memukau, mungkin saya tidak mampu memukau dengan indahnya seperti itu tapi jelas sering memonopoli.

Membuat iri. Menghabiskan beberapa waktu dengan orang yang menyenangkan pasti akan menyenangkan.
sedih + sedih = bunuh diri massal
sedih + senang = senang
senang + senang = super senang
Senang selalu menang. Itu salah satu alasan kalau saya pergi ke luar kota, saya membuat janji untuk bertemu dengan teman-teman, jika hal itu memungkinkan.

Mungkin itu yang membuat orang ingin memiliki teman, pasangan, atau kenalan baru. Manusia juga makhluk sosial. Kalau terkait sosial, pasti juga berhubungan dengan manusia lain. Untuk saya, saya suka sekali memperhatikan orang. Apalagi kalau sedang tidak ada yang dipikirkan. Memerhatikan sesuatu yang terjadi di depan mata begitu menarik.

Apakah kita memiliki pilihan minum yang sama? Dengan tambahan gula yang sama? Atau pilihan makanan yang tampak lebih enak? Lalu, jadi terpikir, kita lebih suka dengan orang yang memiliki selera yang berbeda atau cenderung memiliki banyak kesamaan? Seperti di film Runaway Bride, si tokoh utama perempuan baru memiliki masakan telur yang sungguh dia suka setelah jalinan hubungan berkali-kali.

Mungkin ini menjadi suatu tulisan yang penuh curahan hati. Tak apalah. Saya juga bingung ini membicarakan apa.

Jumat, 20 Mei 2011

Komunikasi yang Baik

Dulu, waktu kuliah, saya punya teman yang sering sekali ,mengucapkan kata maaf. Dia mengucapkannya dengan sungguh. Justru itu yang membuat kesal rasanya. Kenapa dia harus meminta maaf, selalu?


Maaf adalah salah satu kata yang katanya sulit diucapkan oleh orang pada kebanyakan*. Maaf juga berarti ada suatu kesalahan yang dilakukan kepada orang lain oleh seseorang. Itu memang harus dinyatakan, atas alasan yang tepat dan orang yang juga harus sangat tepat. Saya pun patut mengucapkan maaf kepada orang yang telah saya ganggu ketenangannya.

Sebelum ada maaf, tentunya ada kejadian. Bisa saja kejadian itu secara disengaja dilakukan dan ternyata menyebabkan respon yang tidak sesuai harapan, perasaan orang tersakiti. Misalnya, teman saya (yang lain lagi) pernah hendak menyampaikan kesulitannya dalam suatu acara kampus dan dengan santainya saya memilih kata-kata yang bermakna tajam. Kata-kata saya membuat dia langsung berdiri dari tempat duduknya dan melangkah keluar ruangan. Saya berlari mengejarnya. Saya meminta maaf. Kemudian saya jelaskan mengapa saya memilih kata-kata itu dan saya juga sadari bahwa intonasi yang saya pilih tidak tepat dengan kondisi dia saat itu. Sampai sekarang kami masih berteman.

Ada juga kejadian yang tidak disengaja. Kita tidak tahu apa yang salah terjadi. Seketika lawan bicara kita memberikan respon yang sepertinya dia marah atau kecewa. Dalam kondisi normal, kita harus segera meminta maaf.

Kadang saya tidak menginginkan maaf. Saya lebih suka kalau orang lain mengerti benar mengapa saya memilih untuk memberi respon negatif terhadap interaksi yang terjadi. Saya pernah menjadi orang yang sangat menyebalkan, saya mengabaikan perasaan orang lain. Mungkin maaf sudah tidak ada pengaruhnya. Saya hanya bisa berusaha untuk mengurangi kebiasaan saya dan memasang penuh senyum.

Lebaran tahun lalu, saya mengundang teman SMA untuk hadir di rumah. Bersilaturahmi, mengenang masa lalu, dan menikmati waktu bersama. Ada beberapa dari mereka yang belum pernah banyak berbincang bersama. Seperti mengenal orang yang baru, padahal mereka sudah lama kita kenal.

Ini lebih sulit dibanding dengan orang yang kita baru kenal. Dengan orang yang masih asing, kita biasanya sudah memiliki batasan, secara otomatis demi kebaikan sosial, apa yang masih wajar untuk dibagi. Kalau dengan orang lama tapi interaksi baru. Itu yang unik. Kita merasa memiliki kedekatan yang berbeda tapi ketidaktahuan yang banyak.

Ketika lebaran itu, ada teman saya yang muncul pertama dan sangat tepat waktu. Selama SMA, kita tidak pernah satu kelas. Hal yang saya ingat dan tahu adalah dia teman sekelas ketika SD dan pernah menjadi pacar dari dua teman saya. Saya pun bingung harus memilih kalimat basa-basi untuk memecah kejanggalan sampai teman yang lain hadir.


Watch and learn. Ketika cukup ramai, saya banyak berinteraksi dengan orang yang memiliki kecenderungan menguasai pembicaraan. Kemudian melihat respon dan interaksi tiap dari teman-teman saya. Itu yang kemudian membuat semuanya berjalan dengan baik saja.

Kadang kita mendengar kisah seorang teman dari cerita orang lain. Si itu gini, yang satu lagi begitu, dan siapa itu begini. Orang tua dari teman dekat dari si itu ternyata adalah orang yang dikenal oleh salah satu anggota keluarga. Ternyata istri siapa pernah berjumpa dimana dan kita pernah berbincang panjang lebar. Kita bisa tahu kalau yang satu lagi kuliah dimana karena temannya pernah cerita ketika bertemu di pusat keramaian. Memusingkan. Semacam gosip tapi itu sekedar dari upaya pengumpulan informasi. Berbekal informasi ini juga yang membantu kita untuk memiliki buah perbincangan yang aman. Kita pun harus bijak memilih informasi yang tepat kita pilih sebagai dasar informasi seseorang. Jangan penuhi pikiran dengan asumsi, cukup kenali dengan baik orang yang kita kenal.

Layaknya komunikasi yang baik, komunikator memilih media untuk menyampaikan pesan kepada komunikan yang kemudian akan memberikan timbal baik. Jika komunikasi yang baik terjadi, maka timbal balik ini akan sesuai dengan tujuan komunikasi tersebut. Jika tidak, berarti saya, anda, dia atau mereka adalah komunikator yang buruk.

Kembali ke perihal maaf. Sebelum meminta maaf kepada orang lain, sebaiknya kita tahu bahwa kita telah mengetahui apa yang salah. Beri waktu sejenak buat kita sendiri untuk memahami hal yang terjadi. Dengan begitu, kita bisa memahami orang lain. Jika maaf diperlukan, maka ucapkan dengan tulus. Jika sekedar konfirmasi dan klarifikasi yang diiringi kata maaf, tidak ada salahnya. Kalau dalam tujuan berkomunikasi tidak pernah menginginkan maaf dilibatkan, jangan.

Kalau sekedar maaf, semua orang pasti bisa memberi. Maaf bukan sesuatu yang dapat diukur dengan alat tukar uang yang digunakan dalam kehidupan ekonomi. Jangan membuat maaf itu suatu hal yang ada harganya, murahan. Urusan horisontal, antar manusia, hal yang sangat duniawi. Manusia bisa juga dengan keterbatasannya tidak semudah itu memberikan maaf, maka mintalah kepada Yang Pemaaf. Hiduplah dengan penuh ikhlas, permudah hidup. Nikmati hidup.



* Kata lain yang juga sulit diucapkan adalah tolong dan terima kasih. Satu hal yang sering dilupakan adalah tersenyum.

Rabu, 18 Mei 2011

Kalau Memang Berjodoh

Hari tadi, saya berjumpa dengan seseorang yang hanya beberapa tahun lebih tua dari saya dan memiliki suami yang umurnya dua kali lipat dari umurnya saat ini. Seperti umur antara bapak dan anak. Itu satu kisah tentang jodoh.

Saya jadi terpikir. Dengan ketulusan yang mereka miliki, harusnya itu juga yang dimiliki setiap pasangan suami-istri. Kalau kata mama saya, "Soal cinta aja kok dipersulit". Sederhana aja, jangan ditambahi bumbu yang tidak perlu. Kalau memang jodohnya, harus dilanggengkan jalannya. Teman saya dulu berslogan, "Tidak boleh ada yang menghalangi cinta".

Teman dekat saya lagi dilanda kegalauan. Saya sedih kalau dia terbebani banyak pikiran, seringkali dia menjadi sangat sulit tidur. Padahal, pada kondisi normal, dia adalah ratu tidur. Sebisa mungkin memiliki waktu tidur siang. Agak rancu. Biasanya anak kecil diminta untuk istirahat siang karena membantu proses regenerasi atau pertumbuhan mereka. Entah untuk apa tujuan tidur siang teman saya itu.

Kegalauan dia disebabkan oleh seorang pria, sebut saja Timon*. Keraguan muncul atas suatu hal yang terjadi pada dirinya. Dia ingin sesuatu yang teateritikal. Timon mendatangi teman saya dan mereka akan berbincang serius. Dalam perbincangan itu, ada satu adegan dimana Timon akan mengonfrontasi pemicu masalah di antara mereka berdua. Dia akan merasa puas jika itu terjadi. Itu akan menjadi titik dimana dia akan melangkah berikutnya.

Apakah pertemuan itu akan benar menyelesaikan masalahnya? Kalau memang sesederhana itu, kenapa teman saya harus sampai sulit tidur? Jika pasangan melandasi interaksi mereka dengan kepercayaan, berarti itu yang dibutuhkan. Lalu jika pertemuan itu menjadi sangat krusial dalam pembentukan kepercayaan? Saya bingung.

"Dia tampak tidak ambil pusing dengan masalah ini", seru temanku.

Kalau saya sungguh cinta pada seseorang, apa yang penting baginya adalah penting bagi saya. Dengan respon Timon yang sepertinya tidak menghargai perasaan teman saya, rasanya tidak adil. Mungkin teman saya juga terbawa emosi. Entah. Bisa juga ini adalah proses yang mereka harus lalui.

Saya hanya berharap teman saya sungguh tahu apa yang dia mau. Harus tahu betul apa yang dia rasakan. Keraguan boleh hadir tapi seiring waktu harus terus dipenuhi dengan keyakinan akan hal-hal baik. Apapun yang saya sarankan, toh, pada akhirnya teman saya yang memutuskan dan menjalaninya.

Kebaikan untuk semua orang yang berusaha. Harus!


*Terinspirasi Lion King

Rabu, 11 Mei 2011

Kumki


Aku lupa. Apakah aku pernah memperkenalkan Kumki kepada khalayak umum di dunia digital? Sepertinya belum. Kumki adalah kumbang yang aku temukan di Masjid Agung Lampung Barat, Liwa. Aku mendapatkan dia ketika malam dan di tempat itu begitu banyak lampu sorot. Umumnya, hewan nokturnal memang mencari kehangatan, salah satunya panas yang dikeluarkan oleh lampu.

Aku hanya berhasil memeliharanya selama 5 (lima) bulan. Hewan yang paling mudah untuk dipelihara. Makanan favoritnya adalah tebu. Itupun dapat bertahan selama dua hari. Diberi semangka, dia juga suka. Tapi kalau semangka lebih sering mengundang lalat-lalat kecil yang mengganggu pemandangan. Sekalipun tidak ada buah, kita masih bisa memberikan dia larutan gula.

Semoga Kumki bahagia dan saudara-saudara Kumki masih hidup sehingga tidak ada species yang punah.



* Akan kucari nama ilmiah si Kumki. Saya lupa lagi.

Senin, 09 Mei 2011

Tradisi Lampung

Seperti biasa, hari Minggu di Kompas ada kolom dari Samuel Mulia. Minggu ini, 8 Mei 2011, topik yang dia angkat adalah Loyal Wedding. Dalam tulisan ini sedikit menyebutkan mengenai tradisi. Hal itu yang mencetuskan ide untuk saya menuliskan apa yang akan saya alami kalau nanti saya menikah.

Papa saya adalah orang Lampung. Mama saya keturunan Jawa-Lahat. Berdasarkan kebudayaan, saya menganut patrilineal. Jadi, kalau saya ditanya oleh seseorang tentang suku saya, sepatutnya saya jawab, "Lampung". Walau kadang saya sulit melakukan hal itu karena saya juga senang pengaruh yang Mama saya berikan ke dalam keluarga ini.

Dengan keajaiban dan kemampuan bersosialisasi secara adat yang luar biasa oleh Papa saya, adat istiadat Lampung menjadi sangat kental dilaksanakan dalam keluarga besar saya, khususnya pernikahan. Semua proses harus dilakukan sesuai ataupun selaras dengan adat istiadat, tentunya tanpa mengurangi nilai dalam Islam. Setelah dua orang kakak saya dan dua orang sepupu saya menikah dengan rangkaian acara adat Lampung, hal itu mempermudah saya (dan juga saudara lainnya) untuk memahami pentingnya menjaga hal tersebut.

Salah satu teman saya, berasumsi kalau saya menikah maka akan banyak kerepotan. Mungkin yang benar adalah teman saya salah, bukan salah satu teman saya. Kalau salah satu dari sepuluh soal, nilainya masih sembilan. Kembali kepada pernikahan dan adat istiadat. Ada orang yang anggap kalau saya harus mencari calon suami yang juga bersuku Lampung. Papa dan Mama saya tidak pernah sekalipun berkata demikian.

Saya selalu berharap, saya menikah dengan jodoh saya. Kepada orang yang telah memilih saya dan saya pilih untuk menjadi suami saya, maka saya akan bahagia atas itu. Kalau ternyata dia adalah orang bersuku Lampung, maka proses pernikahan akan diawali dan ditutup dengan acara adat yang telah disepakati oleh para perwatin. Tentu, ketika akad nikah, sepenuhnya mengikuti syarat sah nikah dalam Islam.

Kalau bukan bersuku Lampung atau berwarga negara asing? Mari di-Lampung-kan. Maksudnya? Dalam rangkaian acara adat, dia harus sebagai orang Lampung. Demi memperpanjang tali silaturahmi, keluarga calon mempelai pria akan diangkat bersaudara oleh keluarga Lampung. Keluarga Lampung ini seringkali adalah teman dekat keluarga perempuan. Ini seperti penghargaan untuk menjadi saudara.

Karena kedudukan keluarga saya di dalam adat, maka saya pun menjadi Muli Adat. Itu yang mengartikan kalau saya menikah, hal tersebut harus dilakukan oleh masyarakat adat. Jika tidak, maka saya mencoret keluarga saya dalam sosial adat. Sekitar dua hari sebelum akad nikah nanti, di rumah saya akan ramai orang berkumpul. Secara adat, diumumkan bahwa saya gadis dari desa dan marga tertentu akan menikah. Nanti juga ada acara muda-mudi berkumpul, dulunya ini dijadikan ajang perkenalan.

Dalam acara itu, akan ada satu bagian yang saya suka. Ketika perwatin dan panitia acara memperkenalkan gadis-gadis dari desa dan atau marga lain yang hadir. Mereka diperkenalkan melalui pantun dalam bahasa Lampung. Pantun itu memperkenalkan gelar yang mereka miliki dan makna dalam gelar mereka. Dikumandangkan dengan lantunan yang sangat khas. Saya iri sekali karena saya pasti terbata-bata kalau harus menggantikan mereka.

Semua acara adat itu dilakukan di dalam ruang, yang disebut Sessat. Tidak sembarang orang boleh lewat atau berada di dalam Sessat. Hanya orang-orang yang berkepentingan dalam acara tersebut. Kalau ada orang yang masuk ke dalam Sessat, mereka harus menggunakan sarung. Kalau pria, seperti sarung tumpal. Kalau perempuan, dikenakan seperti sarung biasa atau rok panjang. Kalau ada yang melanggar, orang tersebut akan dikenakan denda dan Batangan, keluarga pelaksana acara, yang harus membayarnya.

Setelah akad nikah, keluarga perempuan akan melepas pengantin. Kemudian pengantin akan menuju rumah keluarga mempelai pria. Kalau pasangan saya nanti orang Lampung, bisa jadi ada acara lanjutan di rumah itu.

Tidak ada yang merepotkan, sepertinya. Kalaupun para perempuan harus menggunakan Siger dalam proses upacara adat, itu semua hanya rangkaian proses yang harus dilalui. Ini hanya sepenggal cerita dari yang saya saksikan sebelumnya. Dan ini juga yang mungkin akan terjadi nanti. Hal yang terpenting sebelum dimulai adalah harus memiliki calon suami terlebih dahulu.

SEMANGAT!

Sabtu, 07 Mei 2011

Hilang

Seketika, menginginkan benda yang bisa memutarkan lagu-lagu yang bisa kudengarkan hingga kuterlelap tidur. Aku pun tenggelam dalam alam mimpi.

Sedih terasa kalau sesuatu menganggu pikiran kita dan hal itu pun tidak segera pergi karena kita pun masih terjebak dalam putaran pikiran. Kadang ingin menyalahkan kerumitan dalam menentukan buah pikiran. Atau dalam keadaan sadar akan kemungkinan terburuk pun masih dipikirkan.

Aku kehilangan kepercayaan diriku.

Untungnya, beberapa jargon dari filsuf ternama yang sesaat aku pelajari ketika kuliah tidak ada pernyataan, "Saya percaya diri, maka saya ada". Itu artinya, aku masih ada dan aku masih hidup. Aku belum pernah secara serius juga mempelajari tentang filsafat. Hanya berusaha memaknai tiap apa yang terjadi pada diri sehingga tidak kehilangan akal.

Mungkin karena kurang banyak bersyukur. Atau mungkin terlalu banyak harapan dan kurang dalam upaya pencapaian. Mungkin juga karena rumput tetangga lebih hijau dan halaman rumahku tidak ada rumput.

Apa yang harus kulakukan?

Pilihan menenggelamkan diri dalam awan kelabu seperti pilihan termudah. Tidak mengizinkan matahari masuk. Badan melingkar, tergeletak. Pandangan kosong. Pikiran terhenti.

Tapi itu tidak benar. Membiarkan tubuh dan pikiran tergerogoti oleh lumut adalah hal yang tidak bijak. Kita harus menyambut sinar matahari pagi. "Good morning, sunshine!". Mendengar kicau burung. Menghirup udara pagi yang menyegarkan. Nikmati hari penuh keceriaan.

Seperti kata mama, "Kalau mau sukses, harus bangun pagi".

Minggu, 01 Mei 2011

Mungkin

Rasanya perih kalau orang yang paling dipercaya tidak mau mempercayai apa yang aku lakukan. Dengan cepat topik pembicaraan dibelokkan. Sungguh mematahkan hati. Tidak bolehkah aku menjadi diriku sendiri?

Peringatan yang tidak terlalu dini patut disampaikan. Tulisan ini kuketik dalam keadaan hormon tinggi. Suasana berlebihan dan pikiran menggila cenderung akan muncul.

Aku sadar atas segala yang aku lakukan. Dengan kesadaran itu juga aku memilih segala konsekuensi yang muncul. Buah pikiran selalu muncul. Kadang aku merasa seperti orang penuh ketakutan dan kehati-hatian. Semua pikiran tidak langsung dinyatakan kepada orang lain, namun ditahan dalam putaran. Disalurkan pada pelampiasan yang memungkinkan, seperti menuliskannya dalam rangkaian atau berbagi kepada teman.

Pemilihan kata dan pernyataan kalimat seringkali diberi analisis tambahan olehku. Mungkin alasan utama adalah pengisi waktu luang. Alasan lainnya, tidak memiliki pekerjaan lain, terhipnotis oleh kata, atau beranggapan kemungkinan selalu ada. Dari kata atau kalimat yang terucap oleh orang lain, memunculkan pikiran dengan segala kemungkinan yang bisa kupikirkan. Sangat menyeramkan. Kalau pikiran mampu membunuh, aku takut sekali aku terbunuh oleh kata-kataku sendiri.

Satu waktu, aku ingin berbagi tentang keraguanku dan reaksiku mengenai satu hal kepada salah seorang yang kupercaya. Dan hal itu ditolaknya mentah-mentah. Dia ganti topik pembicaraannya. Aku hanya bisa terdiam. Aku tahu kenapa dia mengganti topiknya, aku juga masih bisa berpikir. Dia berharap aku bisa melupa. Dengan menekankan topik tertentu, dia berharap telah mengingatkanku atas apa yang dia anggap penting dan patut.

Dulu, seingatku, ketika dia dalam penuh keraguan, aku pernah bilang, "Apapun yang lo putuskan, gue tetep temen lo. Apapun itu, sebaiknya lo pertimbangkan dengan baik dan tidak boleh ada penyesalan sedikitpun di masa depan." Kondisi itu terjadi ketika dia berada dalam kesepakatan bersama pihak-pihak lain.

Lalu, siapakah dia yang mampu membatasi apa yang terjadi di dalam diri? Apakah dia mencoba memberikan jalan pintas? Tuhan pun begitu adil, Dia memberikan kebebasan terhadap manusia untuk berbuat. Perbuatan yang baik dan buruk telah Dia sampaikan, manusia hanya perlu melakukan mana yang ia lakukan karena semua penghargaan dan balasan akan dilakukan di hari kiamat.

Aku juga tidak cukup berani mengembalikan pembicaraan yang aku inginkan. Aku tidak merasa ada alasan yang tepat bagi dirinya. Hal yang dibicarakan adalah hal-hal yang aku alami. Jelas sulit dimengerti oleh dirinya yang tidak berada di dalam pikiranku. Entah aku perlu dimengerti atau tidak.

Kalau dia membunuh pikiranku, berarti dia membunuhku. Kalau secara nyata, aku pun masih hidup. Maka, bisa saja aku telah dianggap mati oleh pikirannya. Itu berarti aku sudah tidak layak lagi menjalani kehidupan yang bersinggungan dengannya.

Maukah kamu menggunakan kalimat yang sama untukku? Aku butuh proses ini. Aku perlu menjalani hal ini tanpa ada rasa ragu dan penyesalan di masa datang. Ini aku yang menjalaninya. Ini prosesku.

Aku, saat ini, masih menginginkan segala kemungkinan.

Senin, 25 April 2011

Pahlawan Terhebat: Mama

Namanya juga pahlawan, hanya orang terhebat yang bisa jadi pahlawan. Kalau dalam cerita fiksi, pahlawan mengalahkan para penjahat bertopeng. Pahlawan menumpas kejahatan dan memenangkan kebaikan. Dalam hidup nyata, saya percaya pada penyebar kebaikan sebagai pahlawan.

Pahlawan dalam hidup saya adalah Mama saya, Herawati Soekardi.

Sosok ibu atau orang tua perempuan sepatutnya memperoleh penghargaan atas hidup lebih banyak. Dengan caranya yang istimewa, dia mampu mendorong kita, sang anak, merasakan kenyamanan. Dengan keibuan yang dia miliki mampu membuat kita tenang menghadapi penyakit yang sedang kita alami. Atas kelebihan dan kekurangan yang kita miliki, dia masih akan berkata, "Semua anak mama istimewa".

Waktu saya kecil, saya selalu bahagia. Tidak pernah kelaparan dan tidak pernah tersiksa. Makanan saya sederhana saja, sayur sop. Biar keren, vegetable soup. Kadang saya makan tidak habis karena saya kenyang atau malas makan saja. Lalu saya bilang, "Mam, aku ga habis." Mamapun menjawab, "Ya udah, ga apa-apa." Saya juga pernah, kok, mendengar cerita tentang nasi yang menangis karena dibuang tidak dihabiskan. Karena saya tidak kena marah, keesokan harinya saya dengan bahagia memakan nasi saya. Setidaknya itu yang saya ingat, saya selalu bahagia ketika makan.

Di lain waktu, saya sering kesal karena ada anak kecil begitu aktif dan kurang sopan santun ketika dia bertamu bersama orang tuanya. Pernah juga orang tua seakan menelantarkan anak dan sibuk berdiskusi dengan rekannya. Atau juga orang tua yang memarahi anaknya di depan orang asing. Itu yang membuat saya bertanya, "Dulu waktu aku kecil, kayak gitu ga sih, Mam? Kok kayaknya waktu kecil tenang-tenang aja". Kemudian mama mengatakan kalau anak mama tidak ada yang seperti itu. Waktu kami kecil, sebelum bertamu ke tempat orang, dia akan membuat perut anaknya kenyang. Ditambah dengan pesan dengan nada ultimatum, kalau nanti di rumah orang lain, ambil kuenya satu saja. Kalau misalnya kami masih sangat ingin memakan kue itu, diperbolehkan mengambil satu lagi. Itu semua harus cukup, tidak boleh lebih. Dengan begitu, mama tidak akan repot dan tidak perlu memperingatkan anaknya di depan orang lain. Damai bertamu. Tentu saja, tidak boleh bertamu terlalu lama kalau membawa anak kecil.

Belakangan ini, saya sempat berbincang dengan teman saya. Dia cerita kalau dia dari dulu sering membeli bakso di tempat itu bersama keluarga. Atau sekedar mencari makan malam ataupun gorengan. Saya bingung. Kok? Kenapa saya baru rajin ke tempat seperti itu ketika saya sudah sering bermain bersama teman? Dan untuk mengklarifikasi kebingungan saya, saya bertanya tentang mengapa kami tidak terbiasa jajan di luar rumah seperti orang lain. Dengan santainya, "Soalnya mama juga ga yakin sama minyak yang dipakai sama tukang gorengan. Atau bahan makanan yang dipakai orang-orang yang jualan." Untuk makan pagi, memang biasanya sudah tersedia sereal dan susu, juga roti dan selai kesukaan masing-masing anaknya. Itu menjadi pilihan ketika dia belum menyelesaikan masakan pagi. Ketika sore, sebelum saya bermain sepeda keliling perumahan, akan ada pisang goreng hangat yang disajikan di atas meja. Untuk menambah kenikmatan, mama akan mengoleskan mentega dan menaburkan meisis atau parutan keju. Agar lebih menggoda selera, pisang itu pun dipotong ukuran kecil, supaya mudah dimakan. Senang rasanya perut kenyang dan kemudian bermain.


Setelah perut kenyang, ini hanya sepenggal kisah yang saya bisa ceritakan mengenai pahlawan saya. Bagaimana pahlawan saya menanamkan nilai-nilai bagi keluarganya melalui makanan. Dia mengajarkan untuk mengambil makanan seperlunya dan semampunya dimakan. Dia akan memasakkan makanan terenak di rumahnya supaya semua anggota keluarganya tahu kalau rumahnya adalah hal terbaik. Ketika mengajarkan nilai pada anak, persiapkan. Semua orang akan bahagia, tersenyum dan damai ketika perut mereka terpenuhi dengan baik. Sedia makanan sebelum kacau.

Terima kasih, Mam.

Selasa, 19 April 2011

April Penuh Kebaya

Seketika teringat sebentar lagi 21 April, Hari Kartini. Sebetulnya karena melihat twitter teman yang bilang kalau kantornya menganjurkan dengan sangat (alias memerintahkan) untuk memakai kebaya pada tanggal 21 April nanti. Kenapa harus pakai kebaya? Tampak R. A. Kartini menjadi ikon kebaya.

Dulu, saya pernah keliling kampus dengan kebaya putih dan rok batik. Itu dilakukan dalam rangka membantu publikasi acara kampus yang bertemakan budaya. Saya lupa nama acaranya. Padahal waktu itu aku berada dalam divisi dekorasi. Demi kesuksesan acara, saya dengan hati membantu. Kebetulan ketika itu rasa malu saya sedang berlibur dan memiliki kebutuhan variasi kesenangan dalam kampus. Entah ini juga terekam dalam ingatan teman-teman yang lain. Ingatan yang tidak dipastikan adalah apakah itu saya pakai ketika Hari Kartini.

Tulisan tentang R. A. Kartini yang pernah saya baca adalah buku karya Pramoedya Ananta Toer (alm). Kalau saya tidak salah, R. A. Kartini adalah tokoh yang diidolakan oleh Pram. Karena saya suka karya Pram, jadi saya harus membaca tulisannya tentang idolanya. Memang banyak literatur yang menceritakan tentang sosok Kartini, belum sempat saja membacanya.

Kisahnya saya baca ketika saya juga sedang membaca buku tentang feminisme. Ini memperkuat kerangka pemikiran mengenai keberadaan emansipasi wanita.

Semua itu membuat saya mengambil kesimpulan pemikiran yang dipegang oleh R. A. Kartini adalah sederhana. Sepatutnya kita menghargai manusia selayaknya manusia itu sendiri. Itu yang dicerminkan pada dirinya. Dia melakukan apapun yang bagi dirinya memanusiakan dirinya.

Bertahun-tahun lamanya, setiap 21 April, kita menyebut namanya Kartini. Hanya Kartini, tanpa gelarnya. Mengapa demikian? Dengan kebutaan saya terhadap keadaan sosial ketika itu. Mungkin sulit melepaskan hal yang melekat pada diri. Peran sosial yang kita emban akan selalu dilihat secara bersamaan dan hal itu mengaburkan adanya seseorang sepenuhnya. Oleh karena itu, dia membutuhkan Panggil Saya Kartini. Dia membutuhkan pengakuan akan eksistensinya.

Kalau yang terjadi sekarang, teman kita mudah saja melihat siapa diri kita. Sewaktu-waktu dia melihat kita sebagai anak dari keluarga (misalnya) terpandang. Tapi hal itu tidak menyulitkan dia untuk mengetahui bahwa selayaknya manusia, masih ada pergulatan tentang romantika atau apa saja lah.

Kenapa Kartini harus menjadi tokoh? Karena dengan kondisi yang ketika itu tidak adil bagi perempuan, dia dapat melakukan apa yang sewajarnya dia dapatkan. Dia menunjukkan semangat untuk memperoleh kesempatan berkembang sebagai manusia. Status sosialnya sebagai bagian dari keluarga terpandang memungkinkan dia memperoleh sumber bacaan terbaik dan teman-teman diskusi atau berkorespodensi. Dia memiliki akses yang tidak dimiliki orang awam dan itu dia manfaatkan dengan baik. Selebihnya, dia menjalni kehidupan seperti orang pada umumnya.

Haruskah emansipasi terus berjalan di dalam era yang penuh modernitas ini? Bagi saya, ini bukan sekedar perjuangan perempuan mendapatkan persamaan. Ini merupakan perjuangan manusia Indonesia demi kebaikan. Orang cacat juga memiliki hak. Belum lagi anak-anak yang terlantar. Perempuan, hanyalah satu titik dari rentetan perjuangan yang terus patut diperjuangkan. Laki-laki juga memiliki hak. Semua orang memiliki hak. Jangan biarkan orang lain merebut yang merupakan bukan haknya.

Kebaya hanyalah baju tradisional Indonesia. Penampilan fisik mempermudah orang untuk melihat semangat yang kita miliki di dalam diri. Membuat sesuatu yang abstrak menjadi hal artefak (fisik), maka kebaya adalah salah satu caranya. Yang penting, kita tahu alasan kita menggunakan kebaya di Hari Kartini. Bukan sekedar mengikuti yang orang lain ikuti tapi juga atas semangat perjuangan Kartini.

Hargai diri kita dan alam semesta!

Terorisme

Berat rasanya berbicara soal terorisme. Mungkin gara-gara post ini, saya bisa masuk dalam daftar orang yang patut dicurigai. Semoga saya sebelum dimasukkan dalam daftar, para penyelidik menyempatkan diri untuk membaca blog saya. Jadi, traffic blog saya pun bertambah. *Informasi tambahan yang tidak penting sama sekali*

Pada 15 April 2011, terjadi bom bunuh diri di Cirebon. Bukan sembarang bom. Pelaku memilih tempat kejadian di Masjid Adz Zikro, Mapolresta Cirebon. Jemaahnya tentu kebanyakan berasal dari kepolisian. Ketika saya dengar kabar ini, dianggap sebagai angin lalu.

Agak malam, saya meng-klik berita-berita di media elektronik. Ada satu artikel yang memunculkan pendapat dari tokoh politik. Tiba-tiba saya pun tersadar. Bener juga, ini bisa kita anggap bukan sekedar bom penyebar teror. Lebih dari itu. Tempat pengeboman mewakili sesuatu. Kenapa Cirebon?


Saya tidak tahu kenapa Cirebon yang dipilih.

Kalau saya sepatutnya menggunakan ilmu yang pernah saya pelajari dengan baik, topik ini bisa menjadi diskusi berkepanjangan tanpa makna yang benar-benar memberikan solusi. Untungnya, saya hanya ingin menuangkan secercah celetuk pikiran saya. Secara awam, terorisme itu adalah apapun yang menyebarkan teror. Tidak perlu ditambah -isme juga sudah cukup menyeramkan. Itu berbicara soal terornya. Teror dari bom ini apa? Siapa yang terkena efek teror?

Hubungan sosial di masyarakat Indonesia terasa penuh kepercayaan dan kekeluargaan. Didukung dengan sila pertama dari Pancasila yang merupakan dasar negara Indonesia yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Tampak percaya dan yakin akan keberadaan Tuhan dalam hidup bernegara. Peledakan bom tersebut terjadi di dalam masjid, yang merupakan rumah ibadah bagi umat Islam. Bom meledak ketika takbir dilafazkan. Siapa orang ini? Seakan memperjelas bahwa orang tersebut tidak layak memegang kewarganegaraan Indonesia dan tidak memiliki keyakinan akan Tuhan dan ibadah.

Kembali lagi, kemana efek teror ini? Kemanapun teror ini tersebar berarti orang tersebut patut disebut teroris. Dia telah berhasil menyebarkan teror. Ini mendorong agar kita lebih waspada terhadap lingkungan sekitar kita. Terorisme dapat menargetkan siapapun, dengan satu kondisi: teror tersebar. Sialnya, kejadian kemarin berada dalam lingkungan jemaah kepolisian. Efek teror semakin besar. Lembaga yang dapat menjadi cerminan pengamanan masyarakat pun dapat berada di dalam kondisi terancam. Kejadian itu begitu melecehkan.

Kalau saya adalah orang yang sering kentut dan kentut saya bau. Maka, pertama kali saya kentut di hadapan orang yang baru saya kenal adalah peringatan pertama bahwa teror akan terjadi. Teror kentut bau. Bisa saja, orang-orang menjauhi saya dan mengucilkan saya agar tidak menyebarkan teror itu lagi. Atau ada yang baik hati dan menjadi pengawas makanan saya agar saya mengurangi makanan yang dapat menimbulkan bau busuk.

Pada akhirnya, saya juga menjadi bingung arah tulisan saya kali ini. Antara bom paku dan bom kentut sulit dipisahkan pembahasannya. Yang pasti, kita harus lebih waspada di manapun kita berada karena bahaya selalu ada.

Jumat, 15 April 2011

Wabah Ulat Berbulu

Wabah ulat bulu yang diangkat oleh media dan senyatanya memang terjadi, menggemparkan. Pertama muncul di Probolinggo, Jawa Timur. Bermunculan juga di Madiun, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, bahkan pagi tadi koran lokal Lampung menyatakan wabah ulat bulu di Kalianda, Lampung Selatan. Tampak ulat bulu berhasil memalingkan perhatian sebagian orang tentang keberadaan mereka.

Karena bersama keluarga, aku terbiasa dengan kupu-kupu. Kupu-kupu adalah spesies yang kita ketahui mengalami proses metamorfosis sempurna. Kalau telur kita tentukan sebagai titik fase pertama. Maka selanjutnya adalah ulat, kepompong, dan kupu-kupu dewasa. Sejauh yang kutahu, ulat yang kemudian bermetamorfosis menjadi kupu-kupu adalah ulat yang tidak berbulu. Jadi, kalau banyak pendapat yang menyatakan ulat berbulu itu akan menjadi kupu-kupu. Itu membutuhkan bukti.

Kalau dia tidak menjadi kupu-kupu, lalu menjadi apa, dong? Itu yang perlu kita ketahui. Sebetulnya dia menjadi apa? Fase ulat adalah fase yang umum dialami oleh kebanyakan serangga. Ulat di dalam buah kan tidak menjadi kupu-kupu, dia menjadi lalat buah. Lebih jelasnya, memang harus bertanya pada entomolog atau biolog.

Dulu, sering berbincang dengan mama tentang ulat, kupu-kupu, dan hama. Apakah kupu-kupu itu hama? Mamaku bilang, "Sesuatu yang berlebihan itu selalu menjadi hama. Itupun tergantung perspektif. Biasanya, orang pertanian mengutamakan produktivitas. Kalau ada yang menganggu produktivitasnya, itu dianggap hama" Perbincangan berikutnya dilanjutkan dengan keseimbangan ekosistem.

Sebelum terlalu jauh bincang sana-sini. Melihat berita ulat bulu, mengingatkan pada film X-Files, dalam film itu belalang menjadi senjata biologis. Bagiku, wabah ulat bulu ini seperti dengan wabah belalang. Ada sesuatu yang tidak beres di dalam ekosistem. Ada jumlah yang berlebihan. Sesuatu yang berlebihan itu tidak pernah menjadi hal yang baik.

Seperti yang kita pelajari di pendidikan formal, rantai makanan dan piramida makanan diajarkan pada bab yang sama. Kalau kita melihat ada populasi yang berlebihan, maka berarti predator bagi populasi tersebut tidak seimbang. Untuk ulat, predatornya mungkin saja burung. Jadi, bisa saja populasi burung sudah menurun, sehingga pengontrol populasi biologis juga telah terancam karena orang lebih memilih burung berada dalam sangkar dan memakan apa yang disediakan oleh pemeliharanya. Harusnya orang lebih panik membahas, kemana perginya predator ulat bulu ini. Bisa saja predator biologis adalah jawaban utamanya.

Aku pun bertanya pada mama tentang wabah ulat bulu ini. Dengan sederhana dia menjawab, "Kalau berlebihan, tinggal disemprot atau apa. Itu kan siklus. Nanti juga kembali normal". Sederhana saja. Tidak berlebihan.

Ada artikel, entah di media mana, menyatakan bahwa wabah ulat ini menyebabkan mangga tidak produksi. Jadi penasaran, apakah itu benar berkorelasi lurus. Kalau kita biasa dikelilingi pohon, pasti kita juga tahu, kalau pohon itu kita pangkas habis daunnya, maka akan muncul daun-daun muda. Mamaku sering melakukannya kalau tanaman kena penyakit daunnya. Tapi entah, apakah itu mempengaruhi buah si pohon. Kalau men-setek, dianjurkan untuk mengurangi jumlah daun secara drastis, supaya tanaman berkonsentrasi pada penumbuhan akar. Setahuku, ada tanaman yang memerlukan stimulan agar dia berbuah. Terserah narasumber dan reporter media massa menyampaikan berita. Semoga tidak memberikan wawasan yang salah.

Kalau wabah ulat bulu ini dapat mendorong Pulau Jawa sebagai pulau serangga Indonesia, kenapa tidak? Justru itu semakin menunjukkan kalau Indonesia mendukung pelestarian lingkungan. Atau mungkin populasi ulat di Jawa sama dengan populasi manusia-nya. Sama-sama banyak.

Jumat, 08 April 2011

Kunjungan Teman

Yang datang berkunjung adalah teman papa mama aku yang mereka kenal sejak di bangku kuliah. Mereka adalah suami istri yang tinggal di Yogyakarta. Pengikat memori pertemanan mereka adalah Pondok Pesantren Pabelan. Kadang kalau papa mama sedang berbagi cerita tentang teman lama mereka, salah satu yang menjadi titik tolak bentuk interaksi dalam pertemanan mereka.

Dulu, papa mama pernah cerita kalau awal tahun 1980-an, papa pergi ke Pabelan. Dia membangun sistem air bersih untuk pondok pesantren bersama teman-temannya. Itu bukan hanya sekedar membangun instalasi air tapi membangun pemahaman atas kebutuhan dasar manusia. Kebersihan. Saya tidak pernah ikut pondok pesantren. Kalau dibayangkan dalam satu sekolah negeri, paling tidak ada 300 orang. Maka, di waktu yang bersamaan, kami mengakses air untuk melancarkan aktivitas rutin sekolah. Dijadikan contoh, mengambil wudhu sebelum shalat wajib. Ada hikmahnya sunah membasuh sebanyak 3 kali, supaya kita tidak boros dalam membersihkan diri. Kalau 10 kali membilas, entah jadi berapa liter yang kita perlukan. Berapapun jumlah air yang diperlukan untuk membersihkan diri dari najis kecil, dikalikan 300 orang. Intinya, permasalahan air itu bukan mainan, itu adalah masalah serius.

Cerita itu disudahi dulu. Pertemuan kali ini memiliki sekian banyak perbincangan. Dari sekian itu, ada satu hal yang mencuri perhatian saya. Ketika dia menceritakan Gunung Merapi beraksi. Pemberitaan dan pencitraan media massa membuat saya berpikir bahwa hanya teror yang disebarkan oleh aksi Gunung Merapi. Menyeramkan berada di sekitar wilayah itu.

Sang istri, dengan kekagumannya, menceritakan bahwa Gunung Merapi itu gagah. Dia mengilustrasikan dengan gemuruh yang terdengar menunjukkan kekuatan. Nyala laharnya ketika malam bagaikan selendang merah yang diturunkan dari langit, menyala dan menarik perhatian semua orang.

Pernyataannya itu bagaikan suatu rasa kagum atas fenomena alam yang terjadi di alam secara alami. Memahami alam sebagai alamnya. Bukan sebagai obyek manusia. Sederhana saja, tidak ada yang dilebihkan.

Aku jadi tersadar bahwa banyak sekali yang terjadi secara alami di sekeliling. Tiap kejadian memiliki keajaibannya sendiri. Seperti ketika kita melihat senyum yang mengembang di bibir keponakan kecil. Saat seseorang tertawa dan matanya menyipit. Ketika ulat perlahan mengeras dan membentuk kepompong. Melihat kue yang perlahan mengembang karena panasnya oven pun memberi kenikmatan yang menyenangkan.

Lalu dia bercerita kalau debu merapi yang ada di rumahnya dengan cepat disapu oleh hujan yang turun. Tidak menjadi masalah yang berat. Alam memiliki mekanisme sendiri dalam menangani masalah setelah konflik. Bukankah itu keajaiban?

Kita memang harus lebih peka. Lebih sadar atas apa yang terjadi. Santai saja, tidak perlu berlebihan. Semua pada batas kewajaran penuh misteri dan keajaiban. Semoga kita tidak perlu debu vulkanis untuk menyadari hal itu.

Senin, 04 April 2011

Surat yang Kutunggu

Minggu lalu, ada yang mengetuk pintu dan berkata, "Ini buat mbak Gita". Ternyata Pak Pos mengantarkan surat yang kutunggu-tunggu. Teringat lagu Vina Panduwinata.

Senang membacanya. Terasa seperti masih ada yang peduli dengan diriku di luar sana. Di dalam lingkungan sehari-hari yang sudah jelas siapa yang peduli. Itu menjadikan surat penghibur hati luar biasa. Dulu, sebelum dia pindah ke Malang. Biasanya aku mampir ke rumahnya dengan bekal sejumlah pikiran yang tak tertuang dalam perbincangan bersama orang lain. She's a wonderful person.


Ow! Postcard-nya! Kartu posnya luar biasa menyenangkan. Senang dan super senang mendapatkan apa yang tidak dimiliki semua orang. Terlebih, kartu posnya berasal dari Negeri Kincir Angin, harusnya kan ini menjadi kepemilikan dia yang langka. Menjadi super kebahagiaan.

Isi suratnya adalah jawaban dari pertanyaan yang aku berikan di suratku. Setelah kupikir, mungkin aku tidak perlu bertanya pada siapapun karena jawaban itu sudah di dalam diri. Mendapatkan jawaban itu melalui orang lain seperti mengingatkan bahwa aku masih belum peka terhadap yang terjadi di dalam diriku sendiri. Bukan merugi, hanya saja aku melemah.

Ada satu hal yang bisa dibahas kepada khalayak ramai dari isi surat itu. Dia bilang, blog aku serius tapi kurang panjang. Hmm... Serius, ya?

Lalu aku berpikir, "Aku serius? Masa sih?". Rasanya tulisan yang aku bikin hanyalah hal yang terlintas sejenak di dalam pikiran dan agak mengganggu kalau dibiarkan di dalam hati dan menjamur dan mempengaruhi pikiran lainnya. Dibuat dengan santai dan mencoba menjelaskan dengan baik. Kemudian, aku pun tertawa terbahak-bahak (di dalam hati). Ternyata, aku memang se-serius itu. Pendapat orang lain pun kubahas panjang lebar kenapa dia memiliki pendapat seperti itu dan sebagainya. Seandainya aku memang BUKAN orang yang serius, pasti aku hanya tertawa dan melupakan begitu saja. Karena apapun yang dinyatakan akan mudah terpatahkan.

Lalu, apakah serius itu menyiksa dan buruk? Aku tidak pernah berpikir bahwa tulisan-tulisan ini akan masuk dalam kategori serius. Dalam mengetiknya pun aku tidak pernah sambil jidat berkerut dan bolak balik membuka halaman referensi. Jadi terpikir kemudian, memang serius itu begitu? Apa itu serius?

Kalau hanya isu politik, ekonomi, dan kenegaraan dianggap serius, rasanya tidak adil. Semua yang ada di dunia ini serius! Aku juga serius menertawakan diriku. Kalau tidak serius, mana bisa terbahak-bahak. Aku mencoba mencari kesalahan dari sesuatu pernyataan yang benar. Kurang bodoh apa lagi itu? Membuat diri ingin terbahak-bahak.

Bahkan membuat kue juga harus serius. Kalau tidak serius, nanti kuenya bisa gosong. Kalaupun gosong tidak apa karena itu berarti ovennya terlalu serius memanggang si kue. Hahaha.

Jadi, saya anggap kata-kata dari teman saya itu adalah pujian. Walau pada awalnya sulit diterima. Kalau untuk panjang tidaknya suatu tulisan yang aku muat dalam blog ini, aku cuma bisa bilang kalau itu tergantung. Kadang aku bosan mengetiknya dan kadang juga aku berpikir kalau orang yang membaca bisa kebosanan hingga tertidur kalau terlalu panjang.

Terima kasih teman! Telah mengirimkanku surat dan kartu pos. LUAR BIASA!

Rabu, 30 Maret 2011

Kemampuan Monyet

Kemarin saya nonton acara Chimps are People too. Hanya satu episode itu yang saya tonton, semoga tidak lupa untuk menonton episode berikutnya. Kalau kita artikan judlunya, Monyet juga Manusia itu berarti sama saja bahwa manusia itu monyet. Apakah itu benar?

Secara genetika memang tidak perlu diperdebatkan. Mereka sangat berbulu, di seluruh tubuh.

Episode itu membahas tentang apakah permonyetan juga manusia. Dilihat dari segi kemampuan kerjasama. Saya lupa penelitiannya berada di mana. Ada dua ekor monyet. Monyet 1 dilepaskan di kandang besar. Ada pintu penghubung dengan monyet 2. Dibuat skenario, ada dua tali yang berjarak cukup jauh. Jika tali itu ditarik, maka ada pisang sebagai hadiah. Untuk itu, monyet 1 membutuhkan bantuan monyet 2 dengan membuka pintu penghubung terlebih dahulu. Namun, ketika tali dibuat berjarak dekat, dia tidak membuka pintu penghubung dan dia menikmati pisang sendirian. Itu berarti monyet mampu memutuskan kapan dia membutuhkan bantuan dan mampu melakukan penyelesaian dari masalah yang dia hadapi.

Di tempat penelitian lainnya, ada 2 monyet yang dikarantina. Dua monyet ini diberikan kotak yang bisa mengeluarkan biji-bijian untuk mereka makan. Untuk itu, dia bisa mendorong atau mengangkat bagian dari kotak. Manusia (presenter acara) mampu menemukan dua penyelesaian itu. Dua monyet itu tidak mampu. Ketika 2 monyet itu dilepas ke dua kelompok monyet yang berbeda. Masing-masing kelompok mampu melakukan yang juga dilakukan oleh monyet yang dikarantina, tetap tidak dua cara. Hanya satu cara. Seperti layaknya manusia sosial, mereka juga mampu melakukan imitasi terhadap lingkungannya.

Di tempat yang lain lagi, tempat penelitian monyet bonobo. Adegan pertama yang menunjukkan monyet bonobo mampu memasak mie instan dengan menggunakan kompor. Lalu, ada juga perangkat yang dibuat untuk memudahkan komunikasi. Sehingga, secara verbal presenter dan monyet bonobo mampu berkomunikasi.

Peneliti monyet bonobo menyatakan kalau mau membuat monyet seperti manusia, maka harus diperlakukan sungguh seperti manusia. Mereka juga harus diajak jalan-jalan ke pusat perbelanjaan atau manapun.

Kembali kepada komentar teman saya di tulisan sebelumnya bahwa manusia adalah insan perusak. Manusia mampu membuat pembatas antara makhluk hidup lainnya. Baik itu flora maupun fauna. Dengan mudahnya kita mengisolasi diri kita dengan yang lain. Sebagai contoh, kita membuat alat tukar yang disebut uang. Uang itu yang kita jadikan nilai dalam menjadikan hidup lebih nyaman atau apapun itu. Manusia juga memiliki kemampuan untuk menciptakan alat bantu yang luar biasa, menambah nilai kenyamanan dalam hidup.

Manusia yang membuat bangunan dari bata, semen, baja, dan lainnya di atas tanah. Atau ada juga yang menyusun papan di atas pohon. Menanam pohon di tempat yang bukan habitat aslinya. Intinya, kita melakukan sesuatu yang tidak akan terjadi dengan sendirinya oleh alam.

Bagi saya, monyet bukan manusia. Tiap dari makhluk hidup memiliki kemampuan adaptasi dengan lingkungan yang berbeda-beda. Manusia tidak hanya beradaptasi tapi juga membuat habitat yang nyaman baginya.

Saya iri dengan orang yang memiliki latar belakang ilmu alam, mereka mampu menjelaskan banyak hal tentang yang terjadi di alam. Keren sekali.

Kamis, 24 Maret 2011

Isu Hijau

Beberapa hari belakangan ini saya berinteraksi dengan penggiat isu lingkungan. Kalau Anda sekalian ingin menganggap mereka atau anda sendiri sebagai penggiat lingkungan, saya tidak keberatan. Perbincangan panjang lebar soal pengalaman lebih banyak dan aspek lingkungan sesekali ketika topik perbincangan sedang mengarah ke wacana yang tepat.

Berada dalam perbincangan itu, membuat saya berpikir (lagi dan kembali), kenapa orang harus begitu gembar gembor soal isu hijau?

Masyarakat yang berada di perkotaan begitu panik tentang cara memperbaiki kehidupan yang lebih bertanggung jawab kepada lingkungan. Masyarakat yang berada di pedesaan selalu panik dengan hasil produksi yang tidak sesuai dengan waktu pemenuhan kebutuhan, seperti membayar keperluan pendidikan atau lainnya. Kalau hal di perkotaan dan di pedesaan dipersatukan, maka a perfect combination.

Maksudnya begini, waktu dulu saya pernah heboh mencari cara bagaimana mengolah sampah rumah tangga. Samapi akhirnya saya menemukan artikel tentang kotak takakura. Itupun tidak sepenuhnya saya adopsi. Kalau benar mau menerapkan isu hijau, maka saya pun harus mempertimbangkan pengeluaran yang akan saya putuskan untuk melakukan percobaan dan pelaksanaan hal ini. Karena semua intinya adalah pertanggungjawaban. Saya tidak mencari keranjang plastik yang harganya lebih dari lima ribu rupiah. Saya lihat ada karung bekas, inti pertama adalah memiliki wadah berongga. Hal lain diikuti dengan modifikasi sesuai dengan prinsip utamanya.

Kemudian di lain waktu, saya menjadi tamu tak diundang di suatu pertemuan masyarakat petani. Mereka adalah perwakilan petani padi, kopi, dan coklat. Selain pembicaraan teknisnya, saya melihat salah satu poin dalam kertas yang sedang disampaikan ada kata 'pupuk organik'. Saya bertanya pada salah satu orang yang memang anggota rapat. Dengan mudahnya dia menjabarkan beberapa metode yang bisa dilakukan untuk memperoleh pupuk organik dan skenario lainnya dalam penanganan secara biologis. Mendorong saya ingin mengikuti pelatihan. Sayangnya, pelatihan dilakukan 2 minggu sekali sebanyak 12 kali pertemuan dan waktu tempuh minimal satu jam, itu pun sudah lintas kota. Itu artinya, mereka tidak perlu memakai alasan pemasan global untuk melakukan pembuatan pupuk organik. Mereka hanya melakukan tersebut sebagai hal yang baik dilakukan demi pertanian mereka.

Kadang kita tidak perlu seheboh itu. Seakan-akan sebagian dari kita telah melupakan yang sepatutnya dilestarikan. Sampah organik bisa diurai. Jadi, tidak perlu memiliki tempat sampah yang besar untuk memuat semua sampah. Sebagian yang bisa membusuk atau diurai, lempar saja ke tanah. Supaya tidak menimbulkan bau, tanahnya dibuat lubang dan ditutup secara bertahap setelah sampah dibuang. Kalau tidak ada lahan tanah yang cukup luas, maka pilih metode lain yang bisa kita lakukan, seperti kotak takakura atau kotak cacing atau apa saja yang bisa membantu penguraian sampah organik. Ada banyak cara, kita tinggal pilih yang dapat kita lakukan. Lalu, apakah kita memilih metode akrab lingkungan hanya alasan pengangkatan isu oleh media? Atau memang kita memilih untuk menjalani hal itu secara sadar?

Ada pula yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya. Itu bagus. Kita patut menghargai pilihannya. Yang biasa bersepeda puluhan tahun, memiliki keinginan besar untuk berkendaraan motor. Yang berkendaraan motor, melirik sepeda sebagai kendaraannya. Lucu. Bisa pilih satu atau harus pilih dua-duanya?