Rabu, 29 September 2010

The Sorcerer's Apprentice

Tulisan gue kali ini pengen gue bikin sebrutal mungkin. Lagi bawel ga ketulungan dan ini terasa lucu sekali.


I just got back from movie theater, i was watching my old friend (maybe he is old-actually, it depends on how old you are (readers)). The Sorcerer's Apprentice. Ternyata gue hampir sepenuhnya setuju ama nyang nulis di IMBD kalau ni film masuk ke genre (genre itu bahsa Indonesia-nya apa ya?) action, adventure, comedy, dan drama. I prefer drama, drama, drama, and action. Hahahaha. I kinda enjoyed it.


Hal pertama yang harus dikomentari adalah emang kalau mau jadi jagoan itu kudu pinter yah? Spiderman kan juga pinter, wartawan dan suka apa itu entah yang berbau sains dan hitung-hitungan itu. Si -eh, bentar, kok gue lupa namanya- hmm... siapa ya? Aha! David! Or juga dipanggil Dave. Gara-gara kejadian bodoh di umur 10 tahun. Dia menjadi berada dalam kurungan kebodohan -sesuatu berbunyi seperti itulah pokoknya-. Dia menyukai fisika so much! Yang bikin tambah lucu adalah ketika dia mengeakui bahwa tugas akhisnya yang selama ini dikerjakan tampak kurang, dan ketika ditambah dengan musik yang dia dengar ketika si nona cantik-dan-manis-yang-mirip-sekali-dengan-Bella-Swan siaran di radio kampus. So sweet? Film drama gitu loh!


Gue teringat dengan konveti yang begitu banyak di tengah festival Pecinan. What I like, when the Barongsai transformed to be a real dragon. Secara keseluruhan dia menggunakan beberapa animasi kayaknya tapi agak kentang gitu deh. Ada musuh yang mengendalikan naga yang ada di perutnya. Tu orang bentar doang nongolnya. Padahal keren tuh.


Terus, si Dave meminta pada gurunya untuk memberi kesempatan mendekati si nona karena 10 tahun yang lalu, kejadian memalukan itu mengharuskan dia pindah sekolah dan berobat dengan psikiater plus diagnosa entah penyakit apa. Terpintas, Kalau 10 tahun yang lalu, pria manakah yang aku idamkan? Apa rasanya mengejar impian masa lampau? Was it fun? As good as it gets? Yup. Noone. Hahahaha. Sepuluh tahun yang lalu itu tahun 2000, pas lagi SMA kelas 1-2 dan masa-masa itu adalah masa kejayaan gue berlaku sebagai provokator kelas. Semua perhatian teralihkan dengan kegiatan fisik. Entah itu loncat-loncat di kelas, menendang pintu, berlarian, atau hanya sekedar melatih otot mulut dengan mengeluarkan suara.


After back home, emang beneran terjadi cowok-cowok jadi semacam terhambat atas keberadaan perempuan? Beneran ga sih? Berarti yang bodoh yang mana? Atau siapapun, kenapa seorang itu bisa membuat dirinya terhambat dengan adanya orang lain. Sang guru (si N. Cage) yang terlemahkan oleh adanya Victoria, termimpikan untuk memberikan kalung kepadanya. Semua orang menginginkan kisah yang sama. Gitu? 


Seperti days ago, ketika gue dan 2 orang teman, berada di kendaraan roda empat -bukan andong-.
Me: Saya bosan menyetir.
Friend: Makanya, Git, cari pacar. Kan biasanya kalo pacar plus jadi supir.
I was silence. rasa-rasanya pengen ngomong, "emang harus nyari? So far i did, emang gue ga usaha ya? Emang kudu gimana? Kalau soal pacar jadi supir, rasa-rasanya ga sreg mendengar kata itu. Kalau pergi ke suatu tempat, diantar pacar, siapa yang ga seneng? Kalau lagi cape, terus tiba-tiba ada yang datang dengan senyuman mengembang? Siapa yang ga seneng? Tapi kan semua orang juga manusia (namanya juga orang, ya manusia lah ya). Masa iya gue tega minta anterin dia kemanapun gue mau pergi, padahal dia punya kerjaan numpuk atau agenda sejibun? Would I dare?
Aku terpaku bukan karena bingung menjawab tapi karena sejuta pikiran-pikiran yang muncul.


Kembali kepada bahasan film, emang kudu segitunya yah kalau suka ma orang? Atau emang gue se-ga-romantis-itu? Kayak si nona manis yang rela meniadakan rasa takutnya akan ketinggian untuk membantu si Dave, yang barely baru ketemu lagi beberapa kali. Ga perlu konfirmasi lanjutan dulu gitu? Tapi kalo kepanjangan juga ga jadi film bioskop yah. Ntar jadi sinetron dah.


Kalau membunuh seseorang yang ada di dalam guci semudah itu, menjatuhkannya dari ketinggian. Kenapa si istri yang tidak disukai itu lama sekali menempati tempat itu yah? Itu janggal pertama. Kalau kedua, suara Dave suka terdengar double or menggetar. Itu gara-gara sound STUDIO-nya jelek banget atau karena si Dave emang gitu ya ngomongnya?


Ada lagi! Emang penyihir itu harus pake pointed shoes yah?


Owww... Ada sentuhan yang terasa disney sekali. Ketika si Dave memerintahkan para sapu, pel, dan spons membersihkan lab-nya yang kotor super duper. Gerak kain dan permainan lagunya. So Disney!


Well, yang gue suka dari film itu adalah si nona cantik-dan-manis-yang-mirip-sekali-dengan-Bella-Swan dan the idea of smart guy is so attractive. 

Sabtu, 25 September 2010

Di Antara Lukman Sardi

Minggu kemarin adalah minggunya Film Indonesia. Dua diantaranya yang saya tonton adalah Darah Garuda dan Sang Pencerah. Kesamaan kedua film ini adalah Lukman Sardi.


Kalau mau berpendapat sinis,
'Indonesia ini memang kekurangan aktor yah! Padahal penduduknya ratusan juta jiwa! Dimana yang lain?'
Selanjutnya, saya mau berpendapat lain tentang film yang saya tonton.


Awalnya saya pikir Darah Garuda akan rilis pada bulan Agustus, seperti janji para pembuat filmnya. Mereka ingin menjadikan film ini pembakar semangat nasionalisme. Antusiasme saya di bulan Agustus mencari tahu tentang sekuel Merah Putih. Saya ingat, ketika keluar dari bioskop setelah menonton Merah Putih, ingin sekali ikut memekikkan 'Merdeka!' Mungkin ada hal-hal lain yang menyebabkan Darah Garuda rilis di bulan September.


Diawali dengan perjalanan mereka menuju entah berantah. Pergulatan emosi Senja, mulai diangkat. Kegoyahan pertama ketika dia harus memetik buah kopi yang masih hijau, "Apakah ini yang harus dilakukan oleh keluarga terpandang?" Tidak lama dari itu, dengan seenaknya penjajah melampiaskan hawa nafsu dengan pribumi. Kenasionalismeannya dipertanyakan olehnya sendiri, ketika keluarganya diluluh lantakkan oleh pribumi juga. Akhirnya, toh, dia tetap memilih ikut berperang.


Tapi senja bukan tokoh yang menonjol. Saya memperhatikannya karena di Merah Putih I, sang pembuat film menyatakan bahwa Senja akan banyak berperan dalam film Darah Garuda. Perannya di film ini tidak kentara. Yang saat ini mau ditunjukkan adalah mereka ini adalah sekelompok orang hebat yang memiliki misi untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sampai titik darah penghabisan, menyerang titik terlemah Belanda.


Kapten Amir sempat berdiri di tengah lapangan tanpa tertembak sedikit pun. Dayan tak ingin berkata apapun sampai kehilangan lidah. Tomas berlari di atas sayap pesawat tanpa terluka, hanya berlumuran darah tanpa luka bakar. Marius mengumpat, bersembunyi, namun tetap saja selamt. Alih-alih mereka menembak bajingan Belanda, mereka hanya meneriakkan semangat kepada temannya yang sulit berjalan dan akhirnya tertembak Belanda.


Saya bingung. Kenapa ketika keluar dari studio itu, hati ini tidak menggelegar ya? Rasa untuk memerdekakan Indonesia semacam tak tersentuh? Ini salah saya. Saya terlalu berekspektasi ketika menonton.


Selang dua hari, saya menonton Sang Pencerah bersama adik dan kedua orang tua saya. Lagi-lagi, sosok Lukman Sardi muncul. Dia memerankan KH. Ahmad Dahlan.


Menonton Sang Pencerah terasa lebih menghibur. Sebelumnya, saya pernah menonton film karya Hanung Bramantyo. Takutnya, lokasi di daerah Jawa tapi logat pemerannya masih kental dengan tanah kelahiran (bukan Jawa). Atau, terlalu menggumbar ekspresi muka para pemeran. Sekarang lebih baik.


Perbincangan dalam bahasa Jawa cukup kental mewarnai film. Sosok KH. Ahmad Dahlan dengan baik diperankan, menunjukkan bahwa KH. Ahmad Dahlan adalah seseorang yang patut kita jadikan tauladan. Slamet Raharjo dengan menyenangkannya tepat melakukan oposisi dengan keberadaan KH. Ahmad Dahlan. Dengan indahnya, sebuah adegan menggambarkan bahwa kita semua adalah manusia yang kadang membiarkan ego-nya merajai hati dan pikiran.


Bagi saya, beberapa ekspresi pemain dibuat seperti layaknya bermain teater, terlalu berkerut hanya untuk menunjukkan sikap bermusuhan. Padahal dalam pengambilan gambar, wide ataupun medium close-up, rasa-rasanya tidak perlu sehiperbolik itu.


Di dalam film itu, KH. Ahmad Dahlan membuat meja kursi untuk belajar para anak sekolah. Tindakannya itu ditentang banyak orang karena dianggap mengikuti ajaran kafir. Di sisi lain, ada segerombolan orang yang merubuhkan suraunya. Sentilan buat kita, apa yang kita sebut kafir? Kalau ternyata perbuatan kita terhadap yang lain itu adalah tercela, tidak menghargai keberadaan manusia secara utuh.


Hidup memang bagaikan roda yang berputar, ada saat kita di atas dan ada saatnya berada di bawah. Sekiranya itu semua supaya hidup di dunia ini seimbang. KH. Ahmad Dahlan juga dibuat lemah, selayaknya manusia, ketika dia patah semangat karena terbakarnya suraunya. Dia merasa itu saatnya dia untuk pergi karena dia tidak diterima oleh masyarakat yang ia kenal.


Tuhan Maha Adil. Ketika umat-Nya berusaha menjadi lebih baik, Dia akan memberikan banyak kemudahan.

Kamis, 09 September 2010

Rumput Hijau

Rumput halaman tetangga tampak lebih hijau dari halaman kita.

Alasannya sederhana saja. Bisa karena kita tidak punya halaman. Atau karena tanah halaman sudah ditutupi dengan konkrit atau blok batu. Karena satu dan lain hal, sehijau apapun halaman kita, halaman tetangga tampak lebih indah.

Tetangga kita punya bunga mawar yang terus bermekaran, merah menggoda. Tetangga yang sebelah sana punya pohon mangga yang ketika musimnya menggoda dengan lekuk buahnya dan lidah yang seketika mengecap rasa segar. Ada juga yang halamannya hanya rumput hijau, membangunkan rasa untuk berlari kesana kemari.

Parahnya, kalau kita merasa iri sampai mengandaikan untuk pindah rumah. Membayangkan rumah baru dengan halaman yang rumput hijaunya tumbuh subur. Bagian pojok sana ditanami berbagai mawar agar rumah terus berwarna. Halaman belakang di tanam buah mangga. Kalau-kalau dia berbuah, itu menjadi pemandangan yang indah.

Sebetulnya seberapa hijau rumput tetangga? Seberapa bagus halaman tetangga? Haruskah kita iri?

Kalau tetangga cuma punya mawar. Kita punya bunga yang mengundang burung penghisap madu untuk hadir dan berkicau di pagi hari. Dua batang pohon yang berbunga dan bunganya bisa kita makan. Belum lagi koleksi bunga kamboja (dengan nama beken Adenium) yang berbunga untuk waktu yang lebih lama dan warna yang beragam. Ada juga bunga yang diberikan oleh teman terdekat baru saja berbunga. Belum lagi kalau Kemuning berbunga dengan semerbak wanginya. Yang itu juga, yang sebelah sana juga ada. Bunga-bunga mungil itu mengundang lebah dan kupu-kupu, para serangga penghisap madu untuk hadir.

Pohon yang berbuah memang bukan mangga. Ada buah tin yang sebesar bola golf. Ada lagi yang lebih kecil, rambutan hutan yang pernah merambat di pohon jambu bangkok. Di sebelah pohon bambu, ada pohon yang begitu sopan, sampai-sampai buahnya dia panggil nona (buah nona). Yang paling luar biasa adalah pohon nangka yang tidak pernah berhenti berbuah. Buah nangka itu lalu dibagikan kepada keluarga-keluarga terdekat yang berarti memperpanjang pahala dari sepetak halaman yang ada.

Setelah semua itu, masihkah kita perlu halaman luas yang ditumbuhi oleh rumput segar?

Manusia selalu tidak pernah puas. Seluas apapun halaman yang dimiliki kadang tidak pernah cukup. Berhentilah sejenak. Amati benar apa yang terjadi halaman kita, hitung apa yang sebelumnya tidak pernah terhitung. Siapa tahu, seketika manfaat sepetak halaman kita dapat menjadi seluas yang kita mau.

Kita nikmati saja apa yang ada. Tidak ada yang perlu kita kejar, toh, waktu datang dengan sendirinya. Bersyukurlah.

Senin, 06 September 2010

Sepulang

Aku berharap merasa bodoh adalah hal yang wajar bagi seorang manusia. Kesalahan kerap terjadi. Kekhilafan datang ketika kontrol diri menghilang. Keraguan datang dan menghalangi langkah kita, penyesalan pun datang menghantui.

Aku bersyukur atas kehidupan yang telah aku jalani. Tawa yang begitu menyenangkan. Senyuman yang menenangkan. Tangisan yang membasahi pipi. Hidup yang hidup.

Ketika aku kuliah, aku menikmati langkah kakiku sepanjang trotoar dan badan jalan yang dijejaki. Menikmati dedaunan yang berubah warna hingga menjadi gugur. Mencermati detil-detil jalanan dan kehidupan kecilnya. Terkadang terlintas, "Apa orang-orang yang di dalam kendaraan itu memperhatikan para pejalan kaki? Kalau iya, apa yang mereka lihat?"

Aktivitas yang satu membuat buah pikiran lain muncul. Semakin jauh jarak yang ditempuh, semakin panjang pula buah pikiran yang tercetus. Sebagian terekam, sebagian hanya menjadi angin lalu.

Ketika kita hidup dalam dunia sosial. Kita berhadapan dengan pribadi lain. Kita melakukan perkenalan dan interaksi. Untuk pribadi yang terbuka, perbincangan-perbincangan memunculkan kesimpulan atau ide-ide baru. Menyenangkan. Sepulang dari itu, pertanyaan-pertanyaan tak terjawab menjadi bekal perjalanan menuju rumah.

"Kamu kerja aja di Jakarta atau di luar negeri sekalian".
Haruskah? sudah sekitar 7 tahun aku merantau di pulau seberang. Kembali ke kampung halaman, ingin memberi sumbangsih kepadanya walau sedikit. Haruskah aku pergi? Atas alasan apa? Uang yang lebih besar masuk ke dalam rekening? Baju yang lebih bergaya menurut para fashionista? Atau ego yang tak terbendung? Aku ingin berada di sini, bersama keluarga terdekatku. Mengisi hatiku dengan penuh kasih sayang. Apakah itu berarti aku lemah?

Ketika terlintas pikiran, 'apakah aku lemah' hadir, aku telah meragukan diriku. Harusnya, jika aku kuat sesungguhnya, yang aku nyatakan adalah kalimat positif yang ditutup dengan tanda titik.

"Mbak terlalu picky kali. Makanya belum nikah juga"
Terdiam ketika mendengarnya. Pernyataan teman di sebelahku ini tetap harus dijawab. Namun, sepemilih itukah aku? Sampai-sampai keberadaan mereka sebagai individu ciptaan Tuhan yang sempurna, masih pula kukritik. Sejahat itukah aku kepada orang lain? Kalau benar aku sejahat itu, besar kemungkinannya orang lain juga tidak memilihku masuk ke dalam lingkaran hidupnya. Apa yang kita lakukan pada orang lain, terjadi pula pada diri kita. Bukankah begitu?

Sekarang aku penuh keraguan dan aku sadar akan sesuatu menghalangi langkahku. Aku bingung bagaimana caranya memperkuat hati dan pikiran. Tidak tahu caranya agar diri ini sendiri memberikan penyelesaian. Aku tidak ingin tenggelam terlalu lama. Aku harus ke permukaan menghirup oksigen dan melihat langit biru. Aku rindu hangatnya mentari.