Senin, 26 Juli 2010

Pertemuan Dua Hati

Adalah judul novel Nh. Dini yang baru selesai kubaca.

Novel ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1986. Ketika itu saya baru berumur dua tahun. Buku yang saya miliki adalah cetakan ke-14, dan baru saya miliki beberapa bulan yang lalu. Sebelum membelinya, kalimat di sampul belakang buku begitu menyentuh.
Alangkah baiknya, sekiranya orang-orang tua, guru-guru, dan kalangan pendidik pada umumnya meluangkan waktu untuk membaca novel ini.

Ini adalah buku Nh. Dini yang ketiga yang telah saya baca. Luar biasa menyenangkan membacanya, bahkan juga menenangkan. Selesai membaca buku ini semakin menjadikan Nh. Dini sebagai penulis kebanggaan saya. Caranya menyampaikan cerita yang juga terkadang sarat akan pesan, begitu halus.

Buku ini menceritakan kisah seorang perempuan hebat. Kehidupannya sebagai istri, ibu, dan guru. Ceritanya lebih berbumbu ketika anaknya didiagnosa penyakit epilepsi dan bersamaan dengan itu, salah satu muridnya agak sukar untuk dididik. Sang Guru sempat tergoyah karena pemisahan antara pekerjaan dan hal pribadi adalah perlu. Namun, seiring berjalannya cerita, hal itu justru bercampur aduk.

Cerita ini begitu menarik bagi saya, ketika Sang Guru memperlakukan muridnya layaknya pribadi yang bertanggung jawab. Penghargaannya atas hak asasi sang murid. Perintah yang dimaksudkan untuk mendidik demi kebaikan, disampaikan tanpa paksaan dan ancaman. Dengan begitu, sang murid seperti distimulasi daya nalarnya untuk memahami apa yang baik dan yang buruk.

Cerita sederhana. Akankah kita tetap peka dalam menjalani hidup? Menjalani prosesnya dengan penuh kesabaran tanpa dibebani harapan tak berlandasan.

Senin, 05 Juli 2010

Sepintas Tentang Lampung Timur

Sudah lama tidak menuangkan pikiran dalam tulisan. Agak janggal tapi sesungguhnya begitu merindu hati ini. Harusnya memang tidak ada yang alasan yang benar menghalangi keinginan hati.

Beberapa minggu belakangan, saya 'terjebak' dalam kegiatan yang terkait dengan pemilihan kepala daerah (PILKADA) Kabupaten Lampung Timur. Kata 'terjebak' bisa saja terdengar kasar. Toh, saya yang memilih hal ini terjadi. Sesuatu yang luar biasa, bukan kesempatan yang bisa terjadi dengan mudah pada orang lain. Mungkin.

Ketika awal, saya memang tidak mengetahui apapun. Siapa saya? Penduduk Lampung Timur juga bukan. Keterlibatan saya ini membuat saya memperhatikan apa yang terjadi. Salah satu yang menarik perhatian adalah slogan yang dipilih para kandidat pemimpin daerah.

Kandidat 1 : CITY, YES!
Kandidat 2 : YA-BISA
Kandidat 3 : PNS
Kandidat 4 :
SaE

Secara sederhana, slogan yang mereka gunakan adalah singkatan dari nama Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati. Dengan pemikiran awam saya, saya mengibaratkan slogan ini adalah brand yang merepresentasikan mereka. Representasi atas apa yang akan mereka kerjakan nanti.

Pertama. Kandidat pertama memilih kata dalam Bahasa Inggris. Bagi saya, memberi arti bahwa pasangan ini akan menjalani pemerintahan dengan mempertimbangkan aspek globalisasi. Tentunya karena Bahasa Inggris hampir menjadi bahasa komunikasi dominan yang digunakan antar negara di dunia. Menunjukkan keterbukaan atas informasi dan perkembangan yang berasal dari kerjasama dengan pihak luar. Sebuah desa dijadikan city yang berwawasan luas, mendunia.

Kedua. Slogan yang digunakan pasangan ini, luar biasa. Luar biasa adaptif. Apa yang tidak bisa, ya bisa saja dilakukan. Apa yang bisa, ya pasti bisa dilakukan. Seperti menganggap enteng semuanya. Ambiguisme muncul. Bisa yang seperti apa? Bisa untuk apa? Semoga dia, ya bisa, membangun daerah ini sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Buruknya, ya bisa saja pembangunan ini untuk kepentingan sepihak. Apapun itu, "Ya bisa diatur, lah."

Ketiga. Singkatan yang digunakan oleh kandidat ini erat sekali dengan Pegawai Negeri Sipil. Seakan-akan yang diperhatikan olehnya hanyalah nasib dari PNS. Padahal, kecil kemungkinannya semua penduduk kabupaten menjadi abdi negara. Calon Bupati nomor pilih 3 ini memang berasal dari kalangan birokrat. Wajar saja.

Keempat. Agak janggal. Diakui bahwa mayoritas penduduk Lampung Timur adalah berasal dari Jawa atau berdarah Jawa. Kandidat juga memang orang Jawa. Arti katanya BAGUS. Bagus menurut siapa? Pemilihan slogan dari bahasa Jawa padahal dia tinggal di Kabupaten Lampung Timur, rasanya seperti dia melupakan keberadaan dia di kabupaten ini. Akan lebih baik kalau dia mengutamakan ke-Bhinneka Tunggal Ika-an kabupaten ini, bukannya semakin memperbesar perbedaan.

Sebagai pemilih, kita haruslah bijak dan menimang dengan baik atas pilihan kita. Sekarang, belum ada pernyataan resmi dari KPU Lampung Timur, Kandidat 4 memiliki kemungkinan besar untuk menang. Bisa saja, penduduk belum mau mempersatukan diri mereka dalam perbedaan. Mereka hanya ingin yang bagus saja.

Satu hal, dunia ini tidak hanya sekedar bagus. Masih ada keburukan yang dapat terjadi dalam hidup kita. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Keputusan ada di tangan kita, mau tinggal terdiam atau merubahnya.