Jumat, 21 Mei 2010

Perdebatan

Seperti biasa, pagi hari saya mengantarkan adik tercinta ke tempatnya menuntut ilmu. Di perjalanan pulang, saya mendengarkan radio, sambil meneriaki kebodohan orang lain.

Stasiun radio yang saya  dengarkan mengadakan dialog mengenai sebuah page di dalam situs jejaring sosial yang kira mereka itu menggemparkan. Sebagian orang juga dapat menganggap itu menggemparkan. Hak mereka. Topik yang diperbincangkan adalah pembuatan karikatur seorang Nabi. Narasumber dalam dialog itu adalah seorang anggota DPR Komisi 1, yang dulu sering kita lihat wajahnya di infotainment sebagai ahli telematika, dan Menteri Agama.

Kenapa saya merasa ini seperti dibuat suatu isu yang menggemparkan?

Beberapa minggu yang lalu, saya terlibat dalam suatu diskusi mengenai bagaimana perkembangan teknologi informasi dapat mendukung pembangunan daerah. Salah satu pendapat narasumber, Dosen FT UNILA,
"Yang penting dari teknologi informasi ini adalah PEMANFAATANnya."

Lalu, anggota DPR itu mengatakan bahwa keberadaan page itu begitu meresahkan dan ini merupakan ranah menteri. Dia juga menambahkan mengenai pemerintah harus segera melakukan tindakan, menutup akses rakyat Indonesia atas page tersebut.

Haruskah?

Keluarga saya tidak resah. Alasannya adalah karena mereka tidak begitu tertarik dengan apa yang terjadi di dalam situs jejaring sosial. Bagaimana dengan rakyat Indonesia yang tidak memiliki akses internet? Akankah mereka resah?

Mungkin pemikiran saya kali ini tidak begitu baik. Bagi saya, saat menerima informasi melalui internet sangatlah diperlukan kebijakan atas para pengguna internet. Apakah kita akan menerima dengan begitu saja? Atau kita akan menggunakan hati nurani dan akal kita untuk memanfaatkan informasi itu demi kebaikan?

Saya tidak setuju dengan pendapat anggota DPR itu. Saya memilih agar page tersebut tetap dapat diakses. Terngiang-ngiang di kepala saya akan keterbatasan informasi ketika Indonesia dijajah, baik oleh bangsa lain atau diktator dari bangsa sendiri. Masyarakat haruslah diberikan suatu kondisi agar mereka memiliki kesadaran untuk memilih. Dalam hal ini, informasi yang mereka pilih.

Daripada menutup akses page yang tidak berpengaruh baik itu, bagaimana kalau kita mendalami agama kita dan menghargai perbedaan?

Mari kita kalahkan mereka dengan kebesaran hati kita.

*mohon maaf jika ada pihak-pihak yang tersinggung atas pendapat saya. Saya akui diri saya masih jauh dari kebijakan.

Kamis, 20 Mei 2010

Sampai Jumpa Lagi

[Me] i'm moving out tomorrow.
[Friend] for good?! i'm gonna miss you,ta.

Awalnya, Aku ingin menganggap ini hal yang biasa saja. Layaknya waktu yang terus berjalan. Aku pernah tinggal di Bandung, Aku juga pernah meninggalkannya dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Yang pasti, aku sudah pernah berpisah dengan baik dengan kota ini.

Benarkah kali ini aku tidak bersedih?

Dulu, aku dan teman sekamarku berpisah diiringi keriaan dari teman-teman terdekat. Kami tidur bersama di kamar kami yang kebanyakan barangnya telah dikeluarkan. Aku tidak merasa sedih. Toh, tidak ada yang perlu disesalkan dalam kehidupanku.

Seketika menjadi perih. Teman sekamarku telah pamit, dia hendak kembali ke Borneo. Pagi harinya, teman-teman yang lain  kembali ke rumah mereka masing-masing. Tinggal aku dan ruang yang hampa.

Kehampaan itu seperti menghisapku dan menyisakan kenangan indah. Aku menangis.

Akankah aku bersedih lagi?

Sekitar 5-6 jam sebelum keberangkatan Bis Damri jurusan Bandung-Lampung, aku baru saja selesai membereskan barang-barangku. Semoga tidak ada yang tertinggal. Aku dan teman terdekatku memutuskan untuk menonton Iron Man 2.

Aku pergi ke Cihampelas Walk. Kami mendapatkan karcis untuk pertunjukan sekitar pukul 14.30, selesai pukul 16.30. Sebetulnya cukup dekat waktunya dengan waktu keberangkatan bis, pukul 19.00 WIB. Sedikit tidak masuk akal, memang, memilih untuk menonton di waktu yang krusial seperti itu. Hanya saja tidak tahu hendak melakukan apa.

Lalu aku berpikir, "Sungguhkah aku tidak bersedih? Atau aku sudah benar-benar tidak memiliki perasaan atas kota ini? Tujuh tahun lamanya aku beraktivitas di kota ini? Tak ada kenangan berarti, kah?"
Rasanya aku harus membawa buah tangan, itu yang biasa dilakukan jika orang pulang dari perjalanan jauh.

Aku mengambil beberapa roti. Saatnya membayar, aku berdiri di depan orang asing yang menghitung berapa banyak yang harus aku bayar.

Aku ingin menangis.

Rasa-rasanya tidak ingin mengucapkan kata perpisahan dengan siapapun. Tidak adil rasanya. Aku masih ingin bertemu dengan mereka.

Aku berpamitan dengan sepupuku yang telah meminjamkan kamarnya untuk kutempati lebih dari 2 tahun. Dia juga mengantarkanku ke tempat pemberangkatan bis. Terima kasih luar biasa untuknya.

Sebentar lagi bisnya akan berangkat. Aku menghabiskan waktu-waktu sesaat bersama teman terbaikku.

Sampai jumpa lagi, Bandung!

Jumat, 14 Mei 2010

Repetisi Tak Bermakna

Topik suatu berita berjudul: TERORIS MERENCANAKAN AKSI TEROR.

Bukankah teroris berasal dari kata teror? Yang artinya, jelas sudah bahwa teroris memiliki cenderung melakukan aksi teror.

Bagaimana kalau,
Teroris Merencanakan Aksinya

Bukankah lebih efektif? 

Kamis, 13 Mei 2010

Pikiran Tanpa Henti

Terlalu banyak berpikir? Tidak juga.

Mungkin. Hanya memiliki pola pikir yang tidak semestinya dibiarkan terlalu lama berada di kepala. Konfontrasi dan konfirmasi yang hadir tanpa negosiasi yang tepat. Menyebalkan.

Apa yang harus kuperbuat?

Membuka mata lebih lebar. Melapangkan hati lebih luas lagi. Mulai melangkahkan kaki.

Benar. Aku harus mulai melangkahkan kaki. Melangkah dengan pasti dan penuh percaya bahwa Allah SWT akan memberikan pada umatnya yang berusaha.

Aku harus mencari kekuatan.

Permisi sebentar. Sampai nanti.

Minggu, 02 Mei 2010

Semu

Sakit.

Mungkin dia hanya peduli dengan apa yang aku lihat. Dia salah. Panca indraku lengkap. Ditambah, Tuhan memberikanku hati nurani agar aku dapat menjalani hidup lebih baik.

Aku tahu apa yang aku lihat. Dengan mudah saja, aku dapat menutup mataku dan aku kehilangan warna dalam pengelihatan.

Aku masih memiliki perasaan. Kau minta aku untuk menutup mata dan telinga. Namun, otakku masih bekerja. Rekaman kejadian-kejadian masih tersimpan dengan baik dalam memori. Dari yang lalu, aku dapat membayangkan masa depan. Permintaanmu tidak masuk di akal bagiku.

Aku sudah cukup melihat. Telah banyak mendengar. Akupun telah berpikir. Jangan pernah kamu berpikir bahwa aku cukup bodoh untuk kamu kelabui. Hanya saja, kamu kurang pintar mengakui bahwa ternyata kau bodoh.

Kalau saja kamu gunakan hati nurani demi kebaikan dirimu. Kamu akan sadar. Sesungguhnya, pujian-pujian bisa saja semu. Mereka hanya terdengar karena hanya itu yang ingin kamu dengar.

Kemudian, kamu terkesan picik. Karena kamu tak ingin mendengar kenyataan. Kamu hanya ingin yang semu. Kamu ingin hidup dalam dunia penuh kesemuan. Kamu anggap itu kebahagiaan. Kamu tutupi yang nyata dengan semu.

Bunga layu itu kamu coba warnai. Kelopak yang layu, kamu ganti dengan kertas. Daun yang gugur kamu lekatkan dengan lem.

Apa yang kamu ingin kejar? Kesemuan yang sempurna?

Tinggalkan saja dunia nyata, kalau memang merasa seperti itu.