Jumat, 23 April 2010

Kebijakan dalam Buku

Yang membedakan manusia adalah buku. Dalam setiap buku, manusia dapat menemukan kebijakan.

Itu adalah pernyataan salah satu temanku yang terekam di ingatan. Buku pun menjadi pembeda antara manusia dan hewan.

Kenapa bisa seperti itu?
Untuk mengisi perut, manusia bekerja dan mencari uang sedangkan hewan berburu.
Untuk meneruskan keturunan, manusia menikah dan para hewan memiliki musim kawin.

Aku pun berpikir, manusia memang diberikan akal oleh Sang Pencipta. Namun, beberapa hewan juga memiliki otak, ukurannya saja tidak cukup besar. Orang utan ataupun hewan-hewan dalam kelasnya memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan kehidupan manusia.

Ini bukan suatu perdebatan berdasarkan fakta yang begitu lengkap dan pertimbangan atas norma-norma lain, khususnya agama. Ini hanya sekedar perbincangan ringan.

Buku dan tulisan menjadi perekam sejarah manusia.

Melalui buku, aku belajar mengerti bahwa masing-masing dari kita mempunyai peluang untuk menjadi lebih baik. Memperluas cara pandang dan pengetahuan. Memberikan gambaran tentang yang akan terjadi di dunia.

Para penulis buku, dengan kemampuan mereka yang luar biasa, mampu membuat aku untuk meneruskan membaca dari lembar ke lembar. Tulisan yang dibuat berdasarkan fakta-fakta atau sepenuhnya atas fiksi hidup. Semua itu disajikan. kita sebagai pembaca yang patut lebih bijak dalam menyerapnya.

Lingkungan akademis dan sosialku membuatku membaca berbagai buku. Buku politik yang sarat akan sejarah waktu dan rekaman perkembangan suatu negara, dengan kecurigaan atas keberpihakan pendapat sang penulis. Buku sastra yang memberikan imajinasi dan sarat akan pembelajaran moral. Buku bisnis dan manajemen, memberikan kerangka pemahaman atas penghidupan organisasi. Buku seni dan budaya memperkayaku dalam ke-Indonesia-an.

Memulai petualangan melalui buku.

Mari membaca!

*ternyata tanggal 23 April 2010 adalah Hari Buku Dunia.

Jumat, 16 April 2010

Ketika Presiden Meninggal Dunia

Presiden Polandia Tewas dalam Kecelakaan Pesawat.

Berita yang mengejutkan. Tidak dapat dipercaya.

Salah satu teman mengatakan, "Itu takdir. Namanya juga kecelakaan pesawat. Ada tayangan National Geographi tentang Kecelakaan pesawat terbang." Bukan kecelakaan yang aku pertanyakan. Sebuah negara, ditinggalkan oleh kepala negaranya?

Terdapat empat syarat berdirinya sebuah negara; rakyat, wilayah, pemerintahan, dan pengakuan internasional. Kalau terjadi bencana pada pemerintahan, bukankah akan mempengaruhi pengakuan internasional terhadap negara tersebut?

Aku tidak mengerti apapun tentang Polandia dan perkembangan yang terjadi. Seingatku, aku belum pernah kenal dengan orang berkebangsaan Polandia. Apa jadinya kalau aku adalah rakyat polandia. Presiden dan beberapa pejabat negara penting lainnya, tewas bersamaan. Siapa yang akan memimpin negara ini?

Teman saya yang lain berkata kalau peristiwa itu sepenuhnya kecelakaan, walau banyak konspirasi mengenai kemungkinan lainnya. Itu sangat mungkin terjadi. Siapa yang paling menginginkan kematian Presiden Polandia dan pejabat kenegaraan lainnya?

Bagaimana jika hal tersebut terjadi kepada Indonesia?

Jadi teringat ketika Presiden RI menyatakan ketakutannya atas ancaman pembunuhan dirinya di depan umum. Layakkah? Sebagai manusia, ketakutan dia adalah wajar. Tapi dia adalah Presiden RI, orang pertama Indonesia, menyatakan ketakutannya di depan umum terasa kurang layak.

Tidak habis pikir kalau Indonesia harus mendadak mengganti Presidennya. Tak terbayang jadinya. Dengan kekuatan massa yang dimiliki oleh Indonesia, kerusuhan dapat saja terjadi. Masing-masing massa menggiring calon pengganti yang mereka jagokan. Belum lagi, kebanyakan manusia Indonesia belum cukup berbesar hati untuk menerima kekalahan.

Pada akhirnya, ada untungnya Indonesia belum punya pesawat kenegaraan. Kalau Polandia saja selama 20 tahun menggunakan pesawat yang sama, alias tidak memperbaharuinya, apa kabar Indonesia? Bisa saja, demi menghemat anggaran dan mempertebal kantong, pesawat terbang yang dibeli adalah pesawat bekas. Jangankan mencapai angka 20 tahun. Bahaya juga kalau mencapai tahun kelima pesawat itu mengalami kerusakan yang cukup signifikan.

Kamis, 15 April 2010

Pengajian Sebelum Pernikahan

Dua bulan terakhir ini, dua orang teman terdekatku menikah. Aku sudah berpendapat mengenai hal itu bulan lalu. Aku berharap mereka menjadi pribadi yang lebih baik diirngi dengan kebijakan dan diwarnai oleh kehidupannya nanti.

Kedua temanku ini menjalani sebagian tradisi Sunda. Salah satunya, pengajian sebelum Akad Nikah. Aku belum pernah mengikuti acara seperti ini. Kedua kakakku dan saudara terdekat, menjalani adat Lampung.

Mengapa pengajian ini menarik perhatianku? Sederhana saja. Yang utama, aku belum pernah datang ke pengajian menjelang pernikahan. Sebagai tambahan, Ustadz atau Ustadzah membicarakan hal-hal baik demi masa depan calon pengantin.

Pelajaran pertama yang didapat adalah alasan seorang suami memilih istrinya. Ada empat alasan terpilihnya seorang perempuan menjadi istri.

Kecantikan.
Kekayaan.
Asal Usul.
Iman.


Kecantikan ini tidak semata-mata kecantikan fisik. Alangkah lebih baik jika sang perempuan juga memiliki kecantikan hati dan cantik budinya. Bagaimana dengan kekayaan? Apakah para calon suami harus mencari perempuan lajang keturunan bangsawan yang hartanya melimpah? Bukan begitu, tentunya. Kaya akan pengetahuan atau kaya akan kebijakan. Kalau memang sang perempuan memiliki harta kekayaan melimpah, alhamdulillah.
Asal usul. Bagaimana keluarganya? Ini sebetulnya untuk mengetahui latar belakang sang perempuan. Aku pun mnyadari bahwa keluarga adalah pengaruh terbesar dalam hidup seorang individu.
Yang utama adalah imannya. Dan seorang pria tidak boleh memilih perempuan sebagai istri hanya karena salah satu atau ketiga alasan diatas. Lihat imannya, baru yang lain melengkapi adanya.

Pelajaran kedua, aku mendapatkan arti tiap hurup dari kata ISTRI.

Iman/Islam
Saleh
Taat
Ridho
Ikhlas


Perempuan yang berimankan Islam dan saleh dalam menjalani kewajiban dan menjauhi larangan dalam agama. Taat kepada suami, selama hal tersebut tidak menentang ajaran agama. Ridho dan ikhlas dalam menjalani rumah tangga.

Aku rasa, menjadi istri merupakan kompromi luar biasa akan kehidupan yang akan dijalani dengan suami. Kompromi yang baik maka akan membuat individu dapat merefleksikan lima hal tersebut.

Sayangnya, aku hanya mendengarkan petuah untuk calon istri (yang sekarang mereka berdua telah menjadi istri). Luar biasa. Secara egois, aku bisa saja berpendapat kalau istri dibuat untuk menekan egoisnya. Bagaimana dia harus menjaga kehormatan keluarganya. Namun, jika para suami juga melakukan hal yang sama, kebaikan kepada istrinya. Indah rasanya.

Semoga.

Kebahagiaan dan kebijakan untuk seluruh pasangan suami-istri!!!