Senin, 22 Februari 2010

Terima Kasih

Hari jumat, 19 Februari 2010.

Hari ini saya menggunakan angkutan umum lebih banyak dari biasanya. Tempat tujuan saya mengharuskan berganti angkutan.

Ada satu adegan yang tidak dapat saya lupakan begitu saja.

Ketika urusan pertama selesai, saya naik angkutan dari depan tempat tersebut. Sebelum naik, sang supir tampaknya memiliki tinggi di bawah rata-rata orang. Dia terlihat lebih kecil.
Semangat bapak ini OK juga.

Jarak tempuh yang saya perlukan tidak sepanjang trayek angkutannya. Saya memberikan satu lembar seribu rupiah. Lalu, dia berkata,
'Terima kasih.'

Mendengarnya membuat saya tersenyum. Bapak itu telah menunjukkan ketulusan luar biasa di hari saya yang biasa. Ucapan darinya, seorang sosok tak dikenal, memberikan kesejukan.

Dunia ini masih indah. Masih ada harapan buat kita untuk terus mengisinya dengan keindahan lainnya.

Terima kasih banyak luar biasa, Pak. Semoga penumpang langganan Bapak bisa bertambah. Jadi, Bapak bisa terus menghadirkan ketulusan.

Kamis, 18 Februari 2010

Masalah Plagiarisme

Hal ini menggelitik sekali.

Beberapa waktu yang lalu, teman terdekat saya bercerita. Diawali kalimat yang mengindikasi ada sesuatu yang tidak baik terjadi.
"Eh, kamu tau ga? Ada cerita baru tentang dosen kamu di HI Unpar."
Cerita dengan bumbu lain-lainnya pun mengalir.

Dosen di almamater saya adalah seorang plagiat.

Keplagiarismeannya pun menjadi perhatian masyarakat umum. Kenapa masyarakat umum sampai harus mengetahui itu? Salah satu alasannya adalah karena dia mempublikasikan artikel karyanya di media massa yang memungkinkan dibaca oleh banyak orang -seorang Indonesia atau orang dengan bangsa lainnya. Menyatakan pendapat melalui media massa, membuka ruang bagi dirinya untuk dikritik oleh setiap orang yang membacanya. Siapapun itu. Keorisinalitas karyanya diragukan dan terbukti, dia seorang plagiat.

Pendapat bagi masing-masing pribadi tentunya boleh berbeda.
'Sudahlah. Ngapain juga membahas keburukan orang lain.'
'Dia? Orang itu? Yang bener?'
'Tu orang udah sakit ya?
'Ga nyangka yah!'


Bagi saya, itu adalah kebodohan. Saya masih ingat. Saya dan dua orang teman saya lainnya setelah pertemuan pertama mata kuliah yang dia ajar, kita merasa bahwa kita salah jurusan. Gertakannya luar biasa. Dia bisa saja memainkan perannya sebagai dosen sebagai motor bagi mahasiswanya. Dulu, saya dan teman-teman saya selalu menyatakan bahwa dia adalah dosen realisme. Kalau dalam pendekatan Hubungan Internasional, maka yang kita bicarakan adalah negara sebagai aktor dan isu politik-keamanan menjadi isu utama, ekonomi sosial dan yang lainnya hanyalah pendukung semata. Topik yang sering menjadi diskusi, 'Mengapa negara A harus melakukan invasi ke negara B?' atau 'Kenapa negara H harus meningkatkan kekuatan militernya terkait dengan perkembangan persenjataan yg dikembangkan oleh negara Z?.' Harusnya, dia dapat memperhitungkan setiap aksi yang dia lakukan akan berakibat apa terhadap dirinya, ini ilmunya dia.

Dia pernah mengomentari tugas teman saya yang referensi bacaannya hanya kurang dari lima. Dia menyatakan hal itu di depan kelas. Seberapa kasar tindakannya itu? Lebih kasar lagi karena dia melakukan plagiarisme. Atas alasan apa dia melalukan itu?

Apapun yang menimpa dia saat ini. Pencabutan gelar atau pemecatan. Kita -dalam hal ini saya mengajak teman semua untuk berpendapat sama dengan saya- harus mengakui bahwa dia hanyalah seorang manusia. Manusia yang memiliki sedikit kelebihan dan banyak kekurangan. Kekhilafan seringkali hadir.

Bagaimanapun juga, dia pernah mengajari saya bagian dari ilmu yang saya miliki sekarang. Untuk itu, dia memiliki penghargaan dari saya. Saya juga percaya bahwa dia adalah pribadi yang luar biasa dengan memiliki kemampuan di atas rata-rata manusia Indonesia. Sayangnya, dia lupa untuk melihat ke bawah dan bercermin setiap harinya. Saya tidak habis pikir kenapa dia harus menjadi seorang plagiat.

Di salah satu media, dia menyatakan, 'Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga.' Dia mengakui bahwa dirinya salah. Dia sadar betul bahwa dia adalah manusia.

Ini merupakan potret kecil tentang dunia pendidikan Indonesia. Kalau seorang dosen tidak dapat memegang kata-katanya mengenai penolakan atas nama plagiarisme. Lalu, apa yang terjadi pada dunia pendidikan kita nantinya? Yang terpenting, kalau kita tidak menjadi percaya pada sistem pendidikan yang ada di Indonesia, kemana lagi kita harus percaya? Maka, tugas bagi kita untuk membangun Indonesia. Mari kita mulai dan jangan pernah berhenti!

Selasa, 02 Februari 2010

(Ini) Tentang Pit

Suatu hari, aku menghabiskan waktu dengan teman terdekat. Aku cukup penat hari itu. Kita beristirahat sejenak sebelum melanjutkan petualangan selanjutnya. Duduk di pojok, ditemani 2 buah roti berkaramel dengan isi butter.

Pit* : Git, lo bikin tulisan dong tentang gue.
Gita : Tentang apa pit? kisah cinta lo? atau apa?
Pit   : Terserah. Kayaknya gaya hidup gue juga layak deh lo ceritain.
Gita : Hahaha. Pake nama asli apa samaran?
Pit   : Nama asli juga boleh.


Oleh karena itu, marilah kita kali ini menikmati kisah hidup Pit dari sudut pandang aku, temannya yang sering kali semena-mena meminta pertolongan.

Pertemuan pertama, sangat disengaja, saat itu aku mengikuti rangkaian pelatihan dan pendidikan untuk menjadi anggota kegiatan fotografi di kampus. Kedatangan saya disambut oleh Pit, seorang pria botak dengan kacamata bingkai hitam dan tampak angkuh, dia menjadi koordinator acara ini. Ternyata, tampak luarnya saja dia angkuh tapi tetap saja, dia itu Pit.

Selanjutnya, layaknya teman, kita berinteraksi banyak hal. Beberapa percakapan warung kopi 24 jam murah meriah sekitar kampus. Hunting foto bareng, dulu kita pernah menangkap matahari terbit tapi ternyata terhambat karena aku belum terbit dari tempat tidur. Satu hal yang harus diingat, Pit pernah membanting aku di muka umum. Dasar teman bajingan! Perbincangan lain-lain -tentang cinta, kuliah, hidup, dan entah berantah- juga terjadi demi penghargaan terhadap waktu yang berlalu atas nama pertemanan.

Pit adalah teman yang menyenangkan. Terkadang aku merasa lucu tapi sambil mengernyitkan dahi jika mendengar ceritanya. Salah satu penyebabnya, perbincangan ringan di suatu waktu.
Gita : Lo ngapain pit ikutan Kendo?
Pit   : Supaya gue bisa melindungi orang yang gue sayangi.
Alasan yang paling masuk akal. Maka beruntunglah perempuan yang dia sayangi. Semoga perempuan itu mengetahuinya.

Sekarang, Pit sedang tergila-gila akan membentuk tubuhnya, bukan, menjaga tubuhnya dalam bentuk ideal.
Gita : Kenapa sih pit lo mau ngurusin badan?
Pit   : Karena gue ingin membuktikan asumsi gue.
Gita : Emang apaan?
Pit   : Gue mau tau apakah ada hubungan gue gendut atau kurus dengan memiliki pacar. Jadi, kalau gue kurus berarti gue akan punya pacar.
Gita : Kalau ga?
Pit   : Berarti asumsi gue salah dan gue harus mencari asumi baru.

Dia bisa menghitung berapa kalori yang dia butuhkan dan darimana saja dia memperoleh itu. Ketika aku menghampirinya untuk curhat di pagi hari, dia membawa bekal sarapannya dengan menu nasi merah dan putih telor goreng ditambah vitamin C. Pernah dalam satu hari, dia melakukan setidaknya 3 kegiatan yang membuat dia bermandikan keringat. Pagi hari, lari pagi. Siang, fitness. Sore, DDR. Kalau aku harus mengikuti kegiatannya, sepertinya aku bisa-bisa kehabisan nafas karena kecapaian.

Entah dia akan membuktikan asumsinya itu atau tidak. Keinginannya untuk melindungi orang yang dia sayangi membuat dia harus tahu betul siapa orang tersebut.
Gue mau membuat dia tersenyum kalau dia ada di dekat gue.
Itulah si Pit, salah satu temanku yang luar biasa (aneh).

Semoga cinta Pit terhadap orang tersayang itu terbalaskan.



*nama disamarkan. Nama aslinya adalah Paulus Aprianto alias Aphiet.