Minggu, 31 Januari 2010

Drama Queen

Tulisan kali iini, akan menjadi salah satu tulisan yang cukup jelas bahwa aku mau cerita hal lebih personal, alias curhat.

Ketika kita menonton film, seringkali kita melihat apa yang ingin kita lihat saja. Ketika cerita film itu tidak sesuai dengan imajinasi kita, kita bisa saja geram dibuatnya. Mungkin karena film cenderung cerita fiksi dan kita tidak pernah ingin kenyataan kita benar-benar terulang di dalam film. Maka, yang ada di dalam film adalah penggalan dari kenyataan. Film yang aku bahas dalam hal ini adalah film komersial. Penegasan ini perlu karena film dokumenter haruslah dibuat sesuai dengan kenyataan agar penikmatnya tidak dibodohi.

Aku sedang menjadi orang penuh drama. Lebih lagi, aku adalah orang yang ekspresif. Sulit sekali buat aku harus menyimpan sesuatu tentang diri sendiri. Apalagi kalau ada hal yang membuat saya senang atau tersenyum, orang lain harus merasakan apa yang saya rasakan juga. Seperti orang yang egois, memaksa orang lain merasakan yang kita rasa. Semoga teman-teman yang membaca ini mau memaafkanku.

Kembali pada film, ada dua film drama yang sering terngiang di ingatan. Mereka adalah He's Just Not That Into You (1) dan (500) Days of Summer (2). Dengan sangat memaksa, mungkin film ini memiliki kesamaan dalam 'tokoh yang menceritakan kembali tentang orang yang ia kagumi.'

Kalau film (1), jelas sudah, para perempuan menceritakan kisahnya dengan lawan jenis ke teman-temannya. Untuk prianya -seingat aku hanya empat tokoh-, gaya berceritanya tidak bisa disamakan dengan kehebohan para perempuan bercerita. Di film ini, lebih banyak cerita tentang Gigi.

Tokoh Gigi, luar biasa mengharapkan 'boyfriend. Selalu berspekulasi atas setiap interaksi yang terjadi antara dia dan pria. Bahkan dia memperhatikan pilihan kata yang dilontarkan oleh pria-pria yang berinteraksi dengan dia. Mungkin karena dia memiliki keinginan yang sangat tinggi untuk memilki pacar, itu yang menyebabkan dia begitu positif atas apapun.

Aku juga pernah mengumpat kesal karena sms tidak dibalas atau jungkir balik luar biasa kesenangan ketika menerima kabar dari seseorang. Bingung setengah mati karena ada yang memberi aku nama panggilan setiap bertemu dengannya. Yang Paling menyenangkan, tersipu malu ketika ada yang tersenyum begitu cemerlang melihat kehadiran kita.

Kadang aku berpikir, mungkin akan lebih mudah kalau kita melupakan asumsi. Alih-alih senyum sendiri membaca sms dari seseorang. Harusnya kita tahu alasan orang itu memberi kabar atau entah apa. Padahal interaksi kita dengan manusia lain adalah hal yang sangat wajar dan manusiawi. Kenapa kita harus menganggap itu sebagai suatu keistimewaan?

Film yang (2), memberikan rasa yang berbeda. Membangunkan dua pikiran, 'apakah aku setega Summer?' atau 'aku sebodoh Tom?'. Summer yang pada awalnya tidak mempercayai adanya cinta karena cinta merupakan imajinasi dan semua yang terjadi haruslah berpangkal dari logika. Pikiran Tom berbeda, dia percaya cinta dapat menjadi motor dalam hidupnya. Bodohnya, Tom membiarkan Summer masuk ke dalam hidupnya. Sejak awal, Tom pun tahu bahwa Summer berbeda akan hal cinta. Dia tanpa sadar, melukai dirinya sendiri.

Apakah aku akan tega melukai diri sendiri tanpa sadar? Dan ketika luka terasa begitu nyata, apakah aku akan sadar kalau yang melakukan itu adalah diriku sendiri?

Rabu, 27 Januari 2010

Kamis, 21 Januari 2010

Menangis karena Mainan

Aku menangis hingga tersedu sedan. Awal penyebabnya adalah rusaknya sebuah mobil-mobilan yang pernah aku beli ketika aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Mobil-mobilan yang aku beli dengan uang tabunganku.


Kalau melihat secara sepintas. Semua orang bisa saja mengatakan aku bodoh atau mengada-ada. Itu hanya sekedar mainan. Benar adanya. Tidak pernah juga secara sengaja aku rawat.


Hanya saja, aku tidak bisa melupakan bahwa itu adalah mainan yang dulu amat aku idam-idamkan dan aku berusaha untuk mendapatkannya. Berkali-kali ke toko hanya untuk melihat sampai pada akhirnya membeli. Selain mobil satu itu, aku juga memiliki mobil-mobilan VW kodok lainnya yang bercorak warna-warni dan aku beli satu per satu. Koleksi itu pun semua sudah menjadi bangkai. Keponakanku perusak koleksiku.


Apakah aku hidup di masa lalu? Selalu teringat masa-masa lalu, seolah-olah kenangan di masa lalu menjadi pembenaran atas rasa yang kita miliki saat ini. Aku marah dalam kekinian atas dasar masa lampau. Seberapa adil aku atas diriku sendiri? Apa yang terjadi kini adalah kemarahan, bukanlah hal yang baik. Buat apa? Hanya atas dasar seonggok mainan berbahan dasar metal dan plastik yang dibuat sedemikian rupa menyerupai mobil VW.


Aku pun melampiaskannya kepada orang lain. Penguasaan diriku tidak berada dalam logika. Emosiku aku biarkan meraja dan keluar semaunya tanpa peduli dengan adanya orang lain. Ini bodoh. Bisa saja tanpa sadar aku menyakiti orang lain. Membuat aku lebih kesal lagi.


Dapatkah yang terjadi sekarang merusak masa lalu? Seharusnya tidak. Lalu kenapa aku harus menangis tersedu sedan dan bernada tinggi dengan orang lain yang tidak memiliki masa lalu yang sama dengan aku? Mereka tidak mengerti apa yang aku alami. Maka, aku sadar betul bahwa aku menjadi bodoh. Namun, aku juga tidak dapat memungkiri bahwa rasa kesal itu merajai hati dalam waktu kini.


Apa yang sesungguhnya terjadi? Apa yang sebaiknya terjadi?


Mungkin, dengan bijak aku harus dapat menjadikan masa lalu sebagai kenikmatan semata, menjaga pandangan melihat masa depan dan berpijak dalam kini.




Semoga.

Jumat, 15 Januari 2010

Buku perekam ingatan

Buku perekam ingatan ini adalah buku-buku yang terkumpul dan tertulis semenjak tahun 2007. Beberapa buku lainnya tersimpan (atau bahkan mungkin terabaikan) di tempat lainnya. Ini adalah buku-buku yang berada di sekitaran.



Beberapa kisah tersadarkan karena buku ini. Kisah pertemuan teman-teman. Kisah yang tertuang setelah berdiskusi dengan teman terdekat. Kisah para pengisi waktu dan pikiran dalam hidupku. Semua itu adalah kisah tentang aku.

Metamorfosa tidak begitu kentara. Andai saja aku dapat menilai melalui tulisan tangan, mungkin guratan-guratan itu dapat diartikan.

Selasa, 12 Januari 2010

Belajar Bersabar dan Mengerti

Suatu waktu aku tersadar. Waktu yang dilalui telah menyadarkanku tentang pembelajaran. Bahwa interaksi kita dan manusia lainnya adalah langkah untuk memperkaya diri. Semoga dengan cukup bijak dan penuh makna ketika kita menjalaninya proses itu.

Ketika kita berbincang dengan teman. Lalu kita anggap bahwa dia tidak mengerti apa yang kita perbincangkan. Bukan berarti dia tidak mendengar. Hanya saja kita kurang bersabar untuk memastikan bahwa dia telah mendengarkan semua dengan baik. Mungkin saja perhatiannya teralihkan oleh aktivitasnya yang lain. Atau memang perkataan yang kita keluarkan tidak penuh arti bagi dirinya.

Teman yang lain, membuat aku belajar untuk mengerti. Mengerti bahwa waktu memang untuk dijalani. Di dalamnya dapat saja terjadi banyak hal. Asalkan kita mengerti, kita tidak perlu tergesa-gesa berlari di kekacauan dunia. Jangan sampai kita tenggelam dalam kebodohan. Mengertilah.


Terima kasih luar biasa bagi dua orang teman terbaik. Kalian mengajarkanku. Dengan waktu.

Senin, 04 Januari 2010

Melarang dan Kebersihan Tangan

Setiap kali saya mengisi bahan bakar di pompa bensin Pertamina. Ada 2 hal lain yang mengganjal. Beberapa kali saya mencoba memperhatikan. Dua hal tersebut selalu saja menggelitik.

Hal pertama, ada tiga larangan yang disampaikan oleh Pertamina, yaitu dilarang merokok/menyalakan api, dilarang menggunakan telepon genggam, dan dilarang menggunakan kamera/memotret. Saya sebetulnya mau menunjukkan dalam foto mengenai tanda ini tapi sayang, harus menghargai peraturan yang orang lain buat dong. Supaya kalau nanti saya membuat peraturan, orang lain juga akan mematuhinya.

Kalau mengenai larangan pertama wajar saja. Api bisa memicu kebakaran. Mengenai telepon genggam, dulu saya pernah mendengar bahwa sinyal dari telepon genggam dapat menyebabkan ledakan. Untungnya, saya juga menonton seri Mythbuster tentang breaking this myth. Sinyal dari telepon genggam ternyata tidak menyebabkan ledakan. Telepon genggam bisa saja menyebabkan ledakan jika pelaku peledakkan menggunakan itu sebagai pemicu ledakannya. Dalam hal ini, telepon genggam harus diberi perangkat tambahan. Jadi, tidak semudah itu telepon genggam dapat menyebabkan ledakan.

Peraturan yang ketiga, apa hubungannya? Seberapa menyakitkan menggunakan kamera di pom bensin? Bukannya kamera adalah alat perekam berupa gambar yang dapat digunakan demi kebaikan? Seperti pemberitaan atau publikasi dalam blog seperti ini. Foto kadang dibutuhkan untuk menunjukkan keberadaan secara fisik hal tersebut. Saya belum mengerti logika penentuan larangan tersebut.

Selain itu, penempatan larangan ini juga agak aneh. Mesin pompa diletakkan di antara dua tiang. Di tiang tersebut terdapat empat panel, menurut perkiraan, satu panelnya memiliki tinggi 1 m. Kurang lebih, diberi leveling 20-30 cm dari atas permukaan jalan. Larangan tersebut diletakkan di ujung atas panel kedua. Memberikan asumsi, larangan tersebut setinggi 2,2-2,3 m. Tinggi saya 158 cm, dengan anggapan itu tinggi normal perempuan Indonesia. Dengan begitu, tinggi pandangan saya berkisar di 150 cm. Berarti terdapat kesenjangan 70 cm dari titik pandangan normal saya. Sebagai konsekuensi jika saya tidak mengelilingkan pandangan saya, ungkin saya tidak pernah melihat tanda tersebut.

Seberapa penting peletakan tanda itu? Hal yang kemudian perlu dipertimbangkan adalah seberapa besar perusahaan ingin menyampaikan pesannya terhadap pelanggannya. Ini bukan ranah saya, hanya ingin berpendapat. Alangkah baiknya jika pesan atau promosi yang dilakukan berada pada bidang yang bersinggungan dengan konsumen yaitu, tinggi/jarak pandang.

Hal kedua adalah kebiasaan para penjaga/pengisi bahan bakar memegang uang dari konsumen dan memegang seluruhnya di genggaman tangannya. Bukankah itu sesuatu yang jorok? Uang adalah media transfer bakteri yang paling mudah karena uang digunakan sebagai alat barter. Saya belum pernah mendengar penelitian atau apapunlah itu tentang efek yang diterima oleh pekerja karena mereka memegang setumpuk uang seharian. Bagaimana kalau pekerja tersebut tidak memiliki kebiasaan cuci tangan sebelum melakukan aktivitas lainnya? Berarti perusahaan tersebut tidak menjamin kesehatan pekerjanya, dong. Hal ini menjadi hal terjorok yang harus dirubah.

Apa yang bisa dilakukan atas bakteri yang menempel pada uang sehingga mengurangi kemungkinan terganggunya kesehatan? Pertama, kita suruh saja bakteri tidak usah lagi hidup di dunia ini. Itu pilihan paling irrasional, mari kita lupakan pilihan pertama. Kedua, tidak usah lagi menggunakan uang kertas dan koin sebagai alat pembayaran. Ada bank juga yang bekerjasama untuk menggunakan kartu bayar. Kalau saya melihat di film-film produksi luar, jika mereka ingin mengisi bensin, beberapa tidak perlu dilayani oleh penjaga langsung karena pembyaran dilakukan dengan kartu. Ketiga, BBM gratis. Kalau untuk ini, usul saya bisa langsung ditolak oleh perusahaan. Keempat, desain ulang tempat penyimpanan uang, tidak lagi sekedar laci. Untuk ini, ada beberapa aspek harus dipertimbangkan.

Penyimpanan uang ini memiliki dua dimensi. Satu, sesuatu yang menempel dengan pekerja. Dua, sesuatu yang berjarak dengan pekerja tersebut. Tergantung dengan kebutuhan atau pertimbangan perusahaan terhadap kegiatan operasionalnya. Kalau Pertamina menginginkan minimnya pergerakan ketika berada di depan konsumen, maka tempat penyimpanan harus menempel di badan petugas. Dapat saja berupa tas pinggang dengan satu resleting. Kalau Pertamina cukup rajin menstimulasi karyawan lainnya atau memiliki reliable supplier yang dapat membuat tas modifikasi. Bisa-bisa ini justru mendukung kreativitas dalam pengembangan produk.

Atau malah ini dapat menjadi peluang bagi produsen sabun tangan untuk bekerjasama dengan Pertamina menangani tangan-tangan petugas berbakteri. Mulailah dengan mencuci tangan. Kita tidak tahu apa yang kita sentuh. Bahkan, teman terdekat saya pernah memarahi saya karena saya memegang pegangan escalator karena menurut dia, pegangan itu sudah dipegang oleh sekian banyak orang yang tidak jelas kehigienisannya.

Semoga. Semoga saja petugas itu tidak pernah sakit perut yang disebabkan oleh bakteri-bakteri yang bermukim di lembaran uang kertas kumal yang telah berpindah tangan berkali-kali.



Pertamina Blog Contest

Pasti Pas-Pas-an


Tulisan saya kali ini akan sedikit panjang dari biasanya. Salah satu alasannya adalah karena hal ini sering sekali muncul di pikiran walau sempat terlupakan oleh aktivitas. Jadi, buat teman-teman yang bersedia membacanya, terima kasih dan bersabar. Semoga kita bisa berdiskusi

Waktu awal Pertamina mengganti logonya, teman-teman saya heboh membicarakan budget yang dikeluarkan oleh perusahaan. Ketika itu, bukan suatu isu yang menarik bagi saya. Mungkin karena saat itu saya belum mencukupi pengetahuan saya dengan hal-hal yang terkait dengan perkembangan bisnis dan lainnya.

Setelah saya memulai membaca buku-buku bisnis, saya sedikit mengerti. Dapat dikatakan, perubahan logo ini menunjukkan adanya perubahan dalam perusahaan tersebut. Reformasi, restrukturisasi, atau istilah apa entah. Saat mencoba mengingat logo lama Pertamina, rasa-rasa saya hilang ingatan. Kalau logo yang sekarang digunakan tentunya tidak perlu diingat lekat-lekat karena di setiap pom juga kita bisa melihat logo itu.

Tidak lama dari itu, mereka mengeluarkan Program PASTI PAS. Menurut saya, banyak juga perubahan yang dapat terasa oleh end-user, yaitu kita masyarakat umum yang membeli bahan bakar di pom.

Adanya standar operasional yang harus dilaksanakan oleh front-liner person, petugas pengisi bahan bakar. Pertama, mereka harus tersenyum. Lalu, mengucapkan salam. Menunjukkan "dimulai dari angka nol ya, pak". Diakhiri dengan ucapan terima kasih. Kalau petugas tidak melakukannya, kita –para pelanggan- berhak melaporkannya. Untuk hal ini, saya bingung bagaimana pelaporan itu menjadi valid. Karena bisa saja ada orang iseng yang ingin melapor hal tersebut untuk mengganggu kegiatan operasional. Bisa saja petugas tersebut terkena teguran, gajinya dipotong dan bahkan dipecat. Perhatian saya tidak di situ.

Program tersebut menunjukkan kalau Pertamina tidak hanya menawarkan produk (dalam hal ini saya membicarakan produk bahan bakar yang dijual kepada masyarakat umum), mereka juga memiliki nilai-nilai yang ingin disampaikan kepada konsumen mereka. Kurang lebih dapat dikatakan, "kepercayaan Anda, membuat kami bertahan". Berlebihan memang tapi hal tersebut merupakan bentuk penghargaan dari Pertamina kepada konsumennya.

Seberapa penting, sih, PASTI PAS buat kita? Kalau teman-teman hanya beraktivitas di sekitar perkotaan, selisih beberapa tetes mungkin tidak akan menjadi masalah. Namun, kalau sedang dalam perjalanan menuju kota lain dan jarak pom yang satu dengan yang lain cukup jauh (bisa saja karena daerah yang dilewati tidak banyak penduduk), maka hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap perhitungan penggunaan bahan bakar kita.

Belum lagi petugas pom yang di daerah sepi itu lebih banyak bandelnya. Dimisalkan, kita ingin mengisi 10 L tapi dia memulainya dari angka 1,.. L. Mungkin dia tidak begitu mengerti mesin yang dia gunakan atau mesinnya tidak pernah diperbaiki akurasinya atau mungkin karena dia bosan kesepian atau hanya sekedar mencoba mendapatkan uang lebih. Setidaknya itu yang secara kasat dapat saya bayangkan. Itu mungkin kisah basi. Banyak orang sudah memiliki kisah sendiri. Bahkan mungkin, karena Pasti Pas sudah lama berjalan, orang lupa akan hal itu. Kita harus menghargai Pertamina mencoba meningkatkan profesionalitas kinerjanya.

Sedikit tambahan, atas masukan dari teman saya, seberapa pas dari Pasti Pas. Seberapa akurat perhitungan alat pompa bensin yang dimiliki Pertamina sehingga dapat menghasilkan akurasi angka yang tertera 1 L di mesin untuk 1 L di dalam tangki kendaraan kita. Mungkin Pertamina bisa melakukan pembuktian. Benar. Pembuktian bukan hanya dimulai dari angka 0 tapi angka akhir dari output mesin adalah sama dengan banyak cairan yang ada di tangki kita. Biar nyata, bahwa kebohongan tidak ditutup dengan kebohongan yang lain.





Pertamina Blog Contest