Jumat, 10 Desember 2010

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran


Judul buku ini menggelitik sekali, Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran. Kata Insiden Anjing dibuat dengan huruf kapital dan berukuran lebih besar dibanding kata lainnya, begitu membuat perhatian tertuju. Kata Anjing, memang mengartikan hewan, namun bisa saja orang berasumsi bahwa itu adalah umpatan terhadap hal-hal menyebalkan. Bahkan, ketika aku membuka kata anjing di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, banyak hal disebutkan. Seperti anjing ditepuk menjungkit ekor, yang berarti orang hina (bodoh, miskin dsb) kalau mendapat kebesaran menjadi sombong. Yang berarti, kata anjing bisa mewakili beberapa konsep. Untuk tahu lebih jelas, kita harus membacanya dulu.

Aku menemukan buku ini di rak perpustakaan Sekolah Alam Lampung, tempat aku bekerja. Penulisnya adalah Mark Haddon. Aku belum pernah membaca karyanya sebelumnya, namanya tidak familiar. Agak kaget karena asumsi pertama yang muncul di kepala ketika melihat kata anjing pada buku ini, "Serius dulu nih. Buku apaan nih kok bisa ada di sini?". Aku pikir buku ini seperti buku-buku beberapa penulis Indonesia yang sering menggunakan hal yang masih dianggap tabu oleh kebanyakan masyarakat Indonesia sebagai topik. Warnanya yang juga shocking pink seperti sangat meminta perhatian untuk dibaca. Untungnya, buku ini baik-baik saja.

Buku ini benar-benar tentang sebuah insiden. Insidennya tentang kematian seekor anjing di tengah malam sehingga itu membuat si tokoh utama sungguh penasaran. Titik awal penasaran dia adalah siapa yang membunuh anjing itu. Ini menarik. Judul buku ini begitu lugas dan jelas menyatakan apa yang menjadi penyebab utama buku ini hadir. Bahkan, praduga-praduga tentang isi buku ini tidak perlu dihadirkan karena buku ini menjelaskan apapun yang dipertanyakan dan ditemukan oleh si tokoh utama. Apapun.

Penerjemah buku ini, Hendarto Setiadi, memberikan penjelasan di akhir buku. Ini juga yang patut diperhatikan. Bahwa dalam proses penerjemahan buku ini, pemilihan kata dan susunan kata amat diperhatikan. Kelengkapan kalimat yang terdiri dari S-P-O-K, diperhatikan dengan baik. Pemilihan kata diperhatikan, jangan sampai kata-kata yang dipilih memiliki makna kata yang tidak diinginkan dalam pencitraan tokoh utama.

Cerita dalam buku ini menjadi sangat menarik ketika kita dibuat penulis paham jalan pikiran tokoh utama, si Christopher Boone. Christoper menyandang Sindrom Asperger, sejenis autisme. Karena itu, dia memiliki kepintaran yang lebih dari orang kebanyakan. Semua yang dia lakukan atas dasar logika yang jelas, setidaknya keteraturan yang jelas. Keteraturan ini ditentukan olehnya. Seperti, dia suka sekali bilangan prima. Dengan begitu, penomoran adegan dalam buku diurutkan atas bilangan prima. Salah satu istilah yang saya suka yang juga baru saya dapatkan dari buku ini adalah simile. Christoper tidak suka terhadap metafora, maka dia akan menggunakan simile untuk menggambarkan kejadian.

Selain menikmati ceritanya yang begitu menginspirasi. Buku ini, menurutku, juga memberikan kita contoh interaksi dengan anak yang memiliki keistimewaan. Kadang, bukan anak-anak itu yang berbeda, hanya kita saja yang tidak membuka ruang pengertian. Ini tergambarkan di dalam cara Ayah Christoper menanganinya dan bagaimana kisah balik Ibu Christoper ketika dulu dia berhadapan dengan Christoper.

Menyenangkan sekali membaca buku ini. Terinspirasi menjadi orang yang super smart. Namun, sulit sekali membuang kebiasaan yang pemalas ini.

Lalu? Kemana perginya si anjing? Bagaimana kalau aku memberikan waktu kepada kalian untuk membacanya supaya rasa penasarannya hilang? Setuju?

Rabu, 08 Desember 2010

Merindukan Kisah Cinta

Sesekali, aku menonton film drama romantis yang diputar program televisi. Entah kenapa, lebih mudah mencerna film drama romantis ditambah dengan terhanyut dalam emosinya. Mungkin, it's too cheesy. Itu terlalu asin. Tiba-tiba menitikkan air mata. Seketika itu juga, adikku yang juga nonton berkata, "Nangis deh."

Aku merasa rindu pada kisah cinta.

Aku nonton Love Happens. Film ini berkisah tentang seorang suami, Burke Ryan, yang kehilangan istrinya dalam kecelakaan. Setelah 3 tahun berlalu, dia berhasil membuat dirinya terkenal sebagai penulis buku self-help. Kenyataanya, dia harus membantu dirinya sendiri. Hadirnya seorang perempuan, Eloise, (diperankan Jennifer Anniston), mendorong dirinya untuk kembali berinteraksi dalam hal percintaan. Menurut saya, Eloise tidak melakukan banyak hal. Walau sadar, Eloise tertarik pada Burke, tapi film ini tidak tentang Eloise memenangkan hati Burke dan juga sebaliknya. Film ini lebih banyak mengenai Burke menerima kenyataan bahwa yang menyebabkan kematian istrinya adalah kecelakaan, bukan kesalahan dirinya.

Yang membuatku rindu ketika melihat keluwesan Eloise dalam mengungkapkan pikirannya dan mengetuk hari Burke untuk membuka hatinya. Andaikan saja. Ingin sekali merasakan apa yang dirasakan ketika orang dicintai oleh seseorang yang mencintai diri. Ketika tiap tarikan senyumnya begitu berarti. Membayangkan gerak tawanya ketika tertunduk malu. Perbincangan yang terjadi tak perlu tentang hal-hal besar, sekedar ringan dan mengena di hati. Tiap detil yang melekat di tubuhnya, terekam dengan baik dalam ingatan. Sosoknya yang tidak bisa terbentuk dalam angan, namun nyata terasa.

Indahnya jatuh cinta. Aku merindu. Aku ingin menambahkan satu alasan untuk tersenyum setiap hari.

Sabtu, 04 Desember 2010

Kembali Kubuka

Awalnya, aku mencari dua lembar kertas yang terlupakan letaknya. Lalu, aku memilih membuka komputer jinjing (yang lebih sering kugendong di dalam tas), yang berhasil dan sangat membantuku melalui masa-masa mengerjakan tugas kuliah sampai akhir. Tentu saja ditambah dengan permainan dan perbincangan elektronik untuk menghilangkan rasa bosan di kota tempat merantau.

Komputer gendong ini harus memiliki pendekatan tersendiri kalau ingin digunakan. Kadang huruf E tidak terdeteksi atau tombol control terdeteksi selalu ditekan. Sesekali harus berteman juga dengan obeng kecil untuk sedikit melepas-pasang kabel yang menghubungkan tombol-tombol. Merepotkan, ya? Semua itu indah pada waktunya (kalimat ini sering sekali diucapkan oleh teman sekamar saya dulu).

Bisa menggendong komputer saat itu, rasanya sudah meringankan sebagian beban. Meringankan beban bukan dengan makna denotasi. Pundak saya sering pegal karena membawanya selalu. Beberapa tulisan di blog ini, saya ketik dengan komputer itu. Mengedit beberapa foto dan memamerkan sedikit banyak isinya kepada teman. Memberi warna dalam hidup.

Hal yang menarik, setiap menghidupkan komputer itu, dilanjutkan dengan menekan F1. Itu karena batere CMOS-nya sudah tidak berfungsi. Harus selalu berulang menset tanggal dan waktu di hari itu. Ingin tahu alasan lain? Karena dia ingin, aku mengingat setiap waktu kami berinteraksi. Berlebihan kesannya. Memang itu yang terjadi. Dia juga tidak mengenal perintah hibernate atau stand by ketika kita tutup. Kalau kita tutup, matilah sudah komputer itu. Hidupkan lagi seperti biasa.

Tablet PC. Keren, dong? Ada special stylus. Monitor hanya menerima perintah dari si stylus. Beberapa orang yang lihat, ada yang anggap itu hebat. Untungnya, mereka tidak tahu cerita yang lain. Kami bersenang-senang berdua. Kemanapun aku pergi, aku sering mengajak dia karena charger telepon genggamku rusak. Dengan bantuan si komputer, aku masih bisa menghidupkan teleponku.

Adakah cerita lain tentangnya? Banyak sekali. Sekarang, si komputer itu menjadi salah satu barang yang sulit dilepas untuk pergi.

Senin, 22 November 2010

Menyelesaikan Buku

"Gita, kamu harus baca buku ini! Sangat menginspirasi!"

Membaca sebuah buku tidak akan membunuhku, kan? Sudah lama aku melihat buku ini di rak-rak toko buku manapun. BEST SELLER. Aku belum pernah membelinya karena dulu harus bijak menggunakan uang (alias anak rantau) dan  masih ada buku lain yang menggoda. Atasanku menawarkan peminjaman buku ini.

Hal yang menarik dengan buku-buku novel para pengarang Indonesia belakangan ini adalah kisah yang mereka sampaikan terasa dekat dengan kehidupan yang mereka jalani. Aku sebagai pembaca kadang merasa bisa mengenal pribadi si pengarang. Ada beberapa tokoh fiksi dimunculkan untuk membuat cerita lebih menarik bagi pembacanya. Kadang, kita jadi penasaran siapakah tokoh ini sesungguhnya dalam kehidupan sang penulis?



Sebuah novel berjudul Negeri 5 Menara yang ditulis oleh A. Fuadi. Saya agak penasaran dengan inisial 'A'-nya ini. Apakah itu adalah A untuk Alif, seperti tokoh utama dalam novel ini atau A untuk Anwar, seperti artis sinetron yang terkenal atau bisa saja 'A' untuk nama lainnya. Mengisahkan seorang anak muda yang menjalani masa kehidupannya di sebuah Pondok Modern di Jawa Timur setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama. Ketaatan anak atas perintah dan permintaan orang tua. Perdebatan batin yang muncul di dalam jiwa anak muda. Pemahaman atas kehidupan manusia. Pengalaman hidup yang berbeda dengan yang aku pernah jalani.


Apa yang menarik dari novel ini? Tergantung yang membacanya. Tiap pembaca (khususnya aku sendiri) biasanya menempatkan dirinya sebagai tokoh pasif dalam alur cerita. Kita memilih tokoh yang paling dekat dengan diri kita atau yang paling kita idamkan sebagai pribadi. Bagiku, yang menarik adalah kehidupan sehari-hari seorang santri dalam pondok pesantren dan bagaimana pesantren dengan peraturan dan kelenturannya mendidik para santri melalui akhlak dan wawasan.

Salah satu yang paling menarik buatku adalah proses membacanya, pemilihan tempat membaca untuk menyelesaikan membaca novel ini. Berhari-hari buku ini bertengger di tas, selalu ikut kemanapun aku pergi. Dibacakah? Tidak juga. Menyebalkan rasanya. Sampai kapan aku harus membawa buku yang tidak pernah kubaca? Akhirnya aku memilih taman.


Punya buku yang bisa kupinjam?

Selasa, 16 November 2010

Mandiri Tanpa Arti

Sudah terlalu lama.


Apakah aku kehilangan diriku?


Harusnya aku menyempatkan diriku untuk membuat sesuatu. Entah itu membaca, membuat tulisan atau karya lainnya. Belakangan ini, aku merasa terjebak dalam kekosongan. Kenapa seperti itu?


Berarti ada yang salah.


Yang sepatutnya disalahkan adalah diriku sendiri. Tegakah aku pada diriku sendiri? Kalau memang tega, kenapa aku tidak memberikan keadilan pada diriku sendiri? Kenapa dibiarkan begitu saja? Ini aneh. Terlalu banyak tanda tanya. Ketika aku menggunakan kata 'harus', maka hal tersebut sepatutnya menimbulkan konsekuensi. Karena 'harus' menggambarkan kewajiban. Aku pun kebingungan menentukan ganjaran atas tidak terlaksananya kewajiban atas diri.


Kadang merasa memerlukan penyemangat pribadi supaya rasa bersalah ini berkurang. Kalau itu yang diharapkan, berarti diri ini tidak mandiri. Salahkah itu? Kemandirian apa yang sebetulnya kita perlukan. Kemandirian yang hakiki? Apa pula itu artinya?


Mandiri sering kali diartikan mandi sendiri. Kalau orang-orang yang mandi di tempat umum beramai-ramai berarti dia orang yang tidak mandiri. Pengertian yang salah, kukira. Secara konotatif, mandiri diartikan berdiri sendiri. Mandiri juga kerap dianggap kemampuan sesorang untuk hidup independen secara ekonomi. Mampu membiayai kehidupan sehari-hari sampai dengan kehidupan sosial lainnya.


Aku harus mengakui bahwa aku adalah orang yang belum (atau tidak) mandiri. Jangankan untuk hal secara ekonomi, untuk memutuskan hal-hal yang terjadi dalam keseharian pun aku berjuang terlalu keras. Entah itu karena terlalu banyak pertimbangan atau memiliki cara pandang yang tidak tepat dalam pengambilan keputusan. Seorang teman pernah bilang, "Kamu itu tampak orang yang pemikir, orang jadi sulit untuk mengenal kamu." Aku tidak bisa mempersalahkan default setting dari muka ini. Kadang, ketika aku bengong pun, orang bisa merasa terancam oleh tatapan kosongku. Kita tidak bisa menilai sesuatu dari tampilan atau fisik semata. Itu pula yang aku coba gunakan dalam menjalani keseharian, meminimalisir penilaian terhadap apa yang terlihat atas seseorang. Semoga selama ini baik-baik saja. Pada akhirnya, aku tidak bisa memungkiri bahwa apa yang tampak di diri saya sepertinya luar biasa, terkadang terasa hambar di diri.


Berpikir terlalu banyak. Tidak juga. Tidak pernah terlalu banyak, secukup dan semampunya keinginan diri. Dalam memutuskan sesuatu terkadang banyak bertanya kepada orang, kadang menyimpan pendapat untuk diri sendiri. Untuk orang yang penuh keyakinan atas dirinya dalam mengambil keputusan, kuberikan salut kepada mereka! Aku berharap aku seperti itu. Namun, terasa sulit untuk dilakukan. Aku sering mempertimbangkan ada-ku sebagai anak, kakak, atau adik dan bagaimana keputusan yang aku ambil selalu membuat hatiku dan mereka senang gembira. I love my family.


Ini seperti menyadari kelemahanmu dan menyebarkannya kepada seluruh dunia. Yang selalu menjadi yang terpenting adalah apa selanjutnya? Masihkah aku merasa tidak mandiri? Masih. Apakah itu mengurangi nilai yang ada di diri? Semoga tidak. Seperti malam ini, semesta mungkin secara sengaja membuat aku menonton Ugly Betty yang berkata, Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Jangan biarkan orang lain menghalanginya. Ini tentang kamu.


*mohon maaf kalau ada bahasa selain Bahasa Indonesia digunakan dalam tulisan ini. 

Rabu, 29 September 2010

The Sorcerer's Apprentice

Tulisan gue kali ini pengen gue bikin sebrutal mungkin. Lagi bawel ga ketulungan dan ini terasa lucu sekali.


I just got back from movie theater, i was watching my old friend (maybe he is old-actually, it depends on how old you are (readers)). The Sorcerer's Apprentice. Ternyata gue hampir sepenuhnya setuju ama nyang nulis di IMBD kalau ni film masuk ke genre (genre itu bahsa Indonesia-nya apa ya?) action, adventure, comedy, dan drama. I prefer drama, drama, drama, and action. Hahahaha. I kinda enjoyed it.


Hal pertama yang harus dikomentari adalah emang kalau mau jadi jagoan itu kudu pinter yah? Spiderman kan juga pinter, wartawan dan suka apa itu entah yang berbau sains dan hitung-hitungan itu. Si -eh, bentar, kok gue lupa namanya- hmm... siapa ya? Aha! David! Or juga dipanggil Dave. Gara-gara kejadian bodoh di umur 10 tahun. Dia menjadi berada dalam kurungan kebodohan -sesuatu berbunyi seperti itulah pokoknya-. Dia menyukai fisika so much! Yang bikin tambah lucu adalah ketika dia mengeakui bahwa tugas akhisnya yang selama ini dikerjakan tampak kurang, dan ketika ditambah dengan musik yang dia dengar ketika si nona cantik-dan-manis-yang-mirip-sekali-dengan-Bella-Swan siaran di radio kampus. So sweet? Film drama gitu loh!


Gue teringat dengan konveti yang begitu banyak di tengah festival Pecinan. What I like, when the Barongsai transformed to be a real dragon. Secara keseluruhan dia menggunakan beberapa animasi kayaknya tapi agak kentang gitu deh. Ada musuh yang mengendalikan naga yang ada di perutnya. Tu orang bentar doang nongolnya. Padahal keren tuh.


Terus, si Dave meminta pada gurunya untuk memberi kesempatan mendekati si nona karena 10 tahun yang lalu, kejadian memalukan itu mengharuskan dia pindah sekolah dan berobat dengan psikiater plus diagnosa entah penyakit apa. Terpintas, Kalau 10 tahun yang lalu, pria manakah yang aku idamkan? Apa rasanya mengejar impian masa lampau? Was it fun? As good as it gets? Yup. Noone. Hahahaha. Sepuluh tahun yang lalu itu tahun 2000, pas lagi SMA kelas 1-2 dan masa-masa itu adalah masa kejayaan gue berlaku sebagai provokator kelas. Semua perhatian teralihkan dengan kegiatan fisik. Entah itu loncat-loncat di kelas, menendang pintu, berlarian, atau hanya sekedar melatih otot mulut dengan mengeluarkan suara.


After back home, emang beneran terjadi cowok-cowok jadi semacam terhambat atas keberadaan perempuan? Beneran ga sih? Berarti yang bodoh yang mana? Atau siapapun, kenapa seorang itu bisa membuat dirinya terhambat dengan adanya orang lain. Sang guru (si N. Cage) yang terlemahkan oleh adanya Victoria, termimpikan untuk memberikan kalung kepadanya. Semua orang menginginkan kisah yang sama. Gitu? 


Seperti days ago, ketika gue dan 2 orang teman, berada di kendaraan roda empat -bukan andong-.
Me: Saya bosan menyetir.
Friend: Makanya, Git, cari pacar. Kan biasanya kalo pacar plus jadi supir.
I was silence. rasa-rasanya pengen ngomong, "emang harus nyari? So far i did, emang gue ga usaha ya? Emang kudu gimana? Kalau soal pacar jadi supir, rasa-rasanya ga sreg mendengar kata itu. Kalau pergi ke suatu tempat, diantar pacar, siapa yang ga seneng? Kalau lagi cape, terus tiba-tiba ada yang datang dengan senyuman mengembang? Siapa yang ga seneng? Tapi kan semua orang juga manusia (namanya juga orang, ya manusia lah ya). Masa iya gue tega minta anterin dia kemanapun gue mau pergi, padahal dia punya kerjaan numpuk atau agenda sejibun? Would I dare?
Aku terpaku bukan karena bingung menjawab tapi karena sejuta pikiran-pikiran yang muncul.


Kembali kepada bahasan film, emang kudu segitunya yah kalau suka ma orang? Atau emang gue se-ga-romantis-itu? Kayak si nona manis yang rela meniadakan rasa takutnya akan ketinggian untuk membantu si Dave, yang barely baru ketemu lagi beberapa kali. Ga perlu konfirmasi lanjutan dulu gitu? Tapi kalo kepanjangan juga ga jadi film bioskop yah. Ntar jadi sinetron dah.


Kalau membunuh seseorang yang ada di dalam guci semudah itu, menjatuhkannya dari ketinggian. Kenapa si istri yang tidak disukai itu lama sekali menempati tempat itu yah? Itu janggal pertama. Kalau kedua, suara Dave suka terdengar double or menggetar. Itu gara-gara sound STUDIO-nya jelek banget atau karena si Dave emang gitu ya ngomongnya?


Ada lagi! Emang penyihir itu harus pake pointed shoes yah?


Owww... Ada sentuhan yang terasa disney sekali. Ketika si Dave memerintahkan para sapu, pel, dan spons membersihkan lab-nya yang kotor super duper. Gerak kain dan permainan lagunya. So Disney!


Well, yang gue suka dari film itu adalah si nona cantik-dan-manis-yang-mirip-sekali-dengan-Bella-Swan dan the idea of smart guy is so attractive. 

Sabtu, 25 September 2010

Di Antara Lukman Sardi

Minggu kemarin adalah minggunya Film Indonesia. Dua diantaranya yang saya tonton adalah Darah Garuda dan Sang Pencerah. Kesamaan kedua film ini adalah Lukman Sardi.


Kalau mau berpendapat sinis,
'Indonesia ini memang kekurangan aktor yah! Padahal penduduknya ratusan juta jiwa! Dimana yang lain?'
Selanjutnya, saya mau berpendapat lain tentang film yang saya tonton.


Awalnya saya pikir Darah Garuda akan rilis pada bulan Agustus, seperti janji para pembuat filmnya. Mereka ingin menjadikan film ini pembakar semangat nasionalisme. Antusiasme saya di bulan Agustus mencari tahu tentang sekuel Merah Putih. Saya ingat, ketika keluar dari bioskop setelah menonton Merah Putih, ingin sekali ikut memekikkan 'Merdeka!' Mungkin ada hal-hal lain yang menyebabkan Darah Garuda rilis di bulan September.


Diawali dengan perjalanan mereka menuju entah berantah. Pergulatan emosi Senja, mulai diangkat. Kegoyahan pertama ketika dia harus memetik buah kopi yang masih hijau, "Apakah ini yang harus dilakukan oleh keluarga terpandang?" Tidak lama dari itu, dengan seenaknya penjajah melampiaskan hawa nafsu dengan pribumi. Kenasionalismeannya dipertanyakan olehnya sendiri, ketika keluarganya diluluh lantakkan oleh pribumi juga. Akhirnya, toh, dia tetap memilih ikut berperang.


Tapi senja bukan tokoh yang menonjol. Saya memperhatikannya karena di Merah Putih I, sang pembuat film menyatakan bahwa Senja akan banyak berperan dalam film Darah Garuda. Perannya di film ini tidak kentara. Yang saat ini mau ditunjukkan adalah mereka ini adalah sekelompok orang hebat yang memiliki misi untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sampai titik darah penghabisan, menyerang titik terlemah Belanda.


Kapten Amir sempat berdiri di tengah lapangan tanpa tertembak sedikit pun. Dayan tak ingin berkata apapun sampai kehilangan lidah. Tomas berlari di atas sayap pesawat tanpa terluka, hanya berlumuran darah tanpa luka bakar. Marius mengumpat, bersembunyi, namun tetap saja selamt. Alih-alih mereka menembak bajingan Belanda, mereka hanya meneriakkan semangat kepada temannya yang sulit berjalan dan akhirnya tertembak Belanda.


Saya bingung. Kenapa ketika keluar dari studio itu, hati ini tidak menggelegar ya? Rasa untuk memerdekakan Indonesia semacam tak tersentuh? Ini salah saya. Saya terlalu berekspektasi ketika menonton.


Selang dua hari, saya menonton Sang Pencerah bersama adik dan kedua orang tua saya. Lagi-lagi, sosok Lukman Sardi muncul. Dia memerankan KH. Ahmad Dahlan.


Menonton Sang Pencerah terasa lebih menghibur. Sebelumnya, saya pernah menonton film karya Hanung Bramantyo. Takutnya, lokasi di daerah Jawa tapi logat pemerannya masih kental dengan tanah kelahiran (bukan Jawa). Atau, terlalu menggumbar ekspresi muka para pemeran. Sekarang lebih baik.


Perbincangan dalam bahasa Jawa cukup kental mewarnai film. Sosok KH. Ahmad Dahlan dengan baik diperankan, menunjukkan bahwa KH. Ahmad Dahlan adalah seseorang yang patut kita jadikan tauladan. Slamet Raharjo dengan menyenangkannya tepat melakukan oposisi dengan keberadaan KH. Ahmad Dahlan. Dengan indahnya, sebuah adegan menggambarkan bahwa kita semua adalah manusia yang kadang membiarkan ego-nya merajai hati dan pikiran.


Bagi saya, beberapa ekspresi pemain dibuat seperti layaknya bermain teater, terlalu berkerut hanya untuk menunjukkan sikap bermusuhan. Padahal dalam pengambilan gambar, wide ataupun medium close-up, rasa-rasanya tidak perlu sehiperbolik itu.


Di dalam film itu, KH. Ahmad Dahlan membuat meja kursi untuk belajar para anak sekolah. Tindakannya itu ditentang banyak orang karena dianggap mengikuti ajaran kafir. Di sisi lain, ada segerombolan orang yang merubuhkan suraunya. Sentilan buat kita, apa yang kita sebut kafir? Kalau ternyata perbuatan kita terhadap yang lain itu adalah tercela, tidak menghargai keberadaan manusia secara utuh.


Hidup memang bagaikan roda yang berputar, ada saat kita di atas dan ada saatnya berada di bawah. Sekiranya itu semua supaya hidup di dunia ini seimbang. KH. Ahmad Dahlan juga dibuat lemah, selayaknya manusia, ketika dia patah semangat karena terbakarnya suraunya. Dia merasa itu saatnya dia untuk pergi karena dia tidak diterima oleh masyarakat yang ia kenal.


Tuhan Maha Adil. Ketika umat-Nya berusaha menjadi lebih baik, Dia akan memberikan banyak kemudahan.

Kamis, 09 September 2010

Rumput Hijau

Rumput halaman tetangga tampak lebih hijau dari halaman kita.

Alasannya sederhana saja. Bisa karena kita tidak punya halaman. Atau karena tanah halaman sudah ditutupi dengan konkrit atau blok batu. Karena satu dan lain hal, sehijau apapun halaman kita, halaman tetangga tampak lebih indah.

Tetangga kita punya bunga mawar yang terus bermekaran, merah menggoda. Tetangga yang sebelah sana punya pohon mangga yang ketika musimnya menggoda dengan lekuk buahnya dan lidah yang seketika mengecap rasa segar. Ada juga yang halamannya hanya rumput hijau, membangunkan rasa untuk berlari kesana kemari.

Parahnya, kalau kita merasa iri sampai mengandaikan untuk pindah rumah. Membayangkan rumah baru dengan halaman yang rumput hijaunya tumbuh subur. Bagian pojok sana ditanami berbagai mawar agar rumah terus berwarna. Halaman belakang di tanam buah mangga. Kalau-kalau dia berbuah, itu menjadi pemandangan yang indah.

Sebetulnya seberapa hijau rumput tetangga? Seberapa bagus halaman tetangga? Haruskah kita iri?

Kalau tetangga cuma punya mawar. Kita punya bunga yang mengundang burung penghisap madu untuk hadir dan berkicau di pagi hari. Dua batang pohon yang berbunga dan bunganya bisa kita makan. Belum lagi koleksi bunga kamboja (dengan nama beken Adenium) yang berbunga untuk waktu yang lebih lama dan warna yang beragam. Ada juga bunga yang diberikan oleh teman terdekat baru saja berbunga. Belum lagi kalau Kemuning berbunga dengan semerbak wanginya. Yang itu juga, yang sebelah sana juga ada. Bunga-bunga mungil itu mengundang lebah dan kupu-kupu, para serangga penghisap madu untuk hadir.

Pohon yang berbuah memang bukan mangga. Ada buah tin yang sebesar bola golf. Ada lagi yang lebih kecil, rambutan hutan yang pernah merambat di pohon jambu bangkok. Di sebelah pohon bambu, ada pohon yang begitu sopan, sampai-sampai buahnya dia panggil nona (buah nona). Yang paling luar biasa adalah pohon nangka yang tidak pernah berhenti berbuah. Buah nangka itu lalu dibagikan kepada keluarga-keluarga terdekat yang berarti memperpanjang pahala dari sepetak halaman yang ada.

Setelah semua itu, masihkah kita perlu halaman luas yang ditumbuhi oleh rumput segar?

Manusia selalu tidak pernah puas. Seluas apapun halaman yang dimiliki kadang tidak pernah cukup. Berhentilah sejenak. Amati benar apa yang terjadi halaman kita, hitung apa yang sebelumnya tidak pernah terhitung. Siapa tahu, seketika manfaat sepetak halaman kita dapat menjadi seluas yang kita mau.

Kita nikmati saja apa yang ada. Tidak ada yang perlu kita kejar, toh, waktu datang dengan sendirinya. Bersyukurlah.

Senin, 06 September 2010

Sepulang

Aku berharap merasa bodoh adalah hal yang wajar bagi seorang manusia. Kesalahan kerap terjadi. Kekhilafan datang ketika kontrol diri menghilang. Keraguan datang dan menghalangi langkah kita, penyesalan pun datang menghantui.

Aku bersyukur atas kehidupan yang telah aku jalani. Tawa yang begitu menyenangkan. Senyuman yang menenangkan. Tangisan yang membasahi pipi. Hidup yang hidup.

Ketika aku kuliah, aku menikmati langkah kakiku sepanjang trotoar dan badan jalan yang dijejaki. Menikmati dedaunan yang berubah warna hingga menjadi gugur. Mencermati detil-detil jalanan dan kehidupan kecilnya. Terkadang terlintas, "Apa orang-orang yang di dalam kendaraan itu memperhatikan para pejalan kaki? Kalau iya, apa yang mereka lihat?"

Aktivitas yang satu membuat buah pikiran lain muncul. Semakin jauh jarak yang ditempuh, semakin panjang pula buah pikiran yang tercetus. Sebagian terekam, sebagian hanya menjadi angin lalu.

Ketika kita hidup dalam dunia sosial. Kita berhadapan dengan pribadi lain. Kita melakukan perkenalan dan interaksi. Untuk pribadi yang terbuka, perbincangan-perbincangan memunculkan kesimpulan atau ide-ide baru. Menyenangkan. Sepulang dari itu, pertanyaan-pertanyaan tak terjawab menjadi bekal perjalanan menuju rumah.

"Kamu kerja aja di Jakarta atau di luar negeri sekalian".
Haruskah? sudah sekitar 7 tahun aku merantau di pulau seberang. Kembali ke kampung halaman, ingin memberi sumbangsih kepadanya walau sedikit. Haruskah aku pergi? Atas alasan apa? Uang yang lebih besar masuk ke dalam rekening? Baju yang lebih bergaya menurut para fashionista? Atau ego yang tak terbendung? Aku ingin berada di sini, bersama keluarga terdekatku. Mengisi hatiku dengan penuh kasih sayang. Apakah itu berarti aku lemah?

Ketika terlintas pikiran, 'apakah aku lemah' hadir, aku telah meragukan diriku. Harusnya, jika aku kuat sesungguhnya, yang aku nyatakan adalah kalimat positif yang ditutup dengan tanda titik.

"Mbak terlalu picky kali. Makanya belum nikah juga"
Terdiam ketika mendengarnya. Pernyataan teman di sebelahku ini tetap harus dijawab. Namun, sepemilih itukah aku? Sampai-sampai keberadaan mereka sebagai individu ciptaan Tuhan yang sempurna, masih pula kukritik. Sejahat itukah aku kepada orang lain? Kalau benar aku sejahat itu, besar kemungkinannya orang lain juga tidak memilihku masuk ke dalam lingkaran hidupnya. Apa yang kita lakukan pada orang lain, terjadi pula pada diri kita. Bukankah begitu?

Sekarang aku penuh keraguan dan aku sadar akan sesuatu menghalangi langkahku. Aku bingung bagaimana caranya memperkuat hati dan pikiran. Tidak tahu caranya agar diri ini sendiri memberikan penyelesaian. Aku tidak ingin tenggelam terlalu lama. Aku harus ke permukaan menghirup oksigen dan melihat langit biru. Aku rindu hangatnya mentari.

Rabu, 18 Agustus 2010

MERDEKA

Tepat pada 17 Agustus 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia mengumandangkan Proklamasi Kemerdekaan. Dikibarkannya Bendera Sang Saka Merah Putih. Bangga betul pastinya orang-orang di masa itu. Membusungkan dada dan berteriak dengan lantang, "MERDEKA!"


Enam puluh lima tahun kemudian, di tahun 2010, apa yang terjadi?


Iri sesungguhnya. Dulu, dalam bayanganku, orang-orang akan saling menyapa dengan menggunakan kata 'merdeka'. Kalau itu sekarang kita lakukan, rasanya janggal buat orang pada umumnya. Semangat kita tentu bisa terbakar hingga berkobar-kobar jika meneriakkan kata itu.


Mungkin itu yang salah. Kita tidak lagi fasih melafazkan merdeka.


Pepatah bilang, orang suka karena biasa. Kita sudah tidak terbiasa lagi menggaungkan merdeka. Kesadaran kita akan makna kemerdekaan tidak tersinggung sama sekali. Kita menjadi buta akan merdeka.


Orang-orang pun perlahan melupakan mengenai kemerdekaan dan teringat selalu dengan kenangan penjajahan. Kadang tidak pernah ingin percaya bahwa kita dijajah 350 tahun oleh bangsa lain. Mengapa kata jajah yang terpilih? Kenapa para sejarahwan kita tidak menceritakan bahwa selama itu kita berperang dan bertahan dari pengaruh dan serangan Belanda? Apakah sungguh kita membiarkan diri kita dijajah dan terjajah selama itu tanpa semangat membela tanah air?


Pikiran para pemimpin Indonesia mungkin hanya sekedar menjajah. Dia membuat kedudukan yang dia miliki sebagai pembenaran bagi dia untuk mengulangi sejarah, yang dia ingat, yaitu menjajah. Bisa saja dia memiliki rasa ingin tahu mengenai alasan Belanda begitu lama menjajah Indonesia. Jawabannya dia dapatkan, kenikmatan duniawi dengan harta berlimpah.


Berani-beraninya muncul usulan dana aspirasi sebesar 15 Miliar Rupiah di tiap daerah pilih. Apa mungkin para pengusul dana aspirasi itu sudah tidak memiliki pikiran dan jaringan kerjasama yang dapat memberikan bantuan di daerahnya? Tidak masuk akal sama sekali.


Saya menyesalkan yang terjadi di kota Bandar Lampung. Jalanan yang berlubang luar biasa sampai-sampai kita dapat memelihara ikan di lubang itu. Perjalan yang bisa ditempuh paling lama 20 menit, sekarang harus puas jika 30 menit telah tiba di tempat tujuan. Lubang di jalan ini juga menyebabkan kemacetan. Walau tidak pernah jelas juga penyebab kemacetan ini adalah rusaknya jalan, minimnya alternatif rute, atau tingginya pertumbuhan jumlah kendaraan di jalanan. Hal yang jelas tampak di sini adalah adanya masalah yang haruslah para pemimpin tanggapi.


Entahlah. Dengan semua apa yang terjadi di Lampung ataupun di Indonesia. Saya bangga sebagai Indonesia. Memiliki presiden yang diktator sampai yang tidak bisa melihat. Maling ayam digebuki massa tapi maling uang rakyat duduk santai di hotel bintang lima. Kalau bisa dipersulit, buat apa dipermudah.


Suatu ketika, Anda bertemu dengan seseorang yang baru saja dikenal yang ternyata bersaudara dengan saudara yang sudah lama tak bertemu dan dia berteman dengan saudaraumu yang lain lagi. Selamat datang di Indonesia.


MERDEKA!

Selasa, 17 Agustus 2010

Esok Masih Ada

Suatu hari di perayaan ulang tahunku, beberapa tahun yang lalu, aku meminta teman-teman terdekatku melakukan sesuatu untukku. Aku undang mereka untuk hadir di tempat yang telah ditentukan pada jam tertentu dan sebuah cerita untuk dibagi. Aku tidak meminta mereka untuk menceritakan sesuatu yang penuh rahasia, hanya ingin mendengar kiasan tentang diri mereka.

Untuk diriku sendiri, seringkali aku mengandaikan sebagai sebuah buku yang bersampul depan merah dan sampul belakang berwarna hitam, cerita di dalamnya tidak pernah habis karena terus menerus ditulis. Merah dipilih karena berani. Aku cukup dikenal sebagai pribadi yang dengan berani untuk berekspresi. Hitam kupilih karena pikiran ini, keraguan-keraguan yang terus datang seringkali mengerubungi.

Teman terdekatku, mengandaikan dirinya sebagai kertas putih yang memberi ruang bagi tiap orang yang bersinggungan dalam hidupnya untuk menorehkan tinta. Dia memberikan kebebasan pada orang lain, termasuk saya, untuk menjadi diri sendiri dan membawa dia larut dalam kesenangan saya. Terkadang, ketika dia sendiri, dia akan membuang kertas penuh tinta dan kembali sebagai kertas putih kosong.

Hidup ini mengalir begitu saja. Seperti buku kosong yang menunggu kisah-kisah untuk diceritakan ataupun lembaran kertas putih yang menunggu torehan gambar. Rangkaian peristiwa terus terjadi mengisi waktu.

Apa yang terjadi pada diri kita, terjadi seperti seharusnya. Tidak berlebihan, tidak juga pernah kekurangan. Penyesalan pasti hadir, namun seringkali diiringi dengan kegembiraan penuh perayaan. Akankah kita tetap terus percaya hari esok hadir untuk kita?

Harapan. Bagi orang yang percaya, harapan itu selalu ada. Sekecil apapun, kemungkinan selalu hadir. Bagi saya, seorang muslim, kepastian hanya milik Allah SWT dan manusia dapat menjadikan suatu hal sebuah kepastian ketika hal tersebut terjadi pada saatnya.

Aku bisa saja menuliskan kisah dengan pensil. Sehingga, ketika waktunya tiba, aku bisa saja menghapusnya dengan mudah. Temanku juga bisa saja menorehkan lukisannya dan membiarkan orang lain melukis di sisi lainnya untuk mengikuti torehan yang telah dia buat.

Kita berencana penuh harapan agar tetap percaya akan datangnya hari esok.


Tuhan pun tahu hidup ini sangat berat
Tapi takdir pun tak mungkin selalu sama
Coba cobalah tinggalkan sejenak anganmu
Esok kan masih ada...
Esok kan masih ada...
Utha Likumahuwa - Esok Kan Masih Ada

Senin, 26 Juli 2010

Pertemuan Dua Hati

Adalah judul novel Nh. Dini yang baru selesai kubaca.

Novel ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1986. Ketika itu saya baru berumur dua tahun. Buku yang saya miliki adalah cetakan ke-14, dan baru saya miliki beberapa bulan yang lalu. Sebelum membelinya, kalimat di sampul belakang buku begitu menyentuh.
Alangkah baiknya, sekiranya orang-orang tua, guru-guru, dan kalangan pendidik pada umumnya meluangkan waktu untuk membaca novel ini.

Ini adalah buku Nh. Dini yang ketiga yang telah saya baca. Luar biasa menyenangkan membacanya, bahkan juga menenangkan. Selesai membaca buku ini semakin menjadikan Nh. Dini sebagai penulis kebanggaan saya. Caranya menyampaikan cerita yang juga terkadang sarat akan pesan, begitu halus.

Buku ini menceritakan kisah seorang perempuan hebat. Kehidupannya sebagai istri, ibu, dan guru. Ceritanya lebih berbumbu ketika anaknya didiagnosa penyakit epilepsi dan bersamaan dengan itu, salah satu muridnya agak sukar untuk dididik. Sang Guru sempat tergoyah karena pemisahan antara pekerjaan dan hal pribadi adalah perlu. Namun, seiring berjalannya cerita, hal itu justru bercampur aduk.

Cerita ini begitu menarik bagi saya, ketika Sang Guru memperlakukan muridnya layaknya pribadi yang bertanggung jawab. Penghargaannya atas hak asasi sang murid. Perintah yang dimaksudkan untuk mendidik demi kebaikan, disampaikan tanpa paksaan dan ancaman. Dengan begitu, sang murid seperti distimulasi daya nalarnya untuk memahami apa yang baik dan yang buruk.

Cerita sederhana. Akankah kita tetap peka dalam menjalani hidup? Menjalani prosesnya dengan penuh kesabaran tanpa dibebani harapan tak berlandasan.

Senin, 05 Juli 2010

Sepintas Tentang Lampung Timur

Sudah lama tidak menuangkan pikiran dalam tulisan. Agak janggal tapi sesungguhnya begitu merindu hati ini. Harusnya memang tidak ada yang alasan yang benar menghalangi keinginan hati.

Beberapa minggu belakangan, saya 'terjebak' dalam kegiatan yang terkait dengan pemilihan kepala daerah (PILKADA) Kabupaten Lampung Timur. Kata 'terjebak' bisa saja terdengar kasar. Toh, saya yang memilih hal ini terjadi. Sesuatu yang luar biasa, bukan kesempatan yang bisa terjadi dengan mudah pada orang lain. Mungkin.

Ketika awal, saya memang tidak mengetahui apapun. Siapa saya? Penduduk Lampung Timur juga bukan. Keterlibatan saya ini membuat saya memperhatikan apa yang terjadi. Salah satu yang menarik perhatian adalah slogan yang dipilih para kandidat pemimpin daerah.

Kandidat 1 : CITY, YES!
Kandidat 2 : YA-BISA
Kandidat 3 : PNS
Kandidat 4 :
SaE

Secara sederhana, slogan yang mereka gunakan adalah singkatan dari nama Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati. Dengan pemikiran awam saya, saya mengibaratkan slogan ini adalah brand yang merepresentasikan mereka. Representasi atas apa yang akan mereka kerjakan nanti.

Pertama. Kandidat pertama memilih kata dalam Bahasa Inggris. Bagi saya, memberi arti bahwa pasangan ini akan menjalani pemerintahan dengan mempertimbangkan aspek globalisasi. Tentunya karena Bahasa Inggris hampir menjadi bahasa komunikasi dominan yang digunakan antar negara di dunia. Menunjukkan keterbukaan atas informasi dan perkembangan yang berasal dari kerjasama dengan pihak luar. Sebuah desa dijadikan city yang berwawasan luas, mendunia.

Kedua. Slogan yang digunakan pasangan ini, luar biasa. Luar biasa adaptif. Apa yang tidak bisa, ya bisa saja dilakukan. Apa yang bisa, ya pasti bisa dilakukan. Seperti menganggap enteng semuanya. Ambiguisme muncul. Bisa yang seperti apa? Bisa untuk apa? Semoga dia, ya bisa, membangun daerah ini sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Buruknya, ya bisa saja pembangunan ini untuk kepentingan sepihak. Apapun itu, "Ya bisa diatur, lah."

Ketiga. Singkatan yang digunakan oleh kandidat ini erat sekali dengan Pegawai Negeri Sipil. Seakan-akan yang diperhatikan olehnya hanyalah nasib dari PNS. Padahal, kecil kemungkinannya semua penduduk kabupaten menjadi abdi negara. Calon Bupati nomor pilih 3 ini memang berasal dari kalangan birokrat. Wajar saja.

Keempat. Agak janggal. Diakui bahwa mayoritas penduduk Lampung Timur adalah berasal dari Jawa atau berdarah Jawa. Kandidat juga memang orang Jawa. Arti katanya BAGUS. Bagus menurut siapa? Pemilihan slogan dari bahasa Jawa padahal dia tinggal di Kabupaten Lampung Timur, rasanya seperti dia melupakan keberadaan dia di kabupaten ini. Akan lebih baik kalau dia mengutamakan ke-Bhinneka Tunggal Ika-an kabupaten ini, bukannya semakin memperbesar perbedaan.

Sebagai pemilih, kita haruslah bijak dan menimang dengan baik atas pilihan kita. Sekarang, belum ada pernyataan resmi dari KPU Lampung Timur, Kandidat 4 memiliki kemungkinan besar untuk menang. Bisa saja, penduduk belum mau mempersatukan diri mereka dalam perbedaan. Mereka hanya ingin yang bagus saja.

Satu hal, dunia ini tidak hanya sekedar bagus. Masih ada keburukan yang dapat terjadi dalam hidup kita. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Keputusan ada di tangan kita, mau tinggal terdiam atau merubahnya.

Jumat, 21 Mei 2010

Perdebatan

Seperti biasa, pagi hari saya mengantarkan adik tercinta ke tempatnya menuntut ilmu. Di perjalanan pulang, saya mendengarkan radio, sambil meneriaki kebodohan orang lain.

Stasiun radio yang saya  dengarkan mengadakan dialog mengenai sebuah page di dalam situs jejaring sosial yang kira mereka itu menggemparkan. Sebagian orang juga dapat menganggap itu menggemparkan. Hak mereka. Topik yang diperbincangkan adalah pembuatan karikatur seorang Nabi. Narasumber dalam dialog itu adalah seorang anggota DPR Komisi 1, yang dulu sering kita lihat wajahnya di infotainment sebagai ahli telematika, dan Menteri Agama.

Kenapa saya merasa ini seperti dibuat suatu isu yang menggemparkan?

Beberapa minggu yang lalu, saya terlibat dalam suatu diskusi mengenai bagaimana perkembangan teknologi informasi dapat mendukung pembangunan daerah. Salah satu pendapat narasumber, Dosen FT UNILA,
"Yang penting dari teknologi informasi ini adalah PEMANFAATANnya."

Lalu, anggota DPR itu mengatakan bahwa keberadaan page itu begitu meresahkan dan ini merupakan ranah menteri. Dia juga menambahkan mengenai pemerintah harus segera melakukan tindakan, menutup akses rakyat Indonesia atas page tersebut.

Haruskah?

Keluarga saya tidak resah. Alasannya adalah karena mereka tidak begitu tertarik dengan apa yang terjadi di dalam situs jejaring sosial. Bagaimana dengan rakyat Indonesia yang tidak memiliki akses internet? Akankah mereka resah?

Mungkin pemikiran saya kali ini tidak begitu baik. Bagi saya, saat menerima informasi melalui internet sangatlah diperlukan kebijakan atas para pengguna internet. Apakah kita akan menerima dengan begitu saja? Atau kita akan menggunakan hati nurani dan akal kita untuk memanfaatkan informasi itu demi kebaikan?

Saya tidak setuju dengan pendapat anggota DPR itu. Saya memilih agar page tersebut tetap dapat diakses. Terngiang-ngiang di kepala saya akan keterbatasan informasi ketika Indonesia dijajah, baik oleh bangsa lain atau diktator dari bangsa sendiri. Masyarakat haruslah diberikan suatu kondisi agar mereka memiliki kesadaran untuk memilih. Dalam hal ini, informasi yang mereka pilih.

Daripada menutup akses page yang tidak berpengaruh baik itu, bagaimana kalau kita mendalami agama kita dan menghargai perbedaan?

Mari kita kalahkan mereka dengan kebesaran hati kita.

*mohon maaf jika ada pihak-pihak yang tersinggung atas pendapat saya. Saya akui diri saya masih jauh dari kebijakan.

Kamis, 20 Mei 2010

Sampai Jumpa Lagi

[Me] i'm moving out tomorrow.
[Friend] for good?! i'm gonna miss you,ta.

Awalnya, Aku ingin menganggap ini hal yang biasa saja. Layaknya waktu yang terus berjalan. Aku pernah tinggal di Bandung, Aku juga pernah meninggalkannya dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Yang pasti, aku sudah pernah berpisah dengan baik dengan kota ini.

Benarkah kali ini aku tidak bersedih?

Dulu, aku dan teman sekamarku berpisah diiringi keriaan dari teman-teman terdekat. Kami tidur bersama di kamar kami yang kebanyakan barangnya telah dikeluarkan. Aku tidak merasa sedih. Toh, tidak ada yang perlu disesalkan dalam kehidupanku.

Seketika menjadi perih. Teman sekamarku telah pamit, dia hendak kembali ke Borneo. Pagi harinya, teman-teman yang lain  kembali ke rumah mereka masing-masing. Tinggal aku dan ruang yang hampa.

Kehampaan itu seperti menghisapku dan menyisakan kenangan indah. Aku menangis.

Akankah aku bersedih lagi?

Sekitar 5-6 jam sebelum keberangkatan Bis Damri jurusan Bandung-Lampung, aku baru saja selesai membereskan barang-barangku. Semoga tidak ada yang tertinggal. Aku dan teman terdekatku memutuskan untuk menonton Iron Man 2.

Aku pergi ke Cihampelas Walk. Kami mendapatkan karcis untuk pertunjukan sekitar pukul 14.30, selesai pukul 16.30. Sebetulnya cukup dekat waktunya dengan waktu keberangkatan bis, pukul 19.00 WIB. Sedikit tidak masuk akal, memang, memilih untuk menonton di waktu yang krusial seperti itu. Hanya saja tidak tahu hendak melakukan apa.

Lalu aku berpikir, "Sungguhkah aku tidak bersedih? Atau aku sudah benar-benar tidak memiliki perasaan atas kota ini? Tujuh tahun lamanya aku beraktivitas di kota ini? Tak ada kenangan berarti, kah?"
Rasanya aku harus membawa buah tangan, itu yang biasa dilakukan jika orang pulang dari perjalanan jauh.

Aku mengambil beberapa roti. Saatnya membayar, aku berdiri di depan orang asing yang menghitung berapa banyak yang harus aku bayar.

Aku ingin menangis.

Rasa-rasanya tidak ingin mengucapkan kata perpisahan dengan siapapun. Tidak adil rasanya. Aku masih ingin bertemu dengan mereka.

Aku berpamitan dengan sepupuku yang telah meminjamkan kamarnya untuk kutempati lebih dari 2 tahun. Dia juga mengantarkanku ke tempat pemberangkatan bis. Terima kasih luar biasa untuknya.

Sebentar lagi bisnya akan berangkat. Aku menghabiskan waktu-waktu sesaat bersama teman terbaikku.

Sampai jumpa lagi, Bandung!

Jumat, 14 Mei 2010

Repetisi Tak Bermakna

Topik suatu berita berjudul: TERORIS MERENCANAKAN AKSI TEROR.

Bukankah teroris berasal dari kata teror? Yang artinya, jelas sudah bahwa teroris memiliki cenderung melakukan aksi teror.

Bagaimana kalau,
Teroris Merencanakan Aksinya

Bukankah lebih efektif? 

Kamis, 13 Mei 2010

Pikiran Tanpa Henti

Terlalu banyak berpikir? Tidak juga.

Mungkin. Hanya memiliki pola pikir yang tidak semestinya dibiarkan terlalu lama berada di kepala. Konfontrasi dan konfirmasi yang hadir tanpa negosiasi yang tepat. Menyebalkan.

Apa yang harus kuperbuat?

Membuka mata lebih lebar. Melapangkan hati lebih luas lagi. Mulai melangkahkan kaki.

Benar. Aku harus mulai melangkahkan kaki. Melangkah dengan pasti dan penuh percaya bahwa Allah SWT akan memberikan pada umatnya yang berusaha.

Aku harus mencari kekuatan.

Permisi sebentar. Sampai nanti.

Minggu, 02 Mei 2010

Semu

Sakit.

Mungkin dia hanya peduli dengan apa yang aku lihat. Dia salah. Panca indraku lengkap. Ditambah, Tuhan memberikanku hati nurani agar aku dapat menjalani hidup lebih baik.

Aku tahu apa yang aku lihat. Dengan mudah saja, aku dapat menutup mataku dan aku kehilangan warna dalam pengelihatan.

Aku masih memiliki perasaan. Kau minta aku untuk menutup mata dan telinga. Namun, otakku masih bekerja. Rekaman kejadian-kejadian masih tersimpan dengan baik dalam memori. Dari yang lalu, aku dapat membayangkan masa depan. Permintaanmu tidak masuk di akal bagiku.

Aku sudah cukup melihat. Telah banyak mendengar. Akupun telah berpikir. Jangan pernah kamu berpikir bahwa aku cukup bodoh untuk kamu kelabui. Hanya saja, kamu kurang pintar mengakui bahwa ternyata kau bodoh.

Kalau saja kamu gunakan hati nurani demi kebaikan dirimu. Kamu akan sadar. Sesungguhnya, pujian-pujian bisa saja semu. Mereka hanya terdengar karena hanya itu yang ingin kamu dengar.

Kemudian, kamu terkesan picik. Karena kamu tak ingin mendengar kenyataan. Kamu hanya ingin yang semu. Kamu ingin hidup dalam dunia penuh kesemuan. Kamu anggap itu kebahagiaan. Kamu tutupi yang nyata dengan semu.

Bunga layu itu kamu coba warnai. Kelopak yang layu, kamu ganti dengan kertas. Daun yang gugur kamu lekatkan dengan lem.

Apa yang kamu ingin kejar? Kesemuan yang sempurna?

Tinggalkan saja dunia nyata, kalau memang merasa seperti itu.

Jumat, 23 April 2010

Kebijakan dalam Buku

Yang membedakan manusia adalah buku. Dalam setiap buku, manusia dapat menemukan kebijakan.

Itu adalah pernyataan salah satu temanku yang terekam di ingatan. Buku pun menjadi pembeda antara manusia dan hewan.

Kenapa bisa seperti itu?
Untuk mengisi perut, manusia bekerja dan mencari uang sedangkan hewan berburu.
Untuk meneruskan keturunan, manusia menikah dan para hewan memiliki musim kawin.

Aku pun berpikir, manusia memang diberikan akal oleh Sang Pencipta. Namun, beberapa hewan juga memiliki otak, ukurannya saja tidak cukup besar. Orang utan ataupun hewan-hewan dalam kelasnya memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan kehidupan manusia.

Ini bukan suatu perdebatan berdasarkan fakta yang begitu lengkap dan pertimbangan atas norma-norma lain, khususnya agama. Ini hanya sekedar perbincangan ringan.

Buku dan tulisan menjadi perekam sejarah manusia.

Melalui buku, aku belajar mengerti bahwa masing-masing dari kita mempunyai peluang untuk menjadi lebih baik. Memperluas cara pandang dan pengetahuan. Memberikan gambaran tentang yang akan terjadi di dunia.

Para penulis buku, dengan kemampuan mereka yang luar biasa, mampu membuat aku untuk meneruskan membaca dari lembar ke lembar. Tulisan yang dibuat berdasarkan fakta-fakta atau sepenuhnya atas fiksi hidup. Semua itu disajikan. kita sebagai pembaca yang patut lebih bijak dalam menyerapnya.

Lingkungan akademis dan sosialku membuatku membaca berbagai buku. Buku politik yang sarat akan sejarah waktu dan rekaman perkembangan suatu negara, dengan kecurigaan atas keberpihakan pendapat sang penulis. Buku sastra yang memberikan imajinasi dan sarat akan pembelajaran moral. Buku bisnis dan manajemen, memberikan kerangka pemahaman atas penghidupan organisasi. Buku seni dan budaya memperkayaku dalam ke-Indonesia-an.

Memulai petualangan melalui buku.

Mari membaca!

*ternyata tanggal 23 April 2010 adalah Hari Buku Dunia.

Jumat, 16 April 2010

Ketika Presiden Meninggal Dunia

Presiden Polandia Tewas dalam Kecelakaan Pesawat.

Berita yang mengejutkan. Tidak dapat dipercaya.

Salah satu teman mengatakan, "Itu takdir. Namanya juga kecelakaan pesawat. Ada tayangan National Geographi tentang Kecelakaan pesawat terbang." Bukan kecelakaan yang aku pertanyakan. Sebuah negara, ditinggalkan oleh kepala negaranya?

Terdapat empat syarat berdirinya sebuah negara; rakyat, wilayah, pemerintahan, dan pengakuan internasional. Kalau terjadi bencana pada pemerintahan, bukankah akan mempengaruhi pengakuan internasional terhadap negara tersebut?

Aku tidak mengerti apapun tentang Polandia dan perkembangan yang terjadi. Seingatku, aku belum pernah kenal dengan orang berkebangsaan Polandia. Apa jadinya kalau aku adalah rakyat polandia. Presiden dan beberapa pejabat negara penting lainnya, tewas bersamaan. Siapa yang akan memimpin negara ini?

Teman saya yang lain berkata kalau peristiwa itu sepenuhnya kecelakaan, walau banyak konspirasi mengenai kemungkinan lainnya. Itu sangat mungkin terjadi. Siapa yang paling menginginkan kematian Presiden Polandia dan pejabat kenegaraan lainnya?

Bagaimana jika hal tersebut terjadi kepada Indonesia?

Jadi teringat ketika Presiden RI menyatakan ketakutannya atas ancaman pembunuhan dirinya di depan umum. Layakkah? Sebagai manusia, ketakutan dia adalah wajar. Tapi dia adalah Presiden RI, orang pertama Indonesia, menyatakan ketakutannya di depan umum terasa kurang layak.

Tidak habis pikir kalau Indonesia harus mendadak mengganti Presidennya. Tak terbayang jadinya. Dengan kekuatan massa yang dimiliki oleh Indonesia, kerusuhan dapat saja terjadi. Masing-masing massa menggiring calon pengganti yang mereka jagokan. Belum lagi, kebanyakan manusia Indonesia belum cukup berbesar hati untuk menerima kekalahan.

Pada akhirnya, ada untungnya Indonesia belum punya pesawat kenegaraan. Kalau Polandia saja selama 20 tahun menggunakan pesawat yang sama, alias tidak memperbaharuinya, apa kabar Indonesia? Bisa saja, demi menghemat anggaran dan mempertebal kantong, pesawat terbang yang dibeli adalah pesawat bekas. Jangankan mencapai angka 20 tahun. Bahaya juga kalau mencapai tahun kelima pesawat itu mengalami kerusakan yang cukup signifikan.

Kamis, 15 April 2010

Pengajian Sebelum Pernikahan

Dua bulan terakhir ini, dua orang teman terdekatku menikah. Aku sudah berpendapat mengenai hal itu bulan lalu. Aku berharap mereka menjadi pribadi yang lebih baik diirngi dengan kebijakan dan diwarnai oleh kehidupannya nanti.

Kedua temanku ini menjalani sebagian tradisi Sunda. Salah satunya, pengajian sebelum Akad Nikah. Aku belum pernah mengikuti acara seperti ini. Kedua kakakku dan saudara terdekat, menjalani adat Lampung.

Mengapa pengajian ini menarik perhatianku? Sederhana saja. Yang utama, aku belum pernah datang ke pengajian menjelang pernikahan. Sebagai tambahan, Ustadz atau Ustadzah membicarakan hal-hal baik demi masa depan calon pengantin.

Pelajaran pertama yang didapat adalah alasan seorang suami memilih istrinya. Ada empat alasan terpilihnya seorang perempuan menjadi istri.

Kecantikan.
Kekayaan.
Asal Usul.
Iman.


Kecantikan ini tidak semata-mata kecantikan fisik. Alangkah lebih baik jika sang perempuan juga memiliki kecantikan hati dan cantik budinya. Bagaimana dengan kekayaan? Apakah para calon suami harus mencari perempuan lajang keturunan bangsawan yang hartanya melimpah? Bukan begitu, tentunya. Kaya akan pengetahuan atau kaya akan kebijakan. Kalau memang sang perempuan memiliki harta kekayaan melimpah, alhamdulillah.
Asal usul. Bagaimana keluarganya? Ini sebetulnya untuk mengetahui latar belakang sang perempuan. Aku pun mnyadari bahwa keluarga adalah pengaruh terbesar dalam hidup seorang individu.
Yang utama adalah imannya. Dan seorang pria tidak boleh memilih perempuan sebagai istri hanya karena salah satu atau ketiga alasan diatas. Lihat imannya, baru yang lain melengkapi adanya.

Pelajaran kedua, aku mendapatkan arti tiap hurup dari kata ISTRI.

Iman/Islam
Saleh
Taat
Ridho
Ikhlas


Perempuan yang berimankan Islam dan saleh dalam menjalani kewajiban dan menjauhi larangan dalam agama. Taat kepada suami, selama hal tersebut tidak menentang ajaran agama. Ridho dan ikhlas dalam menjalani rumah tangga.

Aku rasa, menjadi istri merupakan kompromi luar biasa akan kehidupan yang akan dijalani dengan suami. Kompromi yang baik maka akan membuat individu dapat merefleksikan lima hal tersebut.

Sayangnya, aku hanya mendengarkan petuah untuk calon istri (yang sekarang mereka berdua telah menjadi istri). Luar biasa. Secara egois, aku bisa saja berpendapat kalau istri dibuat untuk menekan egoisnya. Bagaimana dia harus menjaga kehormatan keluarganya. Namun, jika para suami juga melakukan hal yang sama, kebaikan kepada istrinya. Indah rasanya.

Semoga.

Kebahagiaan dan kebijakan untuk seluruh pasangan suami-istri!!!

Jumat, 26 Maret 2010

Sepatu

Kecil kemungkinannya kita menggunakan sepatu hanya satu buah. Kita membutuhkannya sepasang, 2 buah sepatu. Salah satu alasan yang menjadikan satuan bagi sepatu adalah pasang.

Aku tidak membutuhkan 2 buah sepatu yang sama persis. Aku butuh sesuatu yang berbeda tapi sama.

Itu pas.

Teman terdekatku pernah bilang, ketika kita berpegangan tangan akan terasa pas dan itu menyenangkan.

Minggu, 21 Maret 2010

Pernikahan Seorang Teman

Temanku menikah.

Keraguan-keraguannya di hari-hari menjelang pernikahan telah menguatkan hatinya. Ia menikah dengan pria yang ia pilih menajdi suaminya dan telah memilihnya menjadi istri. Aku mengharapkan kebahagiaan bertambah dalam hidupnya, selalu.

Sebelum harinya, sering aku mendengar cerita tentang baju pengantin, gedung pesta, souvenir, dan hal-hal lainnya. Bukan itu yang penting. Yang penting adalah hari setelah itu, kehidupan yang akan dia bina.

Pikiran untuk mengajaknya menghabiskan waktu bersama sebaiknya dipertimbangkan lebih matang. Sejak 1999, sebenarnya, kita memang tidak pernah tinggal di kota yang sama. Pertemuan dengannya di masa datang akan lebih berharga dari sebelumnya. Alasan aku untuk mengunjungi kota yang dia tinggali sekarang pun semakin berkurang.

Semoga kebahagiaan dan kebijakan selalu berada dalam hidupnya.

Apa yang akan terjadi pada pertemanan kami? Tidak ada. Tidak ada satupun yang berkurang. Justru bertambah. Suaminya pun menjadi temanku. Tali silaturahmi telah dibukakan dan diperpanjang.

Suatu waktu aku berkata,
"Aku iri padamu karena kamu akan menikah."

Aku hanya berharap waktuku pun akan tiba. Segera. Ketika Tuhan mengizinkanku.

Sabtu, 20 Maret 2010

Melangkah ke Depan

Ada dua hal yang sedikit mengganjal dalam fase hidup saya di dunia akademisi yang baru saja terselesaikan urusannya. Pertama, bagi saya, nilai sidang akhir saya yang tidak super memuaskan. Kedua, waktu studi saya yang terlalu lama membuat saya tidak mendapatkan status cum laude.

Lalu, APA PENTINGNYA SEMUA ITU?
Tidak ada.

Yang penting adalah kehidupan setelah itu akan dijalani seperti apa. Saya juga tahu dan paham hal tersebut. Namun, saya hanyalah manusia biasa. Rasa kesal masih saja hadir dalam diri.

Nilai akhir sidang akhir saya, hanya memerlukan 2 poin lagi untuk mendapatkan sebuah huruf A. Nilai yang saya peroleh adalah AB. Layaknya golongan darah yang saya miliki. Keesokan hari setelah sidang, saya baru sadar. Saya memang tidak boleh memperoleh A karena bisa saja saya menjadi pongah.

Ketidaksempurnaan nilai sidang saya adalah pelajaran bagi saya. Saya adalah manusia. Saya tidak sempurna. Saya masih harus terus belajar mengenai kehidupan ini. Saya tidak diizinkan untuk cepat puas atas hal yang telah saya lakukan.

Bersyukurlah saya mendapatkan nilai itu.

Ketika saya sedang mengurus perihal administrasi. Sang petugas berkata,
"Mbak tidak mendapatkan cum laude karena melewati masa belajar 21 bulan. Sayang sekali, padahal nilainya bagus."
Kesal rasanya harus ada orang lain yang menyatakan tersebut. Mungkin tanpa sadar, saya menganggap itu suatu kegagalan. Mengapa hal itu harus disebutkan orang lain? Padahal seharusnya saya tahu sendiri apa yang terjadi pada diri saya. Saya kurang membuka mata. Saya kekurangan kesadaran untuk mengetahui keberadaan saya sendiri.

Rasa itu menghantui.

Kalau saya merasa kalah, maka saya bodoh. Saya telah berhasil menyelesaikan proses yang harus dijalani dalam jenjang pendidikan ini. Kalau saya merasa menang, maka saya tidak mengakui bahwa ada kelalaian dalam proses ini. Saya lupa menghitung waktu dengan tepat.

Semoga saya tidak mengulangi kelalaian saya.

Rabu, 10 Maret 2010

Mari Kita Bersosialisasi!

Saya bingung. Bagaimana sesungguhnya jalan terbaik untuk menanggapi pandangan sosial terhadap diri. Saya akui bahwa sosial yang ada di sekitar kita penuh dengan subyektivitas. Saya pun memiliki pendapat sendiri atas individu yang saya kenal.

Untungnya, saya memiliki teman-teman luar biasa. Kadang saya tidak habis pikir bagaimana teman sekolah saya bisa bertahan ketika itu dan sampai sekarang pun mereka masih berteman dengan saya. Ketika SMA, sangat mudah bagi saya menyandang gelar orang tergalak di kelas atau suara paling menggelegar. Mungkin sebagian dari mereka ada yang sakit hati akan keberadaan saya, andaikan saja mereka menyatakan hal itu, saya ingin meminta maaf.

Sampai pada satu titik dalam hidup saya, terlintas pikiran, Kalau memang pandangan orang lain terhadap saya terasa menyakitkan berarti saya tidak boleh melakukan itu kepada orang lain. Penghargaan manusia terhadap manusia lainnya adalah cara manusia memanusiakan manusia. Sepertinya bahasa saya terlalu memutar-mutar.

Tugas manusia adalah memanusiakan manusia-douwes dekker-*

Maka, saya sadari bahwa pandangan subyektif saya dapat melukai orang lain. Layaknya pepatah, Mulutmu harimaumu. Jika kita terlalu cepat menyatakan pandangan kita tanpa memiliki konfirmasi yang cukup, maka kita telah membunuh karakter orang tersebut. Misalnya, saya dikenalkan teman saya dengan seseorang, ketika itu dia banyak diam dan tampak merenung. Bisa saja saya berpendapat, Ini orang menyebalkan sekali! Tidak bersahabat sekali!. Beberapa hari kemudian, saya baru tahu bahwa hari itu hewan peliharaannya meninggal dan teman saya berusaha menghibur temannya ketika itu.

Kita harus bersyukur kalau pendapat orang lain terhadap diri adalah hal-hal baik. Berarti kita didoakan untuk menjadi pribadi yang baik. Namun, bagaimana jika kata-kata yang terucap oleh orang lain tersebut adalah hal-hal buruk.

Bagi saya, jika orang tersebut menyatakan kepada saya hal buruk tersebut secara langsung dan berharap saya dapat merubahnya, saya akan berterima kasih. Bagaimana kalau mereka hanya bersuara jika kita tidak ada, secara kasar, mereka bergunjing. Apa yang harus kita lakukan?

Cara terbaik, lupakan saja itu. Seberapa penting pendapat orang lain dalam jalan hidup kita? Toh, yang penentu akhir adalah kita. Kita yang menentukan apa yang ingin kita jalani dalam hidup ini.

Sejauh ini, saya mencoba mengenal orang lebih baik. Atau mengenal orang yang baik-baiknya saja. Keburukan mereka bukan untuk dicemoohkan. Mungkin akan lebih baik jika keburukan orang lain adalah sumber pembelajaran kita terbaik agar kita lebih baik. Semoga kebaikan kita akan semakin meluas.


* saya agak tidak yakin kalau ini benar pernyataan beliau.

Senin, 22 Februari 2010

Terima Kasih

Hari jumat, 19 Februari 2010.

Hari ini saya menggunakan angkutan umum lebih banyak dari biasanya. Tempat tujuan saya mengharuskan berganti angkutan.

Ada satu adegan yang tidak dapat saya lupakan begitu saja.

Ketika urusan pertama selesai, saya naik angkutan dari depan tempat tersebut. Sebelum naik, sang supir tampaknya memiliki tinggi di bawah rata-rata orang. Dia terlihat lebih kecil.
Semangat bapak ini OK juga.

Jarak tempuh yang saya perlukan tidak sepanjang trayek angkutannya. Saya memberikan satu lembar seribu rupiah. Lalu, dia berkata,
'Terima kasih.'

Mendengarnya membuat saya tersenyum. Bapak itu telah menunjukkan ketulusan luar biasa di hari saya yang biasa. Ucapan darinya, seorang sosok tak dikenal, memberikan kesejukan.

Dunia ini masih indah. Masih ada harapan buat kita untuk terus mengisinya dengan keindahan lainnya.

Terima kasih banyak luar biasa, Pak. Semoga penumpang langganan Bapak bisa bertambah. Jadi, Bapak bisa terus menghadirkan ketulusan.

Kamis, 18 Februari 2010

Masalah Plagiarisme

Hal ini menggelitik sekali.

Beberapa waktu yang lalu, teman terdekat saya bercerita. Diawali kalimat yang mengindikasi ada sesuatu yang tidak baik terjadi.
"Eh, kamu tau ga? Ada cerita baru tentang dosen kamu di HI Unpar."
Cerita dengan bumbu lain-lainnya pun mengalir.

Dosen di almamater saya adalah seorang plagiat.

Keplagiarismeannya pun menjadi perhatian masyarakat umum. Kenapa masyarakat umum sampai harus mengetahui itu? Salah satu alasannya adalah karena dia mempublikasikan artikel karyanya di media massa yang memungkinkan dibaca oleh banyak orang -seorang Indonesia atau orang dengan bangsa lainnya. Menyatakan pendapat melalui media massa, membuka ruang bagi dirinya untuk dikritik oleh setiap orang yang membacanya. Siapapun itu. Keorisinalitas karyanya diragukan dan terbukti, dia seorang plagiat.

Pendapat bagi masing-masing pribadi tentunya boleh berbeda.
'Sudahlah. Ngapain juga membahas keburukan orang lain.'
'Dia? Orang itu? Yang bener?'
'Tu orang udah sakit ya?
'Ga nyangka yah!'


Bagi saya, itu adalah kebodohan. Saya masih ingat. Saya dan dua orang teman saya lainnya setelah pertemuan pertama mata kuliah yang dia ajar, kita merasa bahwa kita salah jurusan. Gertakannya luar biasa. Dia bisa saja memainkan perannya sebagai dosen sebagai motor bagi mahasiswanya. Dulu, saya dan teman-teman saya selalu menyatakan bahwa dia adalah dosen realisme. Kalau dalam pendekatan Hubungan Internasional, maka yang kita bicarakan adalah negara sebagai aktor dan isu politik-keamanan menjadi isu utama, ekonomi sosial dan yang lainnya hanyalah pendukung semata. Topik yang sering menjadi diskusi, 'Mengapa negara A harus melakukan invasi ke negara B?' atau 'Kenapa negara H harus meningkatkan kekuatan militernya terkait dengan perkembangan persenjataan yg dikembangkan oleh negara Z?.' Harusnya, dia dapat memperhitungkan setiap aksi yang dia lakukan akan berakibat apa terhadap dirinya, ini ilmunya dia.

Dia pernah mengomentari tugas teman saya yang referensi bacaannya hanya kurang dari lima. Dia menyatakan hal itu di depan kelas. Seberapa kasar tindakannya itu? Lebih kasar lagi karena dia melakukan plagiarisme. Atas alasan apa dia melalukan itu?

Apapun yang menimpa dia saat ini. Pencabutan gelar atau pemecatan. Kita -dalam hal ini saya mengajak teman semua untuk berpendapat sama dengan saya- harus mengakui bahwa dia hanyalah seorang manusia. Manusia yang memiliki sedikit kelebihan dan banyak kekurangan. Kekhilafan seringkali hadir.

Bagaimanapun juga, dia pernah mengajari saya bagian dari ilmu yang saya miliki sekarang. Untuk itu, dia memiliki penghargaan dari saya. Saya juga percaya bahwa dia adalah pribadi yang luar biasa dengan memiliki kemampuan di atas rata-rata manusia Indonesia. Sayangnya, dia lupa untuk melihat ke bawah dan bercermin setiap harinya. Saya tidak habis pikir kenapa dia harus menjadi seorang plagiat.

Di salah satu media, dia menyatakan, 'Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga.' Dia mengakui bahwa dirinya salah. Dia sadar betul bahwa dia adalah manusia.

Ini merupakan potret kecil tentang dunia pendidikan Indonesia. Kalau seorang dosen tidak dapat memegang kata-katanya mengenai penolakan atas nama plagiarisme. Lalu, apa yang terjadi pada dunia pendidikan kita nantinya? Yang terpenting, kalau kita tidak menjadi percaya pada sistem pendidikan yang ada di Indonesia, kemana lagi kita harus percaya? Maka, tugas bagi kita untuk membangun Indonesia. Mari kita mulai dan jangan pernah berhenti!

Selasa, 02 Februari 2010

(Ini) Tentang Pit

Suatu hari, aku menghabiskan waktu dengan teman terdekat. Aku cukup penat hari itu. Kita beristirahat sejenak sebelum melanjutkan petualangan selanjutnya. Duduk di pojok, ditemani 2 buah roti berkaramel dengan isi butter.

Pit* : Git, lo bikin tulisan dong tentang gue.
Gita : Tentang apa pit? kisah cinta lo? atau apa?
Pit   : Terserah. Kayaknya gaya hidup gue juga layak deh lo ceritain.
Gita : Hahaha. Pake nama asli apa samaran?
Pit   : Nama asli juga boleh.


Oleh karena itu, marilah kita kali ini menikmati kisah hidup Pit dari sudut pandang aku, temannya yang sering kali semena-mena meminta pertolongan.

Pertemuan pertama, sangat disengaja, saat itu aku mengikuti rangkaian pelatihan dan pendidikan untuk menjadi anggota kegiatan fotografi di kampus. Kedatangan saya disambut oleh Pit, seorang pria botak dengan kacamata bingkai hitam dan tampak angkuh, dia menjadi koordinator acara ini. Ternyata, tampak luarnya saja dia angkuh tapi tetap saja, dia itu Pit.

Selanjutnya, layaknya teman, kita berinteraksi banyak hal. Beberapa percakapan warung kopi 24 jam murah meriah sekitar kampus. Hunting foto bareng, dulu kita pernah menangkap matahari terbit tapi ternyata terhambat karena aku belum terbit dari tempat tidur. Satu hal yang harus diingat, Pit pernah membanting aku di muka umum. Dasar teman bajingan! Perbincangan lain-lain -tentang cinta, kuliah, hidup, dan entah berantah- juga terjadi demi penghargaan terhadap waktu yang berlalu atas nama pertemanan.

Pit adalah teman yang menyenangkan. Terkadang aku merasa lucu tapi sambil mengernyitkan dahi jika mendengar ceritanya. Salah satu penyebabnya, perbincangan ringan di suatu waktu.
Gita : Lo ngapain pit ikutan Kendo?
Pit   : Supaya gue bisa melindungi orang yang gue sayangi.
Alasan yang paling masuk akal. Maka beruntunglah perempuan yang dia sayangi. Semoga perempuan itu mengetahuinya.

Sekarang, Pit sedang tergila-gila akan membentuk tubuhnya, bukan, menjaga tubuhnya dalam bentuk ideal.
Gita : Kenapa sih pit lo mau ngurusin badan?
Pit   : Karena gue ingin membuktikan asumsi gue.
Gita : Emang apaan?
Pit   : Gue mau tau apakah ada hubungan gue gendut atau kurus dengan memiliki pacar. Jadi, kalau gue kurus berarti gue akan punya pacar.
Gita : Kalau ga?
Pit   : Berarti asumsi gue salah dan gue harus mencari asumi baru.

Dia bisa menghitung berapa kalori yang dia butuhkan dan darimana saja dia memperoleh itu. Ketika aku menghampirinya untuk curhat di pagi hari, dia membawa bekal sarapannya dengan menu nasi merah dan putih telor goreng ditambah vitamin C. Pernah dalam satu hari, dia melakukan setidaknya 3 kegiatan yang membuat dia bermandikan keringat. Pagi hari, lari pagi. Siang, fitness. Sore, DDR. Kalau aku harus mengikuti kegiatannya, sepertinya aku bisa-bisa kehabisan nafas karena kecapaian.

Entah dia akan membuktikan asumsinya itu atau tidak. Keinginannya untuk melindungi orang yang dia sayangi membuat dia harus tahu betul siapa orang tersebut.
Gue mau membuat dia tersenyum kalau dia ada di dekat gue.
Itulah si Pit, salah satu temanku yang luar biasa (aneh).

Semoga cinta Pit terhadap orang tersayang itu terbalaskan.



*nama disamarkan. Nama aslinya adalah Paulus Aprianto alias Aphiet.

Minggu, 31 Januari 2010

Drama Queen

Tulisan kali iini, akan menjadi salah satu tulisan yang cukup jelas bahwa aku mau cerita hal lebih personal, alias curhat.

Ketika kita menonton film, seringkali kita melihat apa yang ingin kita lihat saja. Ketika cerita film itu tidak sesuai dengan imajinasi kita, kita bisa saja geram dibuatnya. Mungkin karena film cenderung cerita fiksi dan kita tidak pernah ingin kenyataan kita benar-benar terulang di dalam film. Maka, yang ada di dalam film adalah penggalan dari kenyataan. Film yang aku bahas dalam hal ini adalah film komersial. Penegasan ini perlu karena film dokumenter haruslah dibuat sesuai dengan kenyataan agar penikmatnya tidak dibodohi.

Aku sedang menjadi orang penuh drama. Lebih lagi, aku adalah orang yang ekspresif. Sulit sekali buat aku harus menyimpan sesuatu tentang diri sendiri. Apalagi kalau ada hal yang membuat saya senang atau tersenyum, orang lain harus merasakan apa yang saya rasakan juga. Seperti orang yang egois, memaksa orang lain merasakan yang kita rasa. Semoga teman-teman yang membaca ini mau memaafkanku.

Kembali pada film, ada dua film drama yang sering terngiang di ingatan. Mereka adalah He's Just Not That Into You (1) dan (500) Days of Summer (2). Dengan sangat memaksa, mungkin film ini memiliki kesamaan dalam 'tokoh yang menceritakan kembali tentang orang yang ia kagumi.'

Kalau film (1), jelas sudah, para perempuan menceritakan kisahnya dengan lawan jenis ke teman-temannya. Untuk prianya -seingat aku hanya empat tokoh-, gaya berceritanya tidak bisa disamakan dengan kehebohan para perempuan bercerita. Di film ini, lebih banyak cerita tentang Gigi.

Tokoh Gigi, luar biasa mengharapkan 'boyfriend. Selalu berspekulasi atas setiap interaksi yang terjadi antara dia dan pria. Bahkan dia memperhatikan pilihan kata yang dilontarkan oleh pria-pria yang berinteraksi dengan dia. Mungkin karena dia memiliki keinginan yang sangat tinggi untuk memilki pacar, itu yang menyebabkan dia begitu positif atas apapun.

Aku juga pernah mengumpat kesal karena sms tidak dibalas atau jungkir balik luar biasa kesenangan ketika menerima kabar dari seseorang. Bingung setengah mati karena ada yang memberi aku nama panggilan setiap bertemu dengannya. Yang Paling menyenangkan, tersipu malu ketika ada yang tersenyum begitu cemerlang melihat kehadiran kita.

Kadang aku berpikir, mungkin akan lebih mudah kalau kita melupakan asumsi. Alih-alih senyum sendiri membaca sms dari seseorang. Harusnya kita tahu alasan orang itu memberi kabar atau entah apa. Padahal interaksi kita dengan manusia lain adalah hal yang sangat wajar dan manusiawi. Kenapa kita harus menganggap itu sebagai suatu keistimewaan?

Film yang (2), memberikan rasa yang berbeda. Membangunkan dua pikiran, 'apakah aku setega Summer?' atau 'aku sebodoh Tom?'. Summer yang pada awalnya tidak mempercayai adanya cinta karena cinta merupakan imajinasi dan semua yang terjadi haruslah berpangkal dari logika. Pikiran Tom berbeda, dia percaya cinta dapat menjadi motor dalam hidupnya. Bodohnya, Tom membiarkan Summer masuk ke dalam hidupnya. Sejak awal, Tom pun tahu bahwa Summer berbeda akan hal cinta. Dia tanpa sadar, melukai dirinya sendiri.

Apakah aku akan tega melukai diri sendiri tanpa sadar? Dan ketika luka terasa begitu nyata, apakah aku akan sadar kalau yang melakukan itu adalah diriku sendiri?

Rabu, 27 Januari 2010

Kamis, 21 Januari 2010

Menangis karena Mainan

Aku menangis hingga tersedu sedan. Awal penyebabnya adalah rusaknya sebuah mobil-mobilan yang pernah aku beli ketika aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Mobil-mobilan yang aku beli dengan uang tabunganku.


Kalau melihat secara sepintas. Semua orang bisa saja mengatakan aku bodoh atau mengada-ada. Itu hanya sekedar mainan. Benar adanya. Tidak pernah juga secara sengaja aku rawat.


Hanya saja, aku tidak bisa melupakan bahwa itu adalah mainan yang dulu amat aku idam-idamkan dan aku berusaha untuk mendapatkannya. Berkali-kali ke toko hanya untuk melihat sampai pada akhirnya membeli. Selain mobil satu itu, aku juga memiliki mobil-mobilan VW kodok lainnya yang bercorak warna-warni dan aku beli satu per satu. Koleksi itu pun semua sudah menjadi bangkai. Keponakanku perusak koleksiku.


Apakah aku hidup di masa lalu? Selalu teringat masa-masa lalu, seolah-olah kenangan di masa lalu menjadi pembenaran atas rasa yang kita miliki saat ini. Aku marah dalam kekinian atas dasar masa lampau. Seberapa adil aku atas diriku sendiri? Apa yang terjadi kini adalah kemarahan, bukanlah hal yang baik. Buat apa? Hanya atas dasar seonggok mainan berbahan dasar metal dan plastik yang dibuat sedemikian rupa menyerupai mobil VW.


Aku pun melampiaskannya kepada orang lain. Penguasaan diriku tidak berada dalam logika. Emosiku aku biarkan meraja dan keluar semaunya tanpa peduli dengan adanya orang lain. Ini bodoh. Bisa saja tanpa sadar aku menyakiti orang lain. Membuat aku lebih kesal lagi.


Dapatkah yang terjadi sekarang merusak masa lalu? Seharusnya tidak. Lalu kenapa aku harus menangis tersedu sedan dan bernada tinggi dengan orang lain yang tidak memiliki masa lalu yang sama dengan aku? Mereka tidak mengerti apa yang aku alami. Maka, aku sadar betul bahwa aku menjadi bodoh. Namun, aku juga tidak dapat memungkiri bahwa rasa kesal itu merajai hati dalam waktu kini.


Apa yang sesungguhnya terjadi? Apa yang sebaiknya terjadi?


Mungkin, dengan bijak aku harus dapat menjadikan masa lalu sebagai kenikmatan semata, menjaga pandangan melihat masa depan dan berpijak dalam kini.




Semoga.

Jumat, 15 Januari 2010

Buku perekam ingatan

Buku perekam ingatan ini adalah buku-buku yang terkumpul dan tertulis semenjak tahun 2007. Beberapa buku lainnya tersimpan (atau bahkan mungkin terabaikan) di tempat lainnya. Ini adalah buku-buku yang berada di sekitaran.



Beberapa kisah tersadarkan karena buku ini. Kisah pertemuan teman-teman. Kisah yang tertuang setelah berdiskusi dengan teman terdekat. Kisah para pengisi waktu dan pikiran dalam hidupku. Semua itu adalah kisah tentang aku.

Metamorfosa tidak begitu kentara. Andai saja aku dapat menilai melalui tulisan tangan, mungkin guratan-guratan itu dapat diartikan.

Selasa, 12 Januari 2010

Belajar Bersabar dan Mengerti

Suatu waktu aku tersadar. Waktu yang dilalui telah menyadarkanku tentang pembelajaran. Bahwa interaksi kita dan manusia lainnya adalah langkah untuk memperkaya diri. Semoga dengan cukup bijak dan penuh makna ketika kita menjalaninya proses itu.

Ketika kita berbincang dengan teman. Lalu kita anggap bahwa dia tidak mengerti apa yang kita perbincangkan. Bukan berarti dia tidak mendengar. Hanya saja kita kurang bersabar untuk memastikan bahwa dia telah mendengarkan semua dengan baik. Mungkin saja perhatiannya teralihkan oleh aktivitasnya yang lain. Atau memang perkataan yang kita keluarkan tidak penuh arti bagi dirinya.

Teman yang lain, membuat aku belajar untuk mengerti. Mengerti bahwa waktu memang untuk dijalani. Di dalamnya dapat saja terjadi banyak hal. Asalkan kita mengerti, kita tidak perlu tergesa-gesa berlari di kekacauan dunia. Jangan sampai kita tenggelam dalam kebodohan. Mengertilah.


Terima kasih luar biasa bagi dua orang teman terbaik. Kalian mengajarkanku. Dengan waktu.

Senin, 04 Januari 2010

Melarang dan Kebersihan Tangan

Setiap kali saya mengisi bahan bakar di pompa bensin Pertamina. Ada 2 hal lain yang mengganjal. Beberapa kali saya mencoba memperhatikan. Dua hal tersebut selalu saja menggelitik.

Hal pertama, ada tiga larangan yang disampaikan oleh Pertamina, yaitu dilarang merokok/menyalakan api, dilarang menggunakan telepon genggam, dan dilarang menggunakan kamera/memotret. Saya sebetulnya mau menunjukkan dalam foto mengenai tanda ini tapi sayang, harus menghargai peraturan yang orang lain buat dong. Supaya kalau nanti saya membuat peraturan, orang lain juga akan mematuhinya.

Kalau mengenai larangan pertama wajar saja. Api bisa memicu kebakaran. Mengenai telepon genggam, dulu saya pernah mendengar bahwa sinyal dari telepon genggam dapat menyebabkan ledakan. Untungnya, saya juga menonton seri Mythbuster tentang breaking this myth. Sinyal dari telepon genggam ternyata tidak menyebabkan ledakan. Telepon genggam bisa saja menyebabkan ledakan jika pelaku peledakkan menggunakan itu sebagai pemicu ledakannya. Dalam hal ini, telepon genggam harus diberi perangkat tambahan. Jadi, tidak semudah itu telepon genggam dapat menyebabkan ledakan.

Peraturan yang ketiga, apa hubungannya? Seberapa menyakitkan menggunakan kamera di pom bensin? Bukannya kamera adalah alat perekam berupa gambar yang dapat digunakan demi kebaikan? Seperti pemberitaan atau publikasi dalam blog seperti ini. Foto kadang dibutuhkan untuk menunjukkan keberadaan secara fisik hal tersebut. Saya belum mengerti logika penentuan larangan tersebut.

Selain itu, penempatan larangan ini juga agak aneh. Mesin pompa diletakkan di antara dua tiang. Di tiang tersebut terdapat empat panel, menurut perkiraan, satu panelnya memiliki tinggi 1 m. Kurang lebih, diberi leveling 20-30 cm dari atas permukaan jalan. Larangan tersebut diletakkan di ujung atas panel kedua. Memberikan asumsi, larangan tersebut setinggi 2,2-2,3 m. Tinggi saya 158 cm, dengan anggapan itu tinggi normal perempuan Indonesia. Dengan begitu, tinggi pandangan saya berkisar di 150 cm. Berarti terdapat kesenjangan 70 cm dari titik pandangan normal saya. Sebagai konsekuensi jika saya tidak mengelilingkan pandangan saya, ungkin saya tidak pernah melihat tanda tersebut.

Seberapa penting peletakan tanda itu? Hal yang kemudian perlu dipertimbangkan adalah seberapa besar perusahaan ingin menyampaikan pesannya terhadap pelanggannya. Ini bukan ranah saya, hanya ingin berpendapat. Alangkah baiknya jika pesan atau promosi yang dilakukan berada pada bidang yang bersinggungan dengan konsumen yaitu, tinggi/jarak pandang.

Hal kedua adalah kebiasaan para penjaga/pengisi bahan bakar memegang uang dari konsumen dan memegang seluruhnya di genggaman tangannya. Bukankah itu sesuatu yang jorok? Uang adalah media transfer bakteri yang paling mudah karena uang digunakan sebagai alat barter. Saya belum pernah mendengar penelitian atau apapunlah itu tentang efek yang diterima oleh pekerja karena mereka memegang setumpuk uang seharian. Bagaimana kalau pekerja tersebut tidak memiliki kebiasaan cuci tangan sebelum melakukan aktivitas lainnya? Berarti perusahaan tersebut tidak menjamin kesehatan pekerjanya, dong. Hal ini menjadi hal terjorok yang harus dirubah.

Apa yang bisa dilakukan atas bakteri yang menempel pada uang sehingga mengurangi kemungkinan terganggunya kesehatan? Pertama, kita suruh saja bakteri tidak usah lagi hidup di dunia ini. Itu pilihan paling irrasional, mari kita lupakan pilihan pertama. Kedua, tidak usah lagi menggunakan uang kertas dan koin sebagai alat pembayaran. Ada bank juga yang bekerjasama untuk menggunakan kartu bayar. Kalau saya melihat di film-film produksi luar, jika mereka ingin mengisi bensin, beberapa tidak perlu dilayani oleh penjaga langsung karena pembyaran dilakukan dengan kartu. Ketiga, BBM gratis. Kalau untuk ini, usul saya bisa langsung ditolak oleh perusahaan. Keempat, desain ulang tempat penyimpanan uang, tidak lagi sekedar laci. Untuk ini, ada beberapa aspek harus dipertimbangkan.

Penyimpanan uang ini memiliki dua dimensi. Satu, sesuatu yang menempel dengan pekerja. Dua, sesuatu yang berjarak dengan pekerja tersebut. Tergantung dengan kebutuhan atau pertimbangan perusahaan terhadap kegiatan operasionalnya. Kalau Pertamina menginginkan minimnya pergerakan ketika berada di depan konsumen, maka tempat penyimpanan harus menempel di badan petugas. Dapat saja berupa tas pinggang dengan satu resleting. Kalau Pertamina cukup rajin menstimulasi karyawan lainnya atau memiliki reliable supplier yang dapat membuat tas modifikasi. Bisa-bisa ini justru mendukung kreativitas dalam pengembangan produk.

Atau malah ini dapat menjadi peluang bagi produsen sabun tangan untuk bekerjasama dengan Pertamina menangani tangan-tangan petugas berbakteri. Mulailah dengan mencuci tangan. Kita tidak tahu apa yang kita sentuh. Bahkan, teman terdekat saya pernah memarahi saya karena saya memegang pegangan escalator karena menurut dia, pegangan itu sudah dipegang oleh sekian banyak orang yang tidak jelas kehigienisannya.

Semoga. Semoga saja petugas itu tidak pernah sakit perut yang disebabkan oleh bakteri-bakteri yang bermukim di lembaran uang kertas kumal yang telah berpindah tangan berkali-kali.



Pertamina Blog Contest

Pasti Pas-Pas-an


Tulisan saya kali ini akan sedikit panjang dari biasanya. Salah satu alasannya adalah karena hal ini sering sekali muncul di pikiran walau sempat terlupakan oleh aktivitas. Jadi, buat teman-teman yang bersedia membacanya, terima kasih dan bersabar. Semoga kita bisa berdiskusi

Waktu awal Pertamina mengganti logonya, teman-teman saya heboh membicarakan budget yang dikeluarkan oleh perusahaan. Ketika itu, bukan suatu isu yang menarik bagi saya. Mungkin karena saat itu saya belum mencukupi pengetahuan saya dengan hal-hal yang terkait dengan perkembangan bisnis dan lainnya.

Setelah saya memulai membaca buku-buku bisnis, saya sedikit mengerti. Dapat dikatakan, perubahan logo ini menunjukkan adanya perubahan dalam perusahaan tersebut. Reformasi, restrukturisasi, atau istilah apa entah. Saat mencoba mengingat logo lama Pertamina, rasa-rasa saya hilang ingatan. Kalau logo yang sekarang digunakan tentunya tidak perlu diingat lekat-lekat karena di setiap pom juga kita bisa melihat logo itu.

Tidak lama dari itu, mereka mengeluarkan Program PASTI PAS. Menurut saya, banyak juga perubahan yang dapat terasa oleh end-user, yaitu kita masyarakat umum yang membeli bahan bakar di pom.

Adanya standar operasional yang harus dilaksanakan oleh front-liner person, petugas pengisi bahan bakar. Pertama, mereka harus tersenyum. Lalu, mengucapkan salam. Menunjukkan "dimulai dari angka nol ya, pak". Diakhiri dengan ucapan terima kasih. Kalau petugas tidak melakukannya, kita –para pelanggan- berhak melaporkannya. Untuk hal ini, saya bingung bagaimana pelaporan itu menjadi valid. Karena bisa saja ada orang iseng yang ingin melapor hal tersebut untuk mengganggu kegiatan operasional. Bisa saja petugas tersebut terkena teguran, gajinya dipotong dan bahkan dipecat. Perhatian saya tidak di situ.

Program tersebut menunjukkan kalau Pertamina tidak hanya menawarkan produk (dalam hal ini saya membicarakan produk bahan bakar yang dijual kepada masyarakat umum), mereka juga memiliki nilai-nilai yang ingin disampaikan kepada konsumen mereka. Kurang lebih dapat dikatakan, "kepercayaan Anda, membuat kami bertahan". Berlebihan memang tapi hal tersebut merupakan bentuk penghargaan dari Pertamina kepada konsumennya.

Seberapa penting, sih, PASTI PAS buat kita? Kalau teman-teman hanya beraktivitas di sekitar perkotaan, selisih beberapa tetes mungkin tidak akan menjadi masalah. Namun, kalau sedang dalam perjalanan menuju kota lain dan jarak pom yang satu dengan yang lain cukup jauh (bisa saja karena daerah yang dilewati tidak banyak penduduk), maka hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap perhitungan penggunaan bahan bakar kita.

Belum lagi petugas pom yang di daerah sepi itu lebih banyak bandelnya. Dimisalkan, kita ingin mengisi 10 L tapi dia memulainya dari angka 1,.. L. Mungkin dia tidak begitu mengerti mesin yang dia gunakan atau mesinnya tidak pernah diperbaiki akurasinya atau mungkin karena dia bosan kesepian atau hanya sekedar mencoba mendapatkan uang lebih. Setidaknya itu yang secara kasat dapat saya bayangkan. Itu mungkin kisah basi. Banyak orang sudah memiliki kisah sendiri. Bahkan mungkin, karena Pasti Pas sudah lama berjalan, orang lupa akan hal itu. Kita harus menghargai Pertamina mencoba meningkatkan profesionalitas kinerjanya.

Sedikit tambahan, atas masukan dari teman saya, seberapa pas dari Pasti Pas. Seberapa akurat perhitungan alat pompa bensin yang dimiliki Pertamina sehingga dapat menghasilkan akurasi angka yang tertera 1 L di mesin untuk 1 L di dalam tangki kendaraan kita. Mungkin Pertamina bisa melakukan pembuktian. Benar. Pembuktian bukan hanya dimulai dari angka 0 tapi angka akhir dari output mesin adalah sama dengan banyak cairan yang ada di tangki kita. Biar nyata, bahwa kebohongan tidak ditutup dengan kebohongan yang lain.





Pertamina Blog Contest