Minggu, 27 Desember 2009

Biar Lebih Dewasa

Kemarin, bersama beberapa teman, kita datang ke pesta ulang tahun salah satu anggota UKM POTRET UNPAR. Ulang tahun  yang ke-17. Itu artinya orang yang berulang tahun ini berbeda 8 tahun dengan saya. Tentunya, ini bisa saja menimbulkan pendapat para teman yang membaca.

Seru dong!
Ga ketuaan, Git.
Emang lo ga ada kerjaan lain ya?
Makan apa aja lo?
Ada yang seger-seger ga?

Mood-nya lagi bagus untuk jadi party crasher. Hihihi. Mohon maaf buat yang punya pesta. Ada satu bagian yang buat saya menggelitik.

MC: ... kenapa sekarang pilih venue di sini?
BG: ... karena pengen lebih dewasa aja.

Alasan yang masuk akal. Manusia seringkali berharap kalau pilihannya di waktu yang akan datang adalah pilihan yang dewasa. Ada juga salah satu temanku, tidak mau lagi dianggap kekanak-kanakan dan menyatakan bahwa, 'Aku kan dewasa.' Entahlah.

Kemudian, seketika saya tertegun. Kenapa orang pada umumnya ingin menjadi dewasa? Apa yang menyebabkan dewasa begitu berbeda?

Jika dewasa itu diartikan sebagai
    tidak manja lagi
    tidak menangis lagi
    tidak bertindak konyol lagi.
Berarti dengan percaya diri, saya menyatakan bahwa sama sekali tidak dewasa dan tidak ingin menjadi.

Bisa saja dewasa diartikan sebagai
    sadar diri
    bijaksana
    cermat
    bertanggung jawab
    mandiri.

Saya adalah orang yang mudah sekali berekspresi. Menitikkan air mata salah satunya. Kalau untuk menjadi dewasa itu berarti tidak menangis lagi. Saya memilih menyerah saja. Daripada itu, sepertinya lebih enak kalau kita menjadi pribadi yang sadar diri. Sadar diri mengenai kapan patutnya mengekspresikan diri selepasnya atau ditutupi sama sekali. Bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan dan akan dilakukan.

Terkait dengan pesta teman saya itu. Di tengah acara, sang pembawa acara mengundang para cowok untuk hadir di depan dan mengikuti permainan yang berhadiahkan benda berteknologi. Para cowok itu kemudian diberikan peraturan yang mengharuskan mereka menanggalkan pakaian, sampai tinggal satu pakaian (dalam) saja yang dipakai. Dewasa macam apa itu? Merasa terjadi ke-tidakkonsisten-an sang penyelenggara pesta. Terlalu dewasakah dia sampai-sampai saya tidak mengerti nilai dasar penanggalan baju itu.

Saya menyerah. Bingung mau menyatakan apalagi. Yang pasti, saya masih mau meloncat-loncat jika saya mendengar musik yang saya suka. Menangis ketika tidak ada cara lain untuk mengekspresikan rasa di hati. Tertawa lepas pada saat teman-teman terbaik berada di sekitar. Dan terdiam ketika kepala ini harus beristirahat untuk berpikir demi menikmati waktu yang  berjalan.

Rabu, 23 Desember 2009

Handuk oleh Catylac

Kali ini saya tertarik dengan iklan Cat Tembok catylac berhadiah handuk.

Iklan itu menceritakan seorang ibu yang mengundang teman-temannya untuk arisan di rumahnya. Dia berharap teman-temannya menyukai cat rumahnya yang baru. (Bagi saya) Kejanggalan pun kemudian dimulai.

Anggota keluarga lainnya pun bersiap. Suaminya muncul, selesai mandi dan ada handuk Catylac dikalungi di lehernya. [Tulisan Catylac pun terbang dari helaian rambut itu]. Setelah itu, dia menghanduki anak perempuannya yang baru selesai mandi dengan handuk Catylac. [Lagi-lagi, tulisan catylac terbang dari handuk].

Ketika teman-temannya datang, barulah ada adegan yang lebih menunjukkan 'rasa kagum' terhadap cat. Seperti ketika sang anak berlari dan menghampiri ibunya dengan membawa gambar berwarna-warni hasil karyanya. Entah mengapa, adegan selanjutnya tidak begitu melekat di hati. Sayangnya, saya tidak sempat melihat iklannya lagi sebelum saya publikasikan pendapat saya ini.

Adegan terakhir, sang anak yang diselimuti oleh handuk dan ditutup oleh sekaleng Cat Tembok Catylac dengan setumpuk handuk disampingnya. Temanku berpendapat, yang juga saya setujui tentunya, kalau adegan terakhir ini seperti iklan pelembut pakaian. Biasanya handuk digunakan untuk memberikan kesan lembut.

Pada akhirnya, saya bingung. Apakah saya melihat iklan cat tembok? Atau iklan handuk?

Rabu, 16 Desember 2009

Seperempat Abad

Alias dua puluh lima tahun. Atau lebih tepat 25 tahun. Jadi teringat pelajaran Bahasa Indonesia. Kalau angka disebut lebih dari dua kata, maka dituliskan dalam angka. Namun, jika hanya dua kata, maka ditulis dengan kalimat. Lain lagi kalau angka tersebut kita gunakan dalam awal kalimat, maka harus dituliskan dengan kalimat.

Sebagai contoh indahnya pengaturan bahasa Indonesia,
Seribu sembilan ratus empat puluh lima, Indonesia merdeka.
Karakter yang terlalu panjang itu dapat diperindah dengan cara pemilihan kata yang tepat.
Pada 1945, Indonesia merdeka.

Wow!  Menyenangkan, ya?

Sayangnya, saya tidak mau membicarakan mengenai kaidah penggunaan bahasa Indonesia. Saya mau mengumumkan bahwa hari ini saya telah diberikan kehidupan selama 25 tahun oleh Tuhan saya, Allah SWT. Alhamdulillah.

Apakah hari ini berbeda dengan hari-hari lainnya? Rasanya sama saja. Biasa-biasa saja. Bangun pagi. Terdiam beberapa saat di kasur sambil menikmati cahaya matahari yang tembus melewati jendela. Aku masih bingung. Inginkah aku merayakan hari ini? Entah.

Biasanya kalau teman-temanku yang sudah melewati umur ini, mereka semacam merasa ditegur oleh waktu. Toh, itu hanya angka. Aku hanya ingin yang lebih baik dari hari ke hari. Itu saja.

Sabtu, 05 Desember 2009

Kisah Jakarta (bagian 2)

Assalamualaikum
maaf mengganggu sebentar perjalanan anda
...
...
...


Andaikan saja aku dapat mengingat lagu yang lelaki kecil itu nyanyikan. Aku terenyuh. Mukanya bukan peminta tapi pejuang jalanan bagi hidupnya. Suaranya parau memunculkan imajinasi akan kehidupannya yang begitu keras yang terpaksa ia jalani. Dia menyanyi, dia menatap ke luar jendela.

Aku mengeluarkan selembar uang seribu rupiah dari kantong belakang. Aku berikan kepadanya. Entah kapan terakhir kali aku memberikan uang kepada orang yang tidak aku kenal.

Adik, maafkan jika aku berdosa pada dirimu. Tapi Tuhan, aku ingin dia segera mati agar dia tidak perlu terlalu lama menjalani hidup di dunia yang penuh perjuangan.

Kisah Jakarta (bagian 1)

Kisah jakarta kali ini.

Alasan utama aku datang ke jakarta ini adalah sepenggal cerita yang hilang dari seorang teman. Kepingan teka-teki yang belum terjawab. Ada apa dengannya.

Walau tidak berjalan sesuai rencana, kami memulai menghabisi waktu bersama di tengah hari. Bercerita mengenai keseharian aku dan dia belakangan ini dengan bumbu-bumbu kisah orang-orang di sekitar kami. Akhirnya terasa lengkap. Namun, hari ini belum berakhir.

Film New Moon mengisi malam kami sebagai pengganti makan malam berkalori. Kami duduk di bangku G 16 dan G 17. Angka G 16 seperti merepresentasikan aku di bulan desember ini. Senangnya. Ditambah, rasa kenyang dan ketagihan melihat badan Jacob yang luar biasa menggiurkan. Tidak sabar untuk Eclipse.