Senin, 28 September 2009

City of Angel

Film lama yang belum sempat secara sadar kutonton. Sepotong demi sepotong aku menyaksikan film City of Angel karena diselingi dengan melakukan aktivitas lainnya. Semenjak dulu dinyatakan bahwa ini adalah film cinta yang menggugah. Itu benar.

Konsep yang menarik, percintaan antara manusia yang penuh rasa dan malaikat yang buta akan rasa. Walau keberadaan malaikat yang seperti ini dapat saja memunculkan kontradiksi lainnya. Maka, aku akan menceritakan tentang pendapatku ketika menonton film ini.

Apa jadinya jika kita mencintai orang tanpa harus didahului dengan indra perasa lainnya, hanya dibutuhkan suatu perasaan yang kuat, aku cinta kamu. Walau dirinya telah menyakiti kita, itu pun tidak terasa karena kita buta akan segala rasa, kecuali satu (cinta). Kebutaan ini yang membuat kita menjadi gila. Pada satu titik, aku butuh rasa. Rasa yang membantu kita untuk mewarnai hidup dan cinta.

Biarkan aku merasakan diriku terasuki oleh dirimu dan izinkanlah aku menyentuhmu agar kau dapat merasakan apa yang aku rasa.

Itu yang luar biasa menyentuh. Ketika sang malaikat merasakan setiap pengalaman pertamanya dalam merasakan segala hal. Keindahan terasa nyata. semua pun menjadi nyata.

Minggu, 27 September 2009

Kisah Ubur-Ubur

Beberapa hari yang lalu, menghabiskan waktu bersama keluarga. Laut biru adalah destinasi yang menggoda. Dengan berbekal peralatan mancing dan skin dive. Kami pun memulai petualangan.

dan hal yang tak terlupakan adalah
SENGATAN UBUR-UBUR.

ketika disengat, tidak langsung sadar bahwa itu adalah sengatan ubur-ubur. Aku juga tidak berani untuk menyentuh bagian tubuh yang tiba-tiba panas untuk menghindari tindakan gegabah. Setelah memerhatikan beberapa saat, ada seperti benang (yang ternyata bukan urat) merah transparan menempel. Ketika diangkat, panasnya pun sedikit berkurang. Ingatan pelajaran dasar menyelam tentang biota laut yang berbahaya pun datang, ini ubur-ubur api yang Pak Sinek pernah bilang.

Keinginan mengumpat juga tidak terlalu muncul karena tidak sesakit itu juga. Menangis juga buat apa. Rasa-rasa kesal hanya sesekali dilampiaskan dengan teriakan sesaat. Selama dua  hari bertahan. Berharap bahwa memar ini segera sembuh. Ternyata tidak juga.

Beberapa alternatif pengobatan sudah dilakukan. Memberi air perasan belimbing wuluh (asam dianggap dapat mengurangi efek menyebaran racun), ludahan air green sands, pasir, air mineral, dan air seni. Hasilnya? Tiga titik membaik dengan cukup signifikan. Dua titik lainnya, sampai hari ketiga ini masih memar ditambah dengan rasa gatal yang mengganggu.

Sampai pada titik kesal dengan pemberian salep (atas saran dokter keluarga) yang tidak juga terasa efeknya. Akhirnya, dicari alternatif lainnya. Mengompres tempat sengatan dengan daun Saga Rambat. Langkah terakhir, mengoleskan dengan minyak kelapa yang sedikit panas. Hasilnya? Terus berusaha dan semoga badan ini tetap berjuang melawan racun ubur-ubur.

Didorong dengan rasa penasaran, aku mencari tahu seperti apa wujud si ubur-ubur peninggal jejak di tubuh ini. Kata kunci pertama adalah ubur-ubur api. Dengan memperhatikan gambar-gambar yang muncul di hasil pencarian, nama ubur-ubur itu adalah Chrysaora quinquecirrha. Kalian yang membaca bisa mencari gambarnya di internet. Menyeramkan.

Ada yang menarik, ketika membuka http://lifeinthefastlane.com/2008/12/box-jellyfish-chironex-fleckeri/ terlihat kalau di pinggir pantai (entah dimanapun itu letaknya) terdapat persediaan vinegar (cuka) sebagai obat pertama atas serangan/racun biota laut. Menyenangkan melihat ada pihak yang memperhatikan keselamatan manusia lainnya.

Apapun yang telah diperbincangkan. Semoga sengatan ubur-ubur ini segera membaik.