Rabu, 12 Agustus 2009

Film Merantau

Kemarin, 11 Agustus 2009, saya dan teman saya -penikmat film- menonton Film MERANTAU yang menceritakan suatu proses pendewasaan bagi pribadi dari Minang dari segi spiritual dan fisik. Kata-kata pembuka dari film itu menjelaskan "Apa itu MERANTAU bagi pribadi Minang." [Mohon saya dikoreksi jika terdapat kesalahan.

Menarik. Ketika Yuda melatih keahliannya dalam bersilat di tengah tanah lapang dengan menggunakan senjata tradisional (menurut logika saya tanpa dicek ulang atas fakta lainnya). Di awal film, disajikan bahwa adanya ketertarikan atas Yuda terhadap lawan jenis juga tentang kereligiusan keluarganya, ketika si Amak mengingatkan anak-anaknya untuk menunaikan ibadah shalat. Ini yang menjadikan saya membentuk imej tentang pribadi Yuda. Seorang lelaki Minang yang santun, taat beribadah, menghargai keluarganya, dan berharap yang terbaik akan terjadi.

Bagi yang bersilat atau tertarik dengan ilmu bela diri, mungkin, film ini bisa menjadi referensi. Siapa tau kalian bisa menjadi bintang film selanjutnya. Hebat. Tidak dapat dipungkiri memang pertarungan yang mereka arahkan begitu menarik.

Dengan berat hati saya pun harus menyatakan kekecewaan saya terhadap elemen lain yang diangkat dalam film ini. Apalagi dengan pilihan dialog -yang sesaat- seakan-akan hanya terdiri dari tiga kata, "T*i, Bangsa*, Anjin*."

Seperti ada adegan yang tampaknya begitu ganjil. Ketika Astri melawan Jhoni, si germo, dan menendang alat vitalnya. Itu membuat anak buah Jhoni berpikir dua kali untuk memegang atau menahan badan Astri. Ada pause (jeda) beberapa saat, menurut saya, yang harusnya dapat dimanfaatkan oleh Astri untuk berlari pergi jauh karena sisi kiri dia tidak dihalangi oleh anak buah Jhoni. Tapi dia tidak lari, hanya diam, berdiri dan menunggu kata-kata keluar dari mulut Jhoni. Dia pun kembali di cengkeraman Jhoni.

Hal yang lebih mengganggu, bagi saya, dimana waktu Asti dan Yuda berkenalan dan bagaimana Astri dan Yuda saling mengetahui apa yang mereka lakukan sebagai pekerjaan mereka. Itu amat sangat ganjal. Berkali-kali, banyak sekali pausing di dalam film yang mengganjal sangat. Membuat film itu terlalu lama.

Terserah apapun pendapat saya. Tepuk tangan dan penghargaan luar biasa bagi pencipta film Indonesia! TERUS BERKARYA!