Minggu, 27 Desember 2009

Biar Lebih Dewasa

Kemarin, bersama beberapa teman, kita datang ke pesta ulang tahun salah satu anggota UKM POTRET UNPAR. Ulang tahun  yang ke-17. Itu artinya orang yang berulang tahun ini berbeda 8 tahun dengan saya. Tentunya, ini bisa saja menimbulkan pendapat para teman yang membaca.

Seru dong!
Ga ketuaan, Git.
Emang lo ga ada kerjaan lain ya?
Makan apa aja lo?
Ada yang seger-seger ga?

Mood-nya lagi bagus untuk jadi party crasher. Hihihi. Mohon maaf buat yang punya pesta. Ada satu bagian yang buat saya menggelitik.

MC: ... kenapa sekarang pilih venue di sini?
BG: ... karena pengen lebih dewasa aja.

Alasan yang masuk akal. Manusia seringkali berharap kalau pilihannya di waktu yang akan datang adalah pilihan yang dewasa. Ada juga salah satu temanku, tidak mau lagi dianggap kekanak-kanakan dan menyatakan bahwa, 'Aku kan dewasa.' Entahlah.

Kemudian, seketika saya tertegun. Kenapa orang pada umumnya ingin menjadi dewasa? Apa yang menyebabkan dewasa begitu berbeda?

Jika dewasa itu diartikan sebagai
    tidak manja lagi
    tidak menangis lagi
    tidak bertindak konyol lagi.
Berarti dengan percaya diri, saya menyatakan bahwa sama sekali tidak dewasa dan tidak ingin menjadi.

Bisa saja dewasa diartikan sebagai
    sadar diri
    bijaksana
    cermat
    bertanggung jawab
    mandiri.

Saya adalah orang yang mudah sekali berekspresi. Menitikkan air mata salah satunya. Kalau untuk menjadi dewasa itu berarti tidak menangis lagi. Saya memilih menyerah saja. Daripada itu, sepertinya lebih enak kalau kita menjadi pribadi yang sadar diri. Sadar diri mengenai kapan patutnya mengekspresikan diri selepasnya atau ditutupi sama sekali. Bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan dan akan dilakukan.

Terkait dengan pesta teman saya itu. Di tengah acara, sang pembawa acara mengundang para cowok untuk hadir di depan dan mengikuti permainan yang berhadiahkan benda berteknologi. Para cowok itu kemudian diberikan peraturan yang mengharuskan mereka menanggalkan pakaian, sampai tinggal satu pakaian (dalam) saja yang dipakai. Dewasa macam apa itu? Merasa terjadi ke-tidakkonsisten-an sang penyelenggara pesta. Terlalu dewasakah dia sampai-sampai saya tidak mengerti nilai dasar penanggalan baju itu.

Saya menyerah. Bingung mau menyatakan apalagi. Yang pasti, saya masih mau meloncat-loncat jika saya mendengar musik yang saya suka. Menangis ketika tidak ada cara lain untuk mengekspresikan rasa di hati. Tertawa lepas pada saat teman-teman terbaik berada di sekitar. Dan terdiam ketika kepala ini harus beristirahat untuk berpikir demi menikmati waktu yang  berjalan.

Rabu, 23 Desember 2009

Handuk oleh Catylac

Kali ini saya tertarik dengan iklan Cat Tembok catylac berhadiah handuk.

Iklan itu menceritakan seorang ibu yang mengundang teman-temannya untuk arisan di rumahnya. Dia berharap teman-temannya menyukai cat rumahnya yang baru. (Bagi saya) Kejanggalan pun kemudian dimulai.

Anggota keluarga lainnya pun bersiap. Suaminya muncul, selesai mandi dan ada handuk Catylac dikalungi di lehernya. [Tulisan Catylac pun terbang dari helaian rambut itu]. Setelah itu, dia menghanduki anak perempuannya yang baru selesai mandi dengan handuk Catylac. [Lagi-lagi, tulisan catylac terbang dari handuk].

Ketika teman-temannya datang, barulah ada adegan yang lebih menunjukkan 'rasa kagum' terhadap cat. Seperti ketika sang anak berlari dan menghampiri ibunya dengan membawa gambar berwarna-warni hasil karyanya. Entah mengapa, adegan selanjutnya tidak begitu melekat di hati. Sayangnya, saya tidak sempat melihat iklannya lagi sebelum saya publikasikan pendapat saya ini.

Adegan terakhir, sang anak yang diselimuti oleh handuk dan ditutup oleh sekaleng Cat Tembok Catylac dengan setumpuk handuk disampingnya. Temanku berpendapat, yang juga saya setujui tentunya, kalau adegan terakhir ini seperti iklan pelembut pakaian. Biasanya handuk digunakan untuk memberikan kesan lembut.

Pada akhirnya, saya bingung. Apakah saya melihat iklan cat tembok? Atau iklan handuk?

Rabu, 16 Desember 2009

Seperempat Abad

Alias dua puluh lima tahun. Atau lebih tepat 25 tahun. Jadi teringat pelajaran Bahasa Indonesia. Kalau angka disebut lebih dari dua kata, maka dituliskan dalam angka. Namun, jika hanya dua kata, maka ditulis dengan kalimat. Lain lagi kalau angka tersebut kita gunakan dalam awal kalimat, maka harus dituliskan dengan kalimat.

Sebagai contoh indahnya pengaturan bahasa Indonesia,
Seribu sembilan ratus empat puluh lima, Indonesia merdeka.
Karakter yang terlalu panjang itu dapat diperindah dengan cara pemilihan kata yang tepat.
Pada 1945, Indonesia merdeka.

Wow!  Menyenangkan, ya?

Sayangnya, saya tidak mau membicarakan mengenai kaidah penggunaan bahasa Indonesia. Saya mau mengumumkan bahwa hari ini saya telah diberikan kehidupan selama 25 tahun oleh Tuhan saya, Allah SWT. Alhamdulillah.

Apakah hari ini berbeda dengan hari-hari lainnya? Rasanya sama saja. Biasa-biasa saja. Bangun pagi. Terdiam beberapa saat di kasur sambil menikmati cahaya matahari yang tembus melewati jendela. Aku masih bingung. Inginkah aku merayakan hari ini? Entah.

Biasanya kalau teman-temanku yang sudah melewati umur ini, mereka semacam merasa ditegur oleh waktu. Toh, itu hanya angka. Aku hanya ingin yang lebih baik dari hari ke hari. Itu saja.

Sabtu, 05 Desember 2009

Kisah Jakarta (bagian 2)

Assalamualaikum
maaf mengganggu sebentar perjalanan anda
...
...
...


Andaikan saja aku dapat mengingat lagu yang lelaki kecil itu nyanyikan. Aku terenyuh. Mukanya bukan peminta tapi pejuang jalanan bagi hidupnya. Suaranya parau memunculkan imajinasi akan kehidupannya yang begitu keras yang terpaksa ia jalani. Dia menyanyi, dia menatap ke luar jendela.

Aku mengeluarkan selembar uang seribu rupiah dari kantong belakang. Aku berikan kepadanya. Entah kapan terakhir kali aku memberikan uang kepada orang yang tidak aku kenal.

Adik, maafkan jika aku berdosa pada dirimu. Tapi Tuhan, aku ingin dia segera mati agar dia tidak perlu terlalu lama menjalani hidup di dunia yang penuh perjuangan.

Kisah Jakarta (bagian 1)

Kisah jakarta kali ini.

Alasan utama aku datang ke jakarta ini adalah sepenggal cerita yang hilang dari seorang teman. Kepingan teka-teki yang belum terjawab. Ada apa dengannya.

Walau tidak berjalan sesuai rencana, kami memulai menghabisi waktu bersama di tengah hari. Bercerita mengenai keseharian aku dan dia belakangan ini dengan bumbu-bumbu kisah orang-orang di sekitar kami. Akhirnya terasa lengkap. Namun, hari ini belum berakhir.

Film New Moon mengisi malam kami sebagai pengganti makan malam berkalori. Kami duduk di bangku G 16 dan G 17. Angka G 16 seperti merepresentasikan aku di bulan desember ini. Senangnya. Ditambah, rasa kenyang dan ketagihan melihat badan Jacob yang luar biasa menggiurkan. Tidak sabar untuk Eclipse.

Minggu, 29 November 2009

(Lagi) Pikiran Tengah Malam

Pagi tadi, berbincang -via teks- dengan seorang teman lama. Hanya basa-basi awalnya. Entah apa yang menggiring perbincangan itu, lalu muncullah perbincangan yang sedang banyak dibicarakan oleh orang-orang umuran saya. Pernikahan.

Dia bilang, lo jangan ampe nikah hanya karena status, bul.
Gue tampang mengejar status gitu? Kalau cuma status, hari ini juga bisa langsung ganti status di situs sosial
Bukan gitu maksud gue. Gimana ya ngomongnya?
Maksud lo, 'menikahlah ketika lo udah siap secara mental dan fisik. Bukan karena orang lain mempertanyakan kapan lo akan menikah'. Gitu?
Benar!

Sedikit bingung pada akhirnya, apakah itu petuah yang dikeluarkan oleh teman saya atau saya sendiri. Lain lagi dengan berita yang disampaikan oleh teman-teman di masa SMA, setidaknya 3 orang akan menikah bulan depan. Menyenangkan? Tentu saja. Teman-teman terbaik saya juga akan menikah tahun depan, setidaknya dua orang yang sudah pasti, satu lagi dalam tahap menetapkan hatinya. Saya kapan?

Waktu yang tepat semoga akan datang. Sesegera mungkin? Asalkan ia datang pada waktunya. Sering juga mendengar cerita kalau seseorang menginginkan sosok yang telah ia buat kriterianya. Secara fisik, harus ganteng, putih, atau tinggi. Secara personal, orangnya menyenangkan, periang, atau pencemburu. Apapunlah. Terserah kriteria apa yang ingin dibuat. Kalau saya? Tidak pernah bisa menyebutkan sosok/kriteria pria seperti apa yang saya inginkan.

Suatu waktu lalu, saya pernah berpikir mungkin saya harus katakan padanya kalau kita hanya berteman. Lalu, pikiran lain muncul lagi. Kalau orang yang menikah adalah untuk memiliki teman dalam hidup, gimana tuh? Berarti pikiran saya itu menjadi menyatu. Hanya saja harus ada hal-hal istimewa luar biasa agar seseorang bisa menjadi teman dalam hidup sehingga menjadi pembeda dengan teman pada umumnya.

Dengan segala macam omongan dan apapun yang dibicarakan dalam tulisan kali ini yang tidak memiliki alur. Saya iri dengan teman-teman yang telah menikah dan  akan menikah. Saya akan bahagia jika tiba waktunya.

Selasa, 24 November 2009

(500) Days of Summer

These last days, me and my friends was watching movies. One of it was (500) Days of Summer. For your information, it was a movie about boy meet girl, it was not a love story. It was fun. Summer was very attractive and loveable person.

Then, my friend re-watched it. These were the quote


most days of the year are unremarkable
they begin and the end
with no lasting memories made in between
most days have no impact on the course of a life



*Because i made the tittle in English, made me want to write in English too. Hah! not cool.

Senin, 16 November 2009

Gembar-Gembor KPK

Muak.

Sampai-sampai apatis terhadap pemberitaan di media massa. Seperti kata teman saya, media massa selalu memiliki kepentingan untuk pemberitaan dan siaran yang mereka tayangkan. Benar adanya. Bisa saja kepentingan pengumpulan pundi-pundi kekayaan atau bahkan menjadi alat politik bagi sekelompok orang.

Apa gerangan yang membuat saya muak? Mau menerka? Tidak perlu, lah. Perlu diingat, ini merupakan pendapat yang sangat subyektif oleh orang yang sangat awam dengan dunia perpolitikan di Indonesia dan penegakan hukumnya. Saya muak dengan gembar-gembor Bibit-Chandra.

Saya memang bukan orang yang selalu mengikuti perkembangan berita tentang dua orang tersebut di media massa, apalagi sampai menanyakan langsung kepada orang yang bersangkutan. Tapi, tolong, lah. Yang benar saja!

Belum apa-apa orang sudah heboh membuat petisi secara online untuk menyatakan '10.000 Facebookers Dukung Bibit-Chandra'. Belum lama ini bahkan diperkuat dengan 'Gerakan dua juta dukung Bibit-Chandra'. Ada yang salah dengan itu? Tidak ada. Hak tiap orang untuk menentukan mana yang mau mereka 'klik' confirm atau ignore. Sah-sah saja. Tapi pernahkah terpikir tentang masyarakat Indonesia lainnya yang belum menikmati energi listrik sehingga mereka dapat mengonsumsi televisi? Apalagi mau turut mendukung melalui internet dengan dukungan komputer atau notebook. Seberapa nyata gerakan itu mewakili SEBAGIAN BESAR suara rakyat Indonesia.

Mari dibaca mengenai kebingungan saya ini (kok dari muak jadi bingung ya?). Pertama-tama, saya tidak mengenal mereka. Kedua, mereka itu siapa? Kalau Anda-Anda mau menjawab, 'Aduh, masa iya ga tau sih?!' Berarti Anda benar! Karena saya memang tahu, mereka saat ini adalah Pimpinan KPK non-aktif karena menjadi tersangka. Ketiga, memangnya apa pengaruhnya keberadaan mereka terhadap kita yang, notabene, masyarakat Indonesia.

Perkara yang diusut oleh lembaga KPK adalah perkara yang 'harusnya' menyangkut nominal di atas 1 Miliar Rupiah. Kalau memang angka sebesar itu, 'apa iya kita akan mendapat jatah minimal 100 juta tiap rakyat?'. Toh, kembali lagi ke kas negara (secara ideal). Apakah itu adalah uang yang berada di kantong kita dan diambil secara paksa? Tidak. Uang itu bisa saja berasal dari pihak swasta yang mencoba membagikan rezekinya kepada pejabat negara atau kas negara yang disalahgunakan oleh yang berwenang tanpa mendahulukan kepentingan rakyat banyak. Maksud saya, kalau dua orang tersebut ini ternyata bersalah dan harus menjalani hukumannya, kita masih memiliki kemungkinan sangat besar untuk menikmati hari tanpa ada gangguan yang berarti.

Gambaran lainnya, kalau dua orang tersebut tidak menjabat lagi, akankah muncul 2.000.000 orang tiba-tiba menjadi pengangguran? Tidak. Pengangguran dengan angka tinggi karena kurangnya lapangan pekerjaan dan masih kecilnya wacana menjadi pengusaha dibanding pegawai (dan ini isu yang berbeda lagi). Jadi, saya bingung hingga termuak-muak kenapa masyarakat Indonesia yang tampak di media massa seperti geram sekali dengan pengusutan kasus Bibit-Chandra.

Mereka hanyalah orang yang bernama Bibit dan Chandra. Lalu, sanyup-sanyup terdengar, "Git, mereka itu orang KPK yang seharusnya membantu Indonesia dari gerogot korupsi". Siapapun yang bekerja di lembaga KPK, sudah pasti, harus membantu penegakan hukum terhadap orang yang korupsi, menerima suap, atau apapun itu di atas 1 Miliar Rupiah, tanpa kecuali. Dengan padatnya Indonesia oleh manusia-manusia yang hidup di dalamnya, apakah hanya mereka yang layak duduk di jajaran pimpinan KPK? Kalau memang begitu, berarti Indonesia terlalu banyak orang bodoh dong.

Ada yang berpendapat kalau ini adalah cara untuk melemahkan gerak KPK karena mereka menggoyangkan orang-orang yang memiliki pengaruh dengan semena-mena. Kalau memang itu benar, berarti KPK terlampau lemah, dong. Diambil dua orang saja, lembaga itu sudah sulit untuk meneruskan hidupnya. Saya berusaha berlapang dada berpendapat kalau (semoga saja) yang berada di lembaga KPK mayoritas adalah orang-orang dengan penuh kebijakan dan itikad baik untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Jadi, ini bukan suatu halangan yang besar untuk mereka mewujudkan kinerja terbaik mereka.

Dengan segala hormat, bukannya saya apatis terhadap terbebasnya mereka dari dakwaan tersebut. Alangkah baiknya, kalau kita membiarkan hukum menjalani prosesnya. Sebagai kompensasi atas kesabaran kita semua, kita dapat menyaksikan mana yang benar dan mana yang salah. Mari kita gunakan akal sehat tanpa ada jajahan dari pihak (entah media, saya atau teman terdekat Anda) yang berdiskusi dengan Anda mengenai ini. Sehingga, kita juga dapat bertanggung jawab atas pendapat kita sendiri.

Friksi-friksi yang terjadi di lembaga-lembaga penegak hukum di Indonesia mungkin memang ada. Kita, yang biasa-biasa ini, juga seringkali memiliki perselisihan. Bisa perselisihan terbuka, bisa juga laten. Teman saya juga mengingatkan, Indonesia ini Negara Hukum, Git. Makanya kita harus membiarkan proses hukum itu berjalan.





* notabene itu apa ya artinya? sekitar saya tidak ada Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Sabtu, 14 November 2009

Endah N Rhesa

Benar-benar merasa bahagia dapat menghabiskan waktu menyaksikan orang menampilkan kemampuan mereka dalam musik, sampai-sampai mereka sendiri tenggelam di dalamnya. Dengan tambahan, kita pun tenggelam dalam rasa kita sendiri. Indahnya.

Sudah lama saya membeli CD Endah N Rhesa. Hal utama yang mendukung saya untuk membelinya adalah cover-nya yang lucu dan harganya yang masih bisa dijangkau. Jadi, saya memang "judging something by its cover". Untungnya, gaya musik mereka sesuai dengan selera saya. Itu menjadi bonus kemudian.

Minggu, 8 November 2009 bertempat di Sasana Budaya Ganesha. Saya dan teman-teman saya lainnya mendatangi acara musik Symphonesia 2009 yang merupakan rangkaian acara dari Symphonizing the ASEAN. Sisi baik acara tersebut dilaksanakan adalah untuk menyosialisasikan tentang upaya ASEAN dalam mencapai ASEAN Community di tahun 2015. Saya mencium bahwa ASEAN mencoba mengikuti jejak Uni Eropa dan membentuk ASEAN Community adalah langkah pertama. Cukup mengenai ASEAN. Mari kita kembali ke acara musik.

Mulanya agak menyebalkan karena pos-pos yang dilewati terlalu banyak dengan jeda yang aneh sekali. Pertama, kita melewati gerbang masuk dengan penjagaan dua orang. Lalu melangkah cukup panjang. Kedua, tiket kita disobek. Beberapa langkah kemudian, tas kita digeledah. Ketiga, setelah melangkah beberapa lagi, tiket dan leher dicap. Ini belum juga masuk ke dalam venue-nya.

Di pintu masuk venue, kita diperiksa lagi. Pertama, pemeriksaan tas (lagi). Lalu, diperiksa hologram tiket. Ketiga, cap UV di anggota badan. terakhir, pemeriksaan tiket (LAGI!!!) bagian cap UV. Baru setelah hal-hal menyebalkan itu, kita dipersilakan untuk duduk di deretan kursi. Saya pikir kita akan berdiri sepanjang waktu tapi ternyata duduk d kursi. Duduk dibanding berdiri ternyata bukan sesuatu yang buruk.

Setelah menonton permainan Angsa dan Serigala, muncullah duo yang figurnya merupakan misteri bagi saya, Endah N Rhesa. Yeah! Akhirnya saya bisa mengetahui wajah-wajah mereka karena selama ini saya membentuk imajinasi bagi sosok Endah. Seorang gadis berkacamata yang berambut panjang dan memiliki gaya yang sangat otentik, seperti orang yang waktu itu pernah nge-jam bareng Syaharani ketika acara Big Band di Sabuga sekitar tahun 2005-2006. Ternyata, orangnya berbeda walau penampilan mirip dengan imajinasi saya. Kalau Rhesa, mengingatkan saya dengan seorang yang saya panggil 'Om' karena keriting-kurus-kacamata dan yang pasti HIDUP. Hahaha. Bodohnya saya, ternyata di lembaran buku CD mereka memang ada wajah mereka dilukiskan. Harusnya saya tidak perlu repot-repot berimajinasi.

Bagi saya, mereka membuat permainan musik mereka bagaikan mainan yang akan selalu mengembangkan senyum di bibir mereka. Lucu sekali. Bass Rhesa dan vokal Endah kadang saling sahut layaknya bercanda dalam bahsa yang tidak seperti orang kebanyakan. Satu-dua lagu diberikan prolog tentang kisah lagunya. Entah nyata seperti itu, atau kisah itu adalah pengandaian paling menyenangkan untuk didengar oleh kita semua.

Kalau tidak salah, lagu yang berjudul "I don't remember". Begini kisahnya,
Seseorang ini melihat seekor anjing, tiap kali ia ingin menangkapnya si anjing pergi. Bingung. Kenapa ya? Kenapa anjing itu begitu melekat di ingatannya? Tiba-tiba! Ingatannya kembali pada suatu masa. Dulu, ia menyelamatkan anjing ini dari laju kencang truk dan itu yang menyebabkan ia mati, dan berwujud seperti sekarang ini.
Wow! Dramatis sekali.

Sebetulnya, 'i'm not a music person' (ini kalau jadi bahasa Indonesia apaan ya?). Dari sebelas lagu yang ada dari Endah N Rhesa, yang saya sering dengarkan hanya satu lagu yang berjudul, 'When You Love Someone'. Alasannya adalah menyenangkan ketika mendengar, 'if you love someone/ just be brave to say/ that you want him to be with you...' dan seakan-akan sosok pria dalam lagu itu adalah imajinasi yang tidak dapat diraih. Lirik berikutnya yang kemudian, setelah berdiskusi dengan teman, kurang dapat disetujui. 'when you hold your love don't ever let it go/ or you will lose your chance to make yor dream come true'. Kalau setuju dengan liriknya, monggo. Kalau tidak, alasan saya karena seakan-akan kita akan mengekang kebebasan pasangan kita, dengan bahasa lain, kalau kita sampai menutupi kebahagian orang yang kita sayangi maka kita akan menjadi orang yang jahat.

Apapun. Apapun yang sudah saya tuangkan, semoga memberikan masukan terhadap buah pikiran. Salute buat Endah N Rhesa! (12 November 2009, saya menonton mereka lagi!).

Rabu, 11 November 2009

Tukang Nguping

Kali ini kisah tentang pengupingan pembicaraan orang. Lagaknya spionase padahal tukang nguping biasa. Ini sebetulnya sering sekali terjadi di sekeliling kita, khususnya untuk kita sang penikmat fasilitas umum atau transportasi umum. Untuk sekarang, mengambil kejadian di angkutan kota Bandung jurusan Cicaheum-Ciroyom 07.

Ketika saya menaiki kendaraan ini, tidak ada yang terlalu istimewa. Biasa saja. hanya orang-orang dengan tujuannya masing-masing. Setelah beberapa lama, dua orang gadis di depan saya mulai menarik perhatian karena yang satu menceritakan tentang si tokoh Akang berkali-kali dengan interpretasi yang macam-macam.

Ada pula perbincangan ketika Gadis 1 menceritakan bahwa si Akang pernah menanyakan tentang status pacarannya. Atau bahkan ketika si Gadis 1 merasa bingung bagaimana caranya membuat si Akang bercerita tentang dirinya sendiri apalagi pernah suatu ketika si Akang berkata kalau ternyata dia tidak kuliah. Walaupun begitu, Gadis 1 tetap ingin mengenal lebih si Akang karena ia menginginkan sesuatu yang benar. Gadis 2 pun memberi saran untuk menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan nalar. ini yang pada saat itu saya bingung tapi tetap saja saya putuskan untuk mendengar dengan baik.
Gadis 2 : Lo tanya aja tentang kesulitan untuk ketemu ma dosen pembimbing lo.
Gadis 1 : Gimana dong nanyanya?
...
Gadis 2 : Kenapa ga tukeran no telpon aja?
Gadis 1 : Ah, ga ah. Gue ga mau segitu antusiasnya.
...
"Waktu itu gue pernah pas chatting bilang gini..."
Gadis : Besok mau ketemu ma dosen pembimbing nih. Mana dikasih tugas lagi. Eh, jadi curcol deh.
Akang : Wah! Asyik dong!
Gadis : Kok asyik sih? Emang curcol apaan?
Akang : Ketua.
Dan dimulailah interpretasi oleh para gadis, yang perlu diketahui, seringkali terjadi di gadis manapun. Termasuk saya.

Gadis 1 : Si akang itu menganggap gue jadi ketua dari proyek yang dikasih sama dosen pembimbing gue.
Gadis 2 : Iya gitu? Tapi kayaknya maksudnya beda deh.
Gadis 1 : Emang gimana? kayaknya gitu deh.
...

Lama kelamaan sepertinya saya bisa menuliskan secara kronologis apa saja yang terjadi dengan Gadis dan Akang. Bahkan, saya bisa tahu bahwa mereka berkenalan pada Oktober tahun lalu. Si Akang berada di Malang, yang masih juga mereka ragukan, entah kenapa. Yang keterlaluannya, si Akang memberitahu bahwa Ucil (mohon dikoreksi jika salah karena bisa saja pendengaran saya tidak terlalu baik) itu bahasa jawa untuk cucu. Gadis 1 pun segera mengirim pesan singkat ke salah satu rekannya yang bisa berbahasa Jawa untuk mengecek kebenarannya.

Argh! Mengesalkan sekali! Rasa-rasa ingin bilang kepada dua gadis ini, "Mbak, maaf ya. Dari tadi ceritanya terdengar oleh saya. Coba nonton 'He's Just Not Into You' deh. Mungkin bisa ketahuan cowo mana yang beneran mau sama lo." Hahaha. Itu terlalu kasar. Kalau emang itu Akang pura-pura bisa bahasa Jawa, apa salahnya? Kalau Akang ternyata emang berbahasa Jawa, apa masalah lo? Begitu doang heboh.

Suatu cerminan, apakah saya pernah seperti itu? Seberapa parah? Apakah dulu sampai terbawa mimpi untuk menyusun skenario pembicaraan? Padahal itu hanya tameng untuk mengenal seseorang. Menjadi menakutkan bagi saya. Terkadang kita mengenal orang tidak sepenuhnya atas penghargaan terhadap dirinya tapi kita menyelubunginya dengan imajinasi dan interpretasi kita terhadap dirinya. Hal tersebut yang menjadikan kita terpenjara oleh pikiran kita sendiri.

Sebagai ilustrasi,
Gadis A : Bo! Kemaren si Ganteng sms gue.
Gadis B : Oh, ya? Sms apa?
Gadis A : Ga sms juga sih tapi balesannya beda dari biasanya.
Gadis B : Beda gimana?
Gadis A : Biasanya kan dia kalau bales sms tuh pendek banget. Satu kalimat. Malahan, kalau bisa satu karakter deh.
Gadis B : Teruss...
Gadis A : Kemaren dia bales sampe full caracther. 160. Hihihi.

Gubrak!
Padahal baru kali itu aja si Gadis A sms si Ganteng di saat Ganteng sedang rehat dari rutinitas kerjanya yang padat.



*nama Akang ini hanya untuk merepresentasikan pria yang mereka bicarakan.

Sabtu, 07 November 2009

Pameran Jerry Aurum


Kadang kita memang perlu penyegaran terhadap rutinitas yang kita jalani. Tepat pada hari Minggu, 1 November 2009, aku memutuskan untuk "bermain" di jakarta. Alasan utama karena beberapa hari yang lalu melihat tayangan televisi yang membicarakan tentang pameran dan peluncuran buku oleh Jerry Aurum. Nama yang cukup familiar. (walau belum pernah berkenalan. hahaha.)

Ruang pamernya memang di tempat publik, jadi ramai selalu, baguslah. Menyenangkan dan membuat iri kalau karya foto seseorang dihargai dan dinikmati banyak orang. Dari sekian banyak orang, ada dua orang yang berbincang dan berada di sekitarku. Hal yang membuat gatal adalah perbincangannya.

"Fotonya biasa aja deh."
Iya. Ini sih cuma gara-gara yang difotonya orang terkenal.
"Bener. Fotonya biasa aja."

Dengan penuh segala penghormatan atas apresiasi orang-orang tersebut atas karya yang dipamerkan. Tetapi, pernahkah mereka berpikir bahwa meminta puluhan orang ternama untuk terekam dalam foto yang dipamerkan dan dijualbelikan dalam bentuk buku adalah hal yang tidak semua orang dapat lakukan? Apa jadinya kalau yang difoto adalah orang yang memiliki kamar sebagus para orang ternama itu (seperti foto nirina zubir, siapa sih yang ga punya sprei segala putih) tapi orang itu tidak dikenal secara luas? Bukunya susah deh dijualnya!

Kalau didalamnya ada orang ternama yang karyanya mereka (dalam bentuk musik, bisnis, atau yang lainnya) telah diakui secara luas, bisa jadi target pembeli bukunya adalah para fans-fans mereka yang belum pernah melihat ekspresi bebas (mungkin) sang idola di tempat nyamannya.

Lalu, bagaimana dengan pendapatku sendiri tentang pameran dan karya Jerry Aurum? Menyenangkan untuk dilihat. Namun, memang tidak sememuaskan itu. (Hal yang ditakutkan ketika mengkritik sesuatu adalah timbulnya rasa di dalam diri untuk membuat yang jauh lebih baik. Padahal diri masih begitu awam atas segala hal).

Penataan pameran fotonya menyulitkan aku, sebagai pengunjung, untuk mengetahui alur emosi dalam tiap foto. Menurut aku, tiap dari orang yang di dalam foto tersebut memiliki kepribadian yang berbeda-beda tapi bisa saja memiliki kemiripan di banyak hal. Nah, kalau aku lebih suka kalau itu ditata dalam satu ruas yang bisa dilihat bahwa hal tersebut disengaja. Misalnya, pengaturan disesuaikan dengan warna dominan dalam foto, apakah hitam putih atau merah atau apapunlah. Mungkin pertimbangannya peletakan foto pameran ini untuk membuat sirkulasi pengunjung lebih luwes atau mengalir sehingga tidak ada kepadatan yang mengganggu.

Kalau mengenai kemampuan teknis dan ketajaman intuisi dalam pengaturan komposisi dan sebagainya, pasti telah terlatih oleh pengalaman. Siapapun yang berkarya, aku mencoba untuk menghargai karya yang mereka ciptakan. Pematangan dari karya tersebut juga merupakan perjalanan sang artis (seniman) mengembangkan kemampuannya.

Salut unutuk Jerry Aurum. Semoga lima tahun mendatang saya juga bisa meluncurkan buku fotografi yang sarat akan budaya.

Kamis, 22 Oktober 2009

Percaya yang Mana?

Malam tadi salah satu teman berkata,
"Lo percaya ga sama tarot? Gue ga percaya."
Memang, kalau kita mau bijak berkata, "Percaya itu sama Tuhan."
Daripada tampak terlalu menjadi orang penghindar kenyataan, saya lebih memilih untuk berkata, "Gue sih lebih percaya kalau Tuhan memberi petunjuk bagi umatNya melalui cara-cara tersendiri sehingga umatNya memiliki gambaran atas kehidupan yang akan mereka jalani."

"Gini deh. Kalau lo diramalkan nanti bakal jadi kaya raya dalam kurun waktu lima tahun, trus lo santai saja menjalani hidup lo. Berarti lo percaya sama ramalan itu dong?", pertanyaan dilontarkan lagi. Entah karena ingin berdiskusi atau dia juga dalam proses menemukan jawaban itu.

Lalu, kenyataannya adalah lima tahun lagi lo tidak kaya. Trus, lo tanya lagi dengan orang yang meramal lo,
'Kok gue ga kaya seperti yang lo ramal sih?'.
Dan si peramal bilang, 'Lah, yang bego sapa? udah gue bilang lo bakal kaya. kenapa lo ga terus berusaha?" Hihihi. Peramal memang menggunakan bahasa pergaulan karena mereka berteman.

Gara-garanya, teman saya berkomentar lagi, "Jadi itu nunjukkin kalau lo ga bisa percaya sama ramalan dong?"
Menurut saya sih, bisa saja dianggap seperti itu, "Seperti yang udah pernah gue bilang, itu salah satu cara Tuhan menunjukkan kemungkinan jalan yang akan dihadapi oleh umatNya. Tetap saja, yang nyata terjadi adalah ketika si aksi/tindakan tersebut dilakukan/terjadi."

Kalau dipikir-pikir, sepertinya kita harus melihat arti kata ramalan sendiri. Baru saja terlintas di pikiran bahwa perencanaan kita dalam hidup itu dapat saja dianggap ramalan. Mungkin ini lebih karena saya menganggap bahwa jika mengenai waktu di depan (alias masa depan) adalah kemungkinan. Kepastian hanya terjadi pada waktunya terjadi. Jika telah lampau maka itu menjadi sejarah. Ya. Kemungkinan.

Ramalan atau perencanaan atas sesuatu bisa saja menunjukkan bahwa adanya alternatif jalan untuk kita ambil. Kenapa kita harus takut atas itu? Hal yang utama adalah Keyakinan kita akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, ya kan? Negara Indonesia juga meyakini itu. Sama halnya jika kita berjanji atau yang senapas dengan janji, dianjurkan untuk kita -umat Islam- menjawabnya dengan, "Insya Allah." Hal tersebut menunjukkan bahwa kita mempercayai bahwa setiap hal yang terjadi itu atas kehendakNya, dengan konsekuensi dan tanggung jawab tetap berada di tangan manusia.

Pada akhirnya, menurut saya, diperlukan kebijakan dari tiap individu untuk melihat fenomena atau reaksi masyarakat akan sesuatu yang tidak pasti di masa yang belum terjadi. Kalau cukup bijak dalam menentukan suatu sikap/tindakan dalam kondisi tertentu, semoga saja manusia tersebut mendapatkan anugrah dan cobaan untuk memperkaya hidupnya. Apakah ingin percaya pada mimpi, ramalan, garis tangan, atau ampas kopi? HADAPI KENYATAAN.

Fiuh! Merasa aneh, berputar, dan terbingung sendiri.

Rabu, 14 Oktober 2009

Hati-Hati di Jalan

Jika ingin pergi, pergilah. Jangan biarkan diri ini menahanmu.
Sesungguhnya, kuasa hanyalah milikNya.


Ketika kau tanyakan keraguan, yang dapat kujawab sepenuhnya hanyalah keraguan itu.

Entah apa yang terjadi jika yang kau tanyakan adalah harapan. Mungkin aku juga akan berkata tentang pengharapan atas hidup atau keraguan yang tersembunyi itu akan muncul ke permukaan.

"Dapatkah kau beri kepastian untukku?", begitu ujarmu.
"Tidak", dan bagiku kepastian akan tiba pada waktunya yang tepat. Sebelum itu terjadi, hanyalah kemungkinan.

Haruskah aku berkata,
Sabar ya. Berikan waktu aku berpikir.
atau
Pasti.
Jawaban mana yang kau pilih?

Aku adalah manusia penuh kurang. Menjadi wajar jika dirimu tidak pernah puas. Akupun begitu, tak pernah puas atas apa yang ada pada dirimu. Bahkan, aku tak pernah tahu apakah keberadaanku di dunia ini sesungguhnya memberi arti bagi kehidupan orang lain. Mohon maaf darimu jika kesulitan yang didapat ketika dirimu berinteraksi denganku. Pernahkah hadirku ini memberi arti?

Apakah aku akan menghentikan langkahmu yang begitu pasti ingin pergi dari tempat kita berdiri? Tidak. Pergilah, demi kebaikan. Bagaikan merenda, dia bisa saja menjadi satu taplak meja makan untuk 8 orang atau hanya cukup untuk menjadi tatakan gelas. tinggal pilih proses mana yang ingin dijalani. Kalau untuk menyelesaikan satu tatakan gelaspun tidak terampungkan, jangan harap dapat menyusun rangkaian taplak meja. Maka, teruslah melangkah. Jangan pernah berhenti, jangan pernah berpaling ke belakang. Buat hidupmu menjadi rangkaian benang yang tak pernah putus.

Pada titik tertentu,hidup pernah terasa begitu menyeramkan dan mungkin akan terjadi lagi. Harapanku yang tidak pernah ingin dipadamkan sampai kapanpun, hanya satu, kehidupan yang lebih baik. Bukan hanya untukku, juga untukmu, kalian semua, dan mereka. Dengan begitu, kebahagiaan akan terasa kehadirannya. Masih sering terlihat pelangi setelah hujan lebat, kan?

Aku akan tidur ketika kau pergi agar semua dapat terlepas oleh dongeng mimpi yang indah. Bayanganmu akan lekang di alam mimpiku.

Hati-hati di jalan.

Minggu, 11 Oktober 2009

Umang-Umang Penuh Warna



Rekamannya mungkin terlalu pendek untuk bisa diperhatikan apa yang terjadi di dalam box tersebut. Box itu berisikan umang-umang yang rumahnya telah diwarnai dengan sedemikian kreatif. Rajin banget ya? Tangan mereka waktu mewarnai itu digigitin ga ya?

Sempetin jalan-jalan di Pasar Minggu Gasibu.

Tonijack Indonesia!

Semalam, kunikmati waktu dengan sendiri. Alasan utamanya adalah bosan dengan diri sendiri yang sepanjang siang berada di rumah.

Tindakan awal untuk penyelamatan perut adalah mengisinya dengan karbohidrat berwujud nasi, pastinya. Dasar Indonesia. Beberapa hari yang lalu membaca pemberitaan tentang gugatan Pak Bambang N Rachmadi terhadap McDonald's Inc. (atau international yah?). Hal tersebut kemudian yang berakibat berubahnya bendera alias merek makanan cepat saji di 13 gerai di Indonesia. Tonijack's, dengan slogan, better than that one. Temanku ada yang komentar, slogannya sangat menyindir. Ketika ingin memesan, sedikit bingung karena menunya berbeda dengan yang sudah familiar bagi kita. Ada satu menu yang tampak menggugah selera, Blackpepper Burger. Bisa saja itu super duper biasa saja makanannya tapi ketika itu superb menggoda. Namun, berhubung ini urusan perut - bukan hanya lidah-, aku memilih untuk menu bernasi.

Benar-benar luar biasa! Ini namanya buru-buru banget deh! Seperti suatu buku pernah bilang, urgency only arrive when you do. Kertas buat nampan hanyalah kertas putih kosong. Kertas bungkus nasi hanya cukup di cap saja, tulisan merek makanan cepat saji itupun tersamar. Gelas minuman plastik see through, bukan gelas styrofoam berlabel merek seperti umumnya.

Ditambah lagi, pembagian gelang gratis bagi anak-anak. Dengan menunjukkan gelang tersebut, si anak bisa memperoleh ice cream cone (ada pilihan lain sepertinya. tapi saya lupa). Untuk pengguna provider CDMA Esia, cukup menunjukkan layar hp, maka akan mendapatkan sesuatu (juga lupa). Promo yang lumayan.

Dosen pemasaranku pernah bilang terkadang beberapa bisnis dijalankan bukan untuk menguasai pasar secara langsung. Namun, untuk mengambil market share secara perlahan namun pasti. Seperti kita memakan satu potong kue tart, akan lebih baik jika kita memakannya sedikit demi sedikit.

Petualangan dilanjutkan dengan menikmati waktu di Starbuck Coffe. Hmm... Kalau dipikir-pikir, kok seperti menjadi korban penjajahan modern bangsa Amerika ya? Bukannya memilih warung kopi pinggir jalan atau memilih merek yang berada di bawah bendera merah putih. Bodoh. Sesekali. Kenapa tidak?


Rabu, 07 Oktober 2009

Go Ahead with Aqua

Pada hari beberapa kali menonton iklan produk air mineral dan rokok. Saya komentari yang menyenangkan dulu. Iklan rokok yang menunjukkan hidup bagai hitam dan putih. Rutinitas kehidupan adalah suatu hal yang bisa menjadi sangat membosankan. Bagaikan robot yanhg bergerak secara terprogram. Monoton. Penutupnya yang membuatnya menjadi seru, baik perempuan maupun laki-laki, menggerakkan keinginannya untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Tanpa merasa terbebani.

Iklan air mineral nih, kenapa membingungkan, ya? Ini iklan air mineral atau iklan kesehatan. Diakui memang, bisa saja dari pihak marketing dan atau advertising membangun imej terhadap produk tersebut agar berkaitan dengan kesehatan. Ibu hamil dan minum air mineral? Siapapun di dunia ini jika tidak meminum air, bisa terkena penyakit. Kalau seseorang itu selalu minum soda, dia mungkin terserang diabetes dan pengeroposan tulang. Atau kita harus menggiring ini dengan konsep the power of water. Terserahlah. Bisa juga karena orang tua kita sering berpesan, kalau sakit, banyakin minumnya.

Kurang lebih seperti itu.

Senin, 28 September 2009

City of Angel

Film lama yang belum sempat secara sadar kutonton. Sepotong demi sepotong aku menyaksikan film City of Angel karena diselingi dengan melakukan aktivitas lainnya. Semenjak dulu dinyatakan bahwa ini adalah film cinta yang menggugah. Itu benar.

Konsep yang menarik, percintaan antara manusia yang penuh rasa dan malaikat yang buta akan rasa. Walau keberadaan malaikat yang seperti ini dapat saja memunculkan kontradiksi lainnya. Maka, aku akan menceritakan tentang pendapatku ketika menonton film ini.

Apa jadinya jika kita mencintai orang tanpa harus didahului dengan indra perasa lainnya, hanya dibutuhkan suatu perasaan yang kuat, aku cinta kamu. Walau dirinya telah menyakiti kita, itu pun tidak terasa karena kita buta akan segala rasa, kecuali satu (cinta). Kebutaan ini yang membuat kita menjadi gila. Pada satu titik, aku butuh rasa. Rasa yang membantu kita untuk mewarnai hidup dan cinta.

Biarkan aku merasakan diriku terasuki oleh dirimu dan izinkanlah aku menyentuhmu agar kau dapat merasakan apa yang aku rasa.

Itu yang luar biasa menyentuh. Ketika sang malaikat merasakan setiap pengalaman pertamanya dalam merasakan segala hal. Keindahan terasa nyata. semua pun menjadi nyata.

Minggu, 27 September 2009

Kisah Ubur-Ubur

Beberapa hari yang lalu, menghabiskan waktu bersama keluarga. Laut biru adalah destinasi yang menggoda. Dengan berbekal peralatan mancing dan skin dive. Kami pun memulai petualangan.

dan hal yang tak terlupakan adalah
SENGATAN UBUR-UBUR.

ketika disengat, tidak langsung sadar bahwa itu adalah sengatan ubur-ubur. Aku juga tidak berani untuk menyentuh bagian tubuh yang tiba-tiba panas untuk menghindari tindakan gegabah. Setelah memerhatikan beberapa saat, ada seperti benang (yang ternyata bukan urat) merah transparan menempel. Ketika diangkat, panasnya pun sedikit berkurang. Ingatan pelajaran dasar menyelam tentang biota laut yang berbahaya pun datang, ini ubur-ubur api yang Pak Sinek pernah bilang.

Keinginan mengumpat juga tidak terlalu muncul karena tidak sesakit itu juga. Menangis juga buat apa. Rasa-rasa kesal hanya sesekali dilampiaskan dengan teriakan sesaat. Selama dua  hari bertahan. Berharap bahwa memar ini segera sembuh. Ternyata tidak juga.

Beberapa alternatif pengobatan sudah dilakukan. Memberi air perasan belimbing wuluh (asam dianggap dapat mengurangi efek menyebaran racun), ludahan air green sands, pasir, air mineral, dan air seni. Hasilnya? Tiga titik membaik dengan cukup signifikan. Dua titik lainnya, sampai hari ketiga ini masih memar ditambah dengan rasa gatal yang mengganggu.

Sampai pada titik kesal dengan pemberian salep (atas saran dokter keluarga) yang tidak juga terasa efeknya. Akhirnya, dicari alternatif lainnya. Mengompres tempat sengatan dengan daun Saga Rambat. Langkah terakhir, mengoleskan dengan minyak kelapa yang sedikit panas. Hasilnya? Terus berusaha dan semoga badan ini tetap berjuang melawan racun ubur-ubur.

Didorong dengan rasa penasaran, aku mencari tahu seperti apa wujud si ubur-ubur peninggal jejak di tubuh ini. Kata kunci pertama adalah ubur-ubur api. Dengan memperhatikan gambar-gambar yang muncul di hasil pencarian, nama ubur-ubur itu adalah Chrysaora quinquecirrha. Kalian yang membaca bisa mencari gambarnya di internet. Menyeramkan.

Ada yang menarik, ketika membuka http://lifeinthefastlane.com/2008/12/box-jellyfish-chironex-fleckeri/ terlihat kalau di pinggir pantai (entah dimanapun itu letaknya) terdapat persediaan vinegar (cuka) sebagai obat pertama atas serangan/racun biota laut. Menyenangkan melihat ada pihak yang memperhatikan keselamatan manusia lainnya.

Apapun yang telah diperbincangkan. Semoga sengatan ubur-ubur ini segera membaik.

Rabu, 12 Agustus 2009

Film Merantau

Kemarin, 11 Agustus 2009, saya dan teman saya -penikmat film- menonton Film MERANTAU yang menceritakan suatu proses pendewasaan bagi pribadi dari Minang dari segi spiritual dan fisik. Kata-kata pembuka dari film itu menjelaskan "Apa itu MERANTAU bagi pribadi Minang." [Mohon saya dikoreksi jika terdapat kesalahan.

Menarik. Ketika Yuda melatih keahliannya dalam bersilat di tengah tanah lapang dengan menggunakan senjata tradisional (menurut logika saya tanpa dicek ulang atas fakta lainnya). Di awal film, disajikan bahwa adanya ketertarikan atas Yuda terhadap lawan jenis juga tentang kereligiusan keluarganya, ketika si Amak mengingatkan anak-anaknya untuk menunaikan ibadah shalat. Ini yang menjadikan saya membentuk imej tentang pribadi Yuda. Seorang lelaki Minang yang santun, taat beribadah, menghargai keluarganya, dan berharap yang terbaik akan terjadi.

Bagi yang bersilat atau tertarik dengan ilmu bela diri, mungkin, film ini bisa menjadi referensi. Siapa tau kalian bisa menjadi bintang film selanjutnya. Hebat. Tidak dapat dipungkiri memang pertarungan yang mereka arahkan begitu menarik.

Dengan berat hati saya pun harus menyatakan kekecewaan saya terhadap elemen lain yang diangkat dalam film ini. Apalagi dengan pilihan dialog -yang sesaat- seakan-akan hanya terdiri dari tiga kata, "T*i, Bangsa*, Anjin*."

Seperti ada adegan yang tampaknya begitu ganjil. Ketika Astri melawan Jhoni, si germo, dan menendang alat vitalnya. Itu membuat anak buah Jhoni berpikir dua kali untuk memegang atau menahan badan Astri. Ada pause (jeda) beberapa saat, menurut saya, yang harusnya dapat dimanfaatkan oleh Astri untuk berlari pergi jauh karena sisi kiri dia tidak dihalangi oleh anak buah Jhoni. Tapi dia tidak lari, hanya diam, berdiri dan menunggu kata-kata keluar dari mulut Jhoni. Dia pun kembali di cengkeraman Jhoni.

Hal yang lebih mengganggu, bagi saya, dimana waktu Asti dan Yuda berkenalan dan bagaimana Astri dan Yuda saling mengetahui apa yang mereka lakukan sebagai pekerjaan mereka. Itu amat sangat ganjal. Berkali-kali, banyak sekali pausing di dalam film yang mengganjal sangat. Membuat film itu terlalu lama.

Terserah apapun pendapat saya. Tepuk tangan dan penghargaan luar biasa bagi pencipta film Indonesia! TERUS BERKARYA!

Senin, 15 Juni 2009

Manusia Serakah

saya membaca sebuah artikel tentang Taman Nasional Kutai, dengan berita yang mengejutkan bahwa manusia itu serakah.

Humans Intrude on an Indonesian Park

Published: June 14, 2009

http://www.nytimes.com/glogin?URI=http://www.nytimes.com/2009/06/14/world/asia/14borneo.html

diakses pada 15 Juni 2009

Pikiran Tengah Malam

Sudah lama tidak memakan berita, ketika saya membaca Kompas Online, yang muncul adalah berita tentang seseorang melanggar etika kepresidenan. Sebenarnya, sedikit ada ketakutan untuk mengemukakan pendapat mengenai pihak yang memiliki pengaruh lebih besar dari pada diri ini sendiri karena kasus ibu Prita yang menceritakan pengalamannya mendapatkan pelayanan dari sebuah rumah sakit. Semoga saja aparat/penyidik atau siapapun tidak segegabah itu untuk menangani kasus serupa.

*intermezzo* Tolonglah, hari gini mau ngurusin email dan pendapat orang lain tentang diri lo? hah! itu sih sikap yang menunjukkin banyak kelemahan berada di dalam diri lo. Haha...

Apapun alasannya dan apa yang dilakukan seorang pemimpin haruslah dipikirkan dengan pertimbangan yang bijak. Saya tidak habis pikir. Kalau saya bekerja dalam tim dan kinerja serta jerih payah saya tidak diakui oleh teman tim. Rasanya saya akan marah dan kecewa luar biasa, lalu tidak akan pernah mau bekerja sama dengan orang tersebut lagi. Kecuali ada suatu keadaan yang memaksa.

Harusnya juga ada pikiran tentang kehidupan itu tidak hanya saat ini. Orang tua saya sering mengatakan, "Hati-hati, inget-inget kalau lagi di atas kamu pasti banyak yang mengeelu-elu tapi sewaktu-waktu kamu tidak menjabat atau punya posisi, orang lain bisa aja pergi begitu saja". Singkatnya, carilah teman sebanyak mungkin, musuh lebih suka datang sendiri.

Rabu, 06 Mei 2009

Selamat untuk SBY

Baru saja membaca TIME Magazine. Tertarik akan cara pengambilan foto portrait dari masing-masing tokoh. Penulis tiap dari tokoh merupakan tokoh juga, orang yang kenal dekat akan dedikasi tokoh bersangkutan. Menjadi lebih menarik.

Hal yang paling mengejutkan dan menyenangkan adalah:
Susilo Bambang Yudhoyono tersebut namanya sebagai 100 tokoh yang berpengaruh di dunia...

KEREN GA SIH?!

intinya sih, kita kudu bangga jadi orang Indonesia!

Rabu, 29 April 2009

Rectoverso

aku akan melumat pelan pelan dan perlahan hingga tak lagi berserat dan tanpa perlu lambung sulit memprosesnya.
agar aku dapat menikmati tiap sensasi yang terjadi di setiap alunan nada dan untaian kata dalam buku.

*untuk tetesan air mata pertama pada kisah pertama di dalam Rectoverso.


ditulis pada 28 Oktober 2008 pada 23.12 wib

Sabtu, 11 April 2009

Sesekali Ngobrol Politik

"Tadi milih ga git?"
'Dengan berat hati ga memilih'
"Kok bisa? kan biasanya lo heboh dengan nasionalisme. Kenapa ga milih?"
[Terdiam sesaat. Nasionalisme. Ada benarnya.]
'Ga sempet mo pulang ke Lampung trus walau TPS di deket sekitaran rumah di Bandung ada di depan mata. Apalah daya, kalau nama tak tercantum di DPT'
Semoga saja Indonesia tidak meragukan kenasionalismean diri karena tidak bersuara di pemilihan legislatif kali ini.

Harusnya kita bersuara. Bukan hanya harusnya tapi merupakan suatu keharusan bagi warga negara Indonesia untuk bersuara demi kemajuan negaranya. Beberapa waktu yang lalu juga berbincang dengan seorang teman, "Kalau kita mau merubah sesuatu itu ada dua caranya: dari dalam sistem yang berarti kita menjadi birokrat atau dari luar sistem. Kita tidak bisa terus-menerus menjelekkan pemerintah tanpa beraksi."

Ternyata, anggota keluarga aku juga banyak yang tidak diperbolehkan menggunakan hak pilihnya. Mereka tidak diundang oleh pengurus TPS setempat [yang berarti ini berkaitan dengan KPUD ya?]. Sayang sekali. Ada yang tidak terdaftar di dalam DPT, ada juga yang minta perbaikan nama tapi undangan untuk sumbang suara tidak datang lagi. Indikasi apa yang ditunjukkan? Ini berarti ada suara-suara yang tidak tertampung. Ini saja sekedar jumlah suara pemilih, bagaimana nasibnya suara para rakyat yang disuarakan sungguh-sungguh. Kalau nanti para wakil tidak mempertanggungjawabkannya. Mau jadi apa negara ini?

Lain cerita dari Pakde aku. Dia yang biasa mengurusi proses pemilihan di daerahnya. Ketika aku berkunjung, tugas tambahan dari beliau adalah menuliskan waktu dan tempat TPS. Diapun sibuk mengerjakan yang lainnya, mengecek daftar nama pemilih tetap.
"Orang ini ga serius mengerjakan yang seharusnya. Masa dari tahun ke tahun nama ini terus muncul. Yang meninggal masih terdaftar. Apa susahnya dia untuk minta daftar nama dari kelurahan. Buat apa kita bikin koreksi kalau pemilihan berikutnya dia tidak melakukan revisi yang kita usulkan."

Ada lagi yang lebih seru. Aku baca di Kompas Online berita tanggal Jumat, 10 April 2009, 15:52 WIB (biar afdol http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/04/10/15525634/ketua.kpu.minta.maaf. ) tentang si ketua KPU minta maaf karena prosedur lah yang menyebabkan para rakyat kehilangan hak pilih. Namun, apa benar begitu? Prosedur kan dibuat untuk mempermudah bukannya mempersulit. Kita itu harusnya lebih terbuka atas kemungkinan-kemungkinan baru untuk pemecah masalah.

Kalau kata film-film mah, "Buat apa polisi kalau semua selesai dengan MAAF".

Gimana?
Indonesia masih banyak nih PR-nya. Bantuin yuk!

Rabu, 08 April 2009

welcome Oddie!!



Ini dia penghuni baru di rumah tinggal yang di Bandung. mungkin lebih tepat, rumah tebengan.

namanya ODDIE...

Sabtu, 07 Maret 2009

Tak Pernah Puas

Selalu saja. Ada sesuatu setelah yang ini. Sulit untuk merasa puas. Padahal, yang ini adalah sesuatu yang dinantikan karena dipercaya dapat meningkatkan produktivitas. Berandai-andai kalau saja aku memiliki ini, aku akan dapat melakukan banyak hal. Ternyata, toh, tidak banyak jauh berbeda. Gini-gini aja.

Benda yang [dulu] berteknologi tinggi dianggap dapat mempermudah segalanya. Tentu saja. Orang mengurangi kebutuhannya atas kertas dan menggantinya dengan kebutuhan atas energi listrik. Teknologi itu terus berkembang, yang dulu canggih terlupakan oleh yang baru, terus dan terus. Seperti kotak kecil berteknologi yang kupakai saat ini, nama bekennya Laptop, sebuah notebook. Ketika dia pertama muncul di pasar, dia mungkin sempat menjadi primadona. Sekarang, lupakan saja, orang juga lupa ada tipe seperti ini pernah ada. Ternyata, tekonologi itu kejam.

Sesaat dulu, aku berandai, ketika kebosanan meraja dan fasilitas di sekeliling tersedia, masih saja sulit untuk berkarya. Ini entah hari keberapa aku memiliki benda ini. Tulisan ini menjadi tulisan pertama yang tertulis akibat keyboardnya. Harusnya lebih banyak lagi pikiran yang dapat tertuang.

Keharusan, memiliki akibat ketika kita tidak dapat memenuhi hal tersebut. Maka, ketika ada pikiran ada yang tidak tertuang, apa yang dapat terjadi? Aku rasa, kebodohan. Ya, kebodohan. Ini menjadi suatu akibat karena kita tidak memaksa diri kita untuk melakukan sesuatu.

Aku harus lebih sering berpikir dan berkarya, agar dunia menjadi lebih baik.

Sabtu, 28 Februari 2009

untuk: kamu

akankah ada kata-kata yang cukup?
apakah kata-kata itu akan menjelaskan?
bukankah kata-kata nantinya
semakin membuat permainan kata semakin sulit?

mungkin kau memang pemecah teka teki silang
yang duduk termangu memegang pensil
lengkap dengan kerutan di dahi

memikirkan kata


ditulis 29/01/2006


Rangkaian kata ini tertulis karena keberadaan dirimu di dalam otakku. Tersadarkan bahwa yang terjadi seharusnya adalah suatu pemahaman atas masing-masing diri. Namun, aku masih menunggu kata darimu. Semoga saja.

Senin, 23 Februari 2009

Terlalu Banyak

Membayangkan diri berada di bawah naungan pohon, merebahkan badan di atas rumput. Memejamkan mata. Angin berhembus dengan sejuk yang terdengar hanyalah hasil pergerakan hewan yang ada di sana dan suara-suara mereka yang harmonis. Semakin lama, semakin menikmati ketenangan. Andaikan saja.

Pikiran ini terus berputar tanpa henti. Aku selalu menginginkan jawaban atas segala hal. Apapun itu. Aku tidak suka berada dalam kebertanyaan. Seorang terman pernah berkata, tidak segalanya harus diketahui. Ya, ada benarnya. Kejahatan-kejahatan kecil tidak perlu diketahui. Dunia harus terus memiliki misteri agar kita tiap hari akan terbangun dengan antusiasme untuk menikmati petualangan baru yang akan dijelang.

Aku ingin kata darinya. Rangkaian kata yang dapat menjelaskan juga menenangkan pikiran yang meledak-ledak ini. Aku terlalu banyak memikirkannya. Seakan-akan perlahan pikiran ini akan membunuhku. Namun, dia sulit tuk berkata. Rasanya ingin memburunya dengan sederet pertanyaan. Kalau keadaan justru memburuk? Siapa yang bertanggung jawab? Apakah aku rela berada dalam keterburukan dibanding kebertanyaan?

Harusnya dia tahu kalau aku selalu memunculkan sosoknya dalam pikiranku. Dia juga harusnya tahu kalau aku membenci jika harus seperti ini. Berusaha menikmati waktu berlalu dengan segudang pertanyaan.

Senin, 02 Februari 2009

Rivers Of Love - Lisa Ekhdal

This night
I awoke
Out from dreams
Of tall cascading fontains
Of love
I'm floating like a dove
Covered from above
With fountains of love

And you
Fly with me
Through a scene
Of deep caressing rivers
Of love
Soft as a dove
It's you i'm dreaming of
With rivers of love

Flowing from above
Knowing only of
Rivers of love

Janggal

Rasanya ingin menenggelamkan pikiran sehingga tubuh ini berada dalam kehampaan. Aku takut berpikir dan merasakan apa yang tidak pernah dapat kunyatakan. Semua bagaikan ilusi. Mengapa ilusi ini dapat menghantui perasaan dan pikiranku? Mengapa aku membiarkannya terjadi? Ini membingungkanku. Keberadaannya tidak pernah nyata secara fisik. Apakah itu dapat membenarkan apa yang terjadi dalam perasaanku?

Penuh kesadaran aku berkata dan bertindak. Namun setiap kata yang dia ucapkan dan tindakan yang dia lakukan memberikan misteri. Keterbingungan semakin hadir. Harusnya kita berteman. Namun, jika sesuatu menjadi keharusan pastilah memunculkan konsekuensi yang jelas. Ini tidak. Mungkin seharusnya kita berteman tapi kenyataannya pertemanan yang kita bentuk memiliki suatu kejanggalan.

Aku tidak memberi syarat atas pertemanan. Hanya saja, pikiran itu tidak selalu sejalan dengan perasaan. Aku memang berpikir bahwa aku dan dia hanyalah berteman. Ternyata, perasaan sepertinya tidak sepakat. Lalu, karena perasaan yang berkata dia memiliki kemungkinan yang kecil untuk menjadi ungkapan verbal, terlalu banyak yang tidak terwakilkan. Janggal.

Perlukah aku mengetahui apa yang sesungguhnya dia rasakan? Haruskah terjadi diskusi dengannya? Kesadaran untuk mengetahui apa yang orang lain rasakan, dia dan aku dan juga sebaliknya. Jika ini terjadi, bisa saja menakutkan. Menakutkan untuk pikiran, terlalu banyak bekerja nantinya. Jangan sampai aku menggila.

Tahukah kamu kalau aku menunggu sesuatu terjadi?

[sepertinya perlu sedikit revisi. nanti saja.]

Minggu, 11 Januari 2009

Fotografi Seharusnya

dengan menggunakan sepasang sepatu yang nyaman untuk berjalan.
hasrat memoto yang tinggi.
keinginan untuk terus belajar, dari apapun.
terus
terus
dan terus memoto

http://blog.magnumphotos.com/2008/11/wear_good_shoes_advice_to_young_photographers.html